Grobogan, Dulunya Desa Terpencil di Tengah Hutan Belantara

  Selasa, 02 Oktober 2018   Arie Widiarto
Warga berebut gunungan pada perayaan HUT ke 262 Kabupaten Grobogan, baru-baru ini.(Dok. Pemkab Grobogan)

AYO BACA : Mochid, Pemain Timnas yang Terpaksa Gantung Sepatu di Usia Muda

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Asal-usul nama Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Grobogan sebetulnya sudah tidak asing bagi warga kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah itu. Yakni berasal dari kata 'grobog' atau sebuah kotak peti penyimpanan senjata ataupun perhiasan. Namun ada beberapa versi dari kisah asal-usul nama Grobogan itu sendiri.

Juru Kunci Makam Bupati Pertama Kabupaten Grobogan Adipati Martopuro atau Adipati Puger, Muhammad Ismail (78) mengatakan, pada awalnya Kelurahan Grobogan merupakan sebuah desa terpencil di tengah hutan belantara. Daerah desa terpencil itu sering disebut sebagai Grubuh dan merupakan tempat persembunyian para bandit dan perampok.

"Dulu kala Sunan Kalijaga melewati wilayah itu selalu dibegal. Dan diberikan  grobog itu pada mereka. Namun, setiap kali grobog itu dibuka selalu kosong. Hingga akhirnya para penduduk desa itu bertobat dan menjadi murid Sunan Kalijaga. Dari kejadian itu, kemudian nama wilayah tersebut berubah menjadi Grobogan," katanya, kemarin (1/10/2018).

Namun, ada kisah lain yang diceritakan Muhammad Ismail. Menurutnya, grobog yang menjadi cikal bakal nama Grobogan adalah kotak di mana disembunyikannya Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Mereka disembunyikan ke dalam kotak agar tidak diketahui Belanda saat akan dipulangkan.

"Pada saat itu, Adipati Puger diminta Pakubuwono II untuk memulangkan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa dan Pangeran Mangku Bumi. Saat tiba di daerah Grubuh, warga penasaran dengan isi kotak tersebut. Sebab, dari daerah yang disebut Banawi hingga sampai Grubuh kotak tersebut diboyong," ujarnya.

Dua cerita itu yang menjadi pegangan bagi kakek yang akrab disapa Mbah Mail itu. Versi lain yang mengatakan ''grobog'' adalah kotak penyimpanan hewan buruan tidak dibenarkannya. Sebab, menurutnya pada masa itu tidak ada kotak yang digunakan untuk menyimpan hewan buruan.

Selain itu, dikatakan Mbah Mail, Kelurahan Grobogan dulunya adalah pusat pemerintahan dari Kabupaten Grobogan. Namun, saat masa Bupati Adipati Martonagoro, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kelurahan Purwodadi hingga sekarang. Pemindahan itu ditandai dengan adanya surat Adhel dan Angger Nagari atau Angger Gunung yang memerintahkan bupati waktu itu untuk memindahkan pusat pemerintahan.

"Pemindahan itu terjadi pada 1864. Kala itu Adipati Martonagoro mendapatkan mandat untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Grobogan ke Purwodadi," imbuhnya. 

AYO BACA : Mujiyono, Dalang Wayang Potehi yang Asli Pribumi


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->