>

Masjid Kapal Tetap Asyik untuk Dikunjungi

  Jumat, 12 Oktober 2018   Arie Widiarto
Bangunan Masjid Kapal di Ngaliyan, Semarang. (Arie Widiarto/Ayosemarang)

NGALIYAN, AYOSEMARANG.COM--Meski tak seramai dua tahun lalu ketika mulai booming, namun tempat wisata masjid As Safinatul Najah atau lebih dikenal dengan sebutan "Masjid Kapal" kini tetap menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan khususnya dari luar kota.

Tidak berjubelnya pengunjung ini kini justru membuat wisatawan lebih nyaman untuk datang kesana. Kondisi ini berbeda dengan sekitar dua tahun lalu ketika lokasi ini sempat heboh ketika foto-fotonya tersebar di media sosial. 

Menilik kondisi di dalamnya, bangunan bangunan masjid yang dibuat seperti kapal lengkap dengan dek bahkan kolam kecil yang mengelilinginya seolah sedang mengapung. 

Masjid Kapal Semarang ini berada di Jalan Kyai Padak, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang. Berbentuk kapal yang sangat besar, lengkap dengan jendela berbentuk bulat, buritan, haluan, dan ciri khas kapal lainnya. Masjid ini dibangun oleh KH Achmad, seorang ulama dari Semarang. 

Akses menuju "bahtera Nabi Nuh" ini cukup mudah. Dari Bandara Internasional Ahmad Yani, jalan melewati Pantura ke arah Barat dan berbelok di pasar Jrakah menuju Ngaliyan. Kemudian berbelok ke kanan tepat sebelum Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 A Semarang Kedungpane. Cukup menelusuri jalan sekitar 10 km dan jika mentok bertemu pertigaan, belok kiri menuju Jalan Kyai Padak.

Bentuk kapal terinspirasi dari kapal atau bahtera milik Nabi Nuh AS. Bangunan dengan luas total 2.500 meter persegi ini berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare.

Bangunan Masjid Kapal Semarang dengan enam pintu utama di samping kanan dan kiri ini memiliki 74 jendela berbentuk bulat yang didesain oleh seorang arsitek. Bahan yang digunakan adalah batu bata, sementara di sepanjang pinggir bangunan dibuat kolam agar bangunan benar-benar tampak seperti kapal di atas air.

Penanggung Jawab Lapangan Masjid Kapal, Muhammad Ahmad, mengungkapkan jika pada masa viral pada awal 2016 lalu jumlah pengunjung membludak hingga ribuan orang per hari, kini menurun tajam. Sekarang di waktu normal tingkat kunjungan perhari hanya kisaran 150 wisatawan. 

Menurut dia, bangunan ini izin awalnya untuk gedung pertemuan dan rumah. Namun karena menjadi viral akhirnya berubah menjadi destinasi wisata. Pengurus sengaja membuat bentuk bangunan ini karena terinspirasi masjid kapal yang ada di Palestina bernama Safina. 

Untuk masuk lokasi ini dikenakan biaya masuk Rp3.000 per orang. Hal ini dilakukan sebagai biaya perawatan. 

"Kami tidak mencari keuntungan karena awal didirikan bangunan ini untuk kegiatan sosial. Tapi karena jumlah pengunjung saat itu banyak maka bangunan gampang kotor jadi harus ada biaya perawatan ekstra," katanya. 

Ia  berharap gedung ini bisa bermanfaat sesuai konsep awal dibangun yaitu untuk kepentingan sosial. Utama untuk pertemuan, pernikahan, dan kegiatan lain sebagai dengan biaya sukarela. 

"Bagi kami viral itu nomor dua, terpenting gedung ini bisa bermanfaat," katanya. 


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar