>

Kemarau Panjang, Direksi dan Karyawan PDAM Semarang Gelar Salat Istiqsa

  Senin, 15 Oktober 2018   Arie Widiarto
Jajaran direksi dan pegawai PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menggelar salat Istiqsa di halaman kantor PDAM Kota Semarang Jl Kelud Raya, Semarang, Senin (15/10/2018).(Arie Widiarto/Ayosemarang)

GAJAHMUNGKUR, AYOSEMARANG.COM-- Jajaran direksi dan pegawai PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menggelar salat Istiqsa di halaman kantor PDAM Kota Semarang Jl Kelud Raya, Semarang, Senin (15/10/2018). Salat Istiqsa yang dipimpin oleh KH Amdjad al Hafidz dilanjutkan dengan doa oleh KH Achmad Naqib untuk memohon doa kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Kemarau panjang tahun ini membuat kekeringan di sejumlah tempat, sehingga bendungan air baku mengalami defisit.

Dalam khotbahnya, KH Amdjad mengatakan kekeringan yang melanda beberapa daerah akibat musim kemarau ini perlu dimaknai, bahwa kemampuan manusia sangat terbatas dibanding Kuasa Allah SWT.

"Tapi kita tetap harus berdoa seraya berharap diberi nikmat dengan diturunkannya hujan sebagai berkah bagi seluruh umat khususnya warga Kota Semarang," jelasnya.

Usai salat, Pjs Dirut PDAM Tirta Moedal M Farchan mengatakan musim kemarau panjang ini membuat PDAM Tirta Moedal kesulitan mendapatkan sumber air baku. Sejumlah sumber air yang biasa dimanfaatkan untuk memproduksi air bersih, volumenya berkurang. Saat ini, PDAM hanya mengandalkan suplai air dari Sungai Kaligarang. 

"Hampir semua sumber air baku, kini debitnya berkurang, yang termasuk stabil dari Sungai Kaligarang. Karenanya, produksi air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kaligarang, kini juga untuk mendukung daerah yang dialiri dari IPA lainnya. Untuk pemerataan, sistem giliran pun diberlakukan," jelasnya.

Ia menyebutkan sumber air baku dari Gunungpati yang biasa menyuplai air 150-160 liter/detik, kini hanya 120 liter/detik. Sistem penggiliran pun dilakukan di sejumlah wilayah di bagian barat Semarang, antara lain di Greenwood, Kalialang, dan Pasadena. Penggiliran dilakukan setiap dua kali sehari. Untuk daerah selatan, penurunan debit air juga terjadi di sumber Wungkap Kasab, Pudakpayung, Banyumanik.

Tempat tersebut biasanya bisa menyuplai air 340 liter/detik, kini hanya 312 liter/detik. Pasokan air untuk wilayah di Bukit Cemara Resident hingga ke Gombel pun digilir dua hari sekali.

Untuk wilayah timur, juga hanya mendapatkan suplai dari Waduk Klambu sebanyak 635 liter/detik. Padahal biasanya sampai 1.000 liter/detik. Akibatnya, distribusi dilakukan bergilir dengan satu hari menggunakan pompa transmisi, dan satu hari menggunakan pompa distribusi. Hal itu pun terkadang pelayanan terjauh belum bisa mendapatkan air, seperti di Kebonharjo, Tenggang, Citarum, Mlatiharjo, dan Gayamsari.

Karenanya sudah beberapa hari terakhir, di wilayah itu tidak teraliri air dari PDAM. 

"Ini masih ditambah dengan padamnya listrik. Beberapa kali ada informasi dari PLN, sistem kelistrikan Jawa-Bali belum normal. Ini tentunya memengaruhi kinerja PDAM untuk memproduksi dan mendistribusikan air bersih kepada warga," jelasnya.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar