Kapel RS St Elisabeth, Cagar Budaya yang Terawat dan Teduh

  Rabu, 17 Oktober 2018   Arie Widiarto
Kapel RS St Elisabeth Semarang. (ayosemarang.com/Arie Widiarto)

SEMARANG SELATAN, AYOSEMARANG.COM -- Kapel di salah satu sudut Rumah Sakit St Elisabeth menjadi bangunan yang cukup tua dan unik di Kota Semarang. Kondisinya masih kokoh dan terjaga. Hingga kini, bangunan yang didirikan pada 1927 ini selalu tampak bersih dan digunakan untuk ibadah setiap hari.

Kapel adalah istilah sebuah gereja kecil yang berada di kompleks bangunan. Misalnya seminari (sekolah pastur) hingga bangunan-bangunan sekuler seperti sekolah universitas, rumah sakit, penjara, istana hingga kapal.

Tujuan dibangunnya kapel, sebagai tempat beribadah bila para umatnya tidak sempat ke gereja karena alasan jarak atau terisolasi (misalnya di asrama). Alasan lain agar dapat beribadah secara pribadi dengan tenang sebab ukuran kapel yang kecil hanya bisa menampung sedikit umat.

Kapel RS St Elisabeth ini termasuk salah satu bangunan cagar budaya, heritage, dan peninggalan Belanda. Kendati usianya sudah tua, kapel selalu dirawat dan dipelihara. Tak heran hingga saat ini semua bangunan dan perabotan yang ada di dalam masih terlihat bagus.

"Pemeliharaannya luar biasa, agar Kapel ini selalu bisa memberikan manfaat bagi umat," ujar Suster M Clarita OSF, salah satu suster senior yang saat ini tinggal di Wisma San Damiano bersama 15 suster lainnya.

Suster Clarita melanjutkan, kapel ini dibangun sebagai tempat berdoa dan kontemplasi bagi para suster di RS Elisabeth. Di mana ada kesusteran, pasti ada kapel. Karena semua akan berdoa dulu baru kerja.

"Supaya kerja itu disemangati oleh doa. Jadi kerja dan doa tidak terpisah," ujar suster kelahiran Yogyakarta, 26 Desember 1939 itu.

Meski bekerja, hati selalu berhubungan dengan Tuhan. Tujuan didirikannya Kapel untuk memuji Allah. Dari pagi semua berdoa, siang berdoa, sore berdoa, malam juga berdoa. Selain itu, juga ada doa untuk kompleta. 

"Artinya untuk menutup hari dengan doa, jadi kami juga ada lima waktu," jelasnya.

Kapel, menurut Suster Clarita, dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Tempatnya tetap di dalam lingkungan RS Elisabeth, menyatu dengan bangunan Rumah Sakit. Bangunan tersebut hanya mengalami beberapa kali renovasi. "Karena memang kalau bangunan cagar budaya tidak boleh diubah. Hanya lantainya saja yang pernah diperbaiki," ujarnya.

AYO BACA : Desa Grabagan, Bermula dari Pencuri dan Pohon Gandri

Desain Kapel tampak begitu indah, bangunannya tinggi dilengkapi dengan jendela yang terbuat dari kaca-kaca. Untuk membuka jendelanya yang tinggi, harus menggunakan alat pemutar dari bawah.

Yang masuk kapel pertama dan keluar terakhir, dia yang membuka dan menutup jendela kapel. Di dinding kapel juga dihiasi dengan foto-foto berukuran besar. Bangku-bangku dipenuhi dengan Alkitab. Lampu-lampu yang ada di dalam kapel di desain apik dan berkesan klasik. Semua yang ada di dalam kapel begitu rapih, terlihat indah.

Untuk ornamen atau alat-alat doa yang ada di dalam kapel, juga merupakan peninggalan Belanda. Seperti tempat lilin dari kuningan, bangku, mimbar. "Saya masuk RS Elisabeth tahun 1965, semua peralatan di Kapel sudah ada," ucap dia.

Semua barang di dalam Kapel peninggalan Belanda. Hanya ditambah AC karena banyak umat yang beribadah di kapel. "Doa jalan salib yang ada gambar Yesus itu dari Belanda," tutur Suster Clarita.

Selama kapel berdiri, dari dulu sampai sekarang Kapel terbuka untuk umum, tidak bersifat ekslusif. "Dari dulu sampai sekarang kapel selalu penuh, terbuka untuk umum," papar dia.

Semua alat-alat, ungkap Suster Clarita, harus dijaga. Tempat lilin dari kuningan selalu dibersihkan setiap Sabtu. Apalagi sekarang harga kuningan tinggi. Maka, barang-barang kuno yang masih ada di Kapel selalu dibersihkan dengan baraso agar tetap memancarkan kilau keemasannya.

"Kapel itu betu-betul bisa memberikan ketenangan. Saat lelah kami larinya ke Tuhan, kami percaya Tuhan itu ada di dalam Kapel. Kami harus bersyukur dan rutin membersihkan kapel," jelas dia.

Lantai kapel tak hanya satu kali dipel hingga bisa licin dan mengkilap. Tapi sampai 3 kali. "Karena lantainya tidak  ada lagi yang menjual, jadi kami jaga betul, kendati ada yang sudah diganti tapi hanya sebagian kecil saja," tambahnya.

Kapel ini, lanjut Suster Clarita, sederhana dan tak ada barang-barang mewah seperti di Kapel Gedangan yang betul-betul kuno dari Belanda, dan Kapel Bangkong yang menjadi cagar budaya. Dulu ada hiasan berlian dan akik-akik tapi sekarang sudah hilang. Entah siapa yang mengambilnya.

Suster Clarita berharap suster muda yang ada saat ini menjaga kapel dan rutin melakukan doa. Generasi muda harus memberikan yang lebih baik karena zaman sudah lebih maju, dan tetap memberikan perhatian pada kapel.

"Kami suster senior terus memberikan dorongan agar suster muda mencintai doa," tandasnya.

AYO BACA : Ribuan Santri Bersalawat dan Kirim Doa untuk Palu


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->