Upaya Masjid Sambut Ramadan

  Jumat, 03 Mei 2019   Rizma Riyandi
Usman Roin

RAMADAN yang sebentar lagi akan datang tentu membutuhkan persiapan yang matang. Tidak hanya persiapan sarana konsumtif –makan dan minum– secara peribadi maupun keluarga, namun yang lebih urgen justru bagaimana mempersiapkan masjid baik fisik maupun non fisik.

Keberadaan masjid yang salah satunya berfungsi sebagai tempat ibadah (baca: menjadi tempat salat dan berzikir kepada Allah), sebagai fungsi utama dari masjid, menurut H Asep Usman Ismail dan Cecep Castrawijaya (2010:2) perlu dipersiapkan dengan baik keberadaannya. Jangan sampai keberadaan masjid menjadi kurang, bahkan tidak nyaman untuk jamaah, sebagai akibat takmir gagap mempersiapkan keberadaan sarana fisik maupun non fisik masjid yang diampunya.

Lebih lanjut, penggambaran masjid bagi kaum Islam seperti air bagi ikan, ikan tidak akan bertahan hidup lama kalau dipisahkan dari air. Ini berarti, jiwa dan ruh keislaman seorang muslim, tidak akan kokoh kalau tidak suka ke masjid atau tidak memperoleh pembinaan dari masjid. Itu sebabnya, Dr Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthy yang dikutip oleh H Ahmad Yani dan Achmad Satori Ismail (2001:2) mengatakan, “Tidak heran, jika masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukan masyarakat Islam. Karena masyarakat muslim tidak akan terbentuk kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, akidah dan tatanan Islam. Hal ini tidak akan dapat ditimbulkan kecuali melalui semangat masjid.”

Guna mewujudkan hal itu, tentu sarana fisik maupun psikis perlu dipersiapkan dengan baik oleh segenap takmir masjid. Bahkan, belakangan ini (baca: di Kota Semarang) sudah banyak aktivis sedekah masjid yang konsen terhadap upaya bersih-bersih masjid dan free jemput bola membersihkan masjid setiap hari Jumat. Hanya saja, akan lebih afdol jika partisipasi kebersihan masjid menjadi tanggung jawab takmir beserta jamaah. Tujuannya, agar keberadaan menjaga lingkungan masjid terbentuk secara massif berkat partisipasi terdekat, tidak hanya pada tataran ritual belaka, melainkan pada aspek fisik dan non fisik masjid.

Secara fisik, persiapan masjid menghadapi ramadan bisa dilihat dengan memperbaharui keindahan bangunannya. Mulai dari pengecatan ulang, perbaikan fasilitas hingga pembersihan kamar mandi, penggantian lampu penerang, atau sekedar membersihakan srawang yang terdapat di pojok atau atap plavon dinding. Hingga, debu yang menempel diberbagai sisi kusen bangunan masjid.

Hal lain terkait persiapan fisik lainnya, bisa dengan membersihkan karpet yang telah lama tidak dicuci, atau cukup dengan hanya melakukan penyedotan debu-debu yang menempel. Bahkan bila perlu, di pel lantainya sebagai cara takmir masjid menyambut datangnya bulan bulan ramadan. Terlebih, inovasi masjid kekinian sudah banyak yang memperhatikan aspek pengadaan kulkas sebagai wadah untuk menyimpan air mineral yang dibutuhkan oleh jamaah. Jika demikian, tentu penyediaan air mineral untuk para jamaah perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.  

Segi fisik lainnya, dari sisi pengeras suara juga perlu dilakukan pengecekan oleh takmir masjid. Karena jangan sampai terjadi kondisi eror dimana sering terjadi trobel suara yang putus yambung hingga nyaring –karena over– kala terjadi penambahan volume. Terlebih, Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah menginstruksikan, agar tata suara baik masjid maupun musala bisa diatur ulang frekuensinya. Hadirnya DMI melalui program akustik sound system masjid juga sudah mempunyai program penataan, perbaikan yang benar untuk sound masjid yang bisa didatangkan setiap waktu. Tidak lain agar sound menjadi merdu dan tidak sampai kelewat batas bunyi kenyaringannya.

Selain persiapan fisik, ada sarana psikis yang juga perlu dipersiapkan. Mulai dari penjadwalan imam salat wajib maupun tarawih hingga penceramah kuliah tujuh menit (kultum) guna memberikan edukasi terkait pondasi keislaman yang lebih komprehensif. Juga pengadaan jadwal tadarusan secara bergantian, mulai dari Bapak, Ibu, hingga anak-anak remaja yang sudah cakap dan fasih membaca Alquran. Tujuannya, agar secara psikis program tadarus di masjid atau musala bisa diikuti oleh semua komponen, tua, muda, wanita atau bahkan ibu-ibu. Bahkan bila perlu, takmir menjadwal para agniya’ agar konsumsi selama tiga puluh hari selama ramadan bisa penuh, baik ketika menjelang berbuka hingga ketika tadarusan.

Alhasil, berbagai persiapan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh para takmir masjid adalah ikhtiar jitu, bahwa masjid musala sebagai tempat ibadah sudah harus difokuskan untuk memberikan pelayanan kepada umat. Baik dari sisi kenyamanan sarana beribadah, hingga edukasi guna memperkokoh akidah islamiyah. Selamat menunaikan ibadah puasa untuk pembaca semua.

Usman Roin
Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->