Teng-tengan, Mainan Khas Bulan Ramadan di Kota Semarang

  Rabu, 15 Mei 2019   Arie Widiarto
Warga Purwosari Perbalan membuat mainan Teng-tengan. (Arie Widiarto/Ayosemarang.com)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Bagi warga Semarang terutama yang lahir di era 1970 dan 1980-an, sebagian besar tidak asing dengan mainan Teng-tengan. Teng-tengan ini adalah lampion berbentuk prisma yang ditengahnya diberi lilin. 

Di dalam lampion dihiasi dengan kertas berbentuk berbagai gambar mulai bunga, berbagai macam binatang hingga pemandangan alam. Jika Teng-tengan diputar dan lilin dinyalakan, akan membentuk bayangan atau siluet gambar-gambar tersebut seperti berjalan.

Meski tidak setenar dulu, hingga kini mainan Teng-tengan ini masih diproduksi dan dipasarkan oleh warga Purwosari Perbalan , Kecamatan Semarang Utara. Menariknya, mainan ini hanya dibuat dan dijual saat  bulan Ramadan. Cara menjualnya pun juga unik, yakni dengan cara berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Semarang.

Menurut sesepuh warga Purwosari Perbalan Tunut Sofwani  Teng-tengan dulunya lebih di kenal dengan nama ''Dian Kurung'' dan dibuat pada sejak sekitar  1942. ''Nama ''Dian Kurung'' diambil dari kata ''Dian'' yang berarti lampu, dan ''Kurung'' berarti kurungan. ''Dian Kurung'' awalnya dulu berbentuk segi empat, berbeda dengan lampion sekarang yang berbentuk prisma persegi delapan,'' jelasnya.

Ia pun mengisahkan ketika itu kampung Perbalan masih berupa rawa dan belum teraliri listrik. Kemudian seorang yang dikenal dengan nama Mbah Saman mulai membuat Teng-tengan  untuk penerangan. 

"Dulu itu, saat Ramadan di daerah sini sangat minim penerangan, sedangkan jalan menuju musala gelap, akhirnya warga berinisiatif membuat ''Dian Kurung''. Jadi lampu yang dikurung, sebagai alat untuk penerangan menuju masjid atau musala," tuturnya . 

Ternyata, meski awalnya hanya berfungsi sebagai penerangan, seiring dengan perkembangan zaman, Teng-tengan ini banyak digemari warga Semarang. Fungsinya juga bukan sekedar untuk penerangan tetapi juga untuk hiasan di depan rumah dan mainan.

Warga Purwosari Perbalan, Junarso (50) yang sudah puluhan tahun membuat Teng-tengan menyatakan, ia memproduksi mainan tersebut sudah turun temurun. '

'Saya membuat kerajinan Teng-tengan ini, dulu itu bapak saya, dan buyut-buyut saya, dan saat ini saya yang meneruskan tradisi yang tetap harus di pertahankan, karena di Kota Semarang satu-satunya pengrajin Teng-tengan saat bulan Ramadan ya cuma disini,'' ujarnya.

Setiap harinya dengan dibantu dengan beberapa tetangganya, Junarso bisa membuat kurang lebih 20 Teng-tengan. Satu buahnya dijual Rp15 ribu. Sampai saat ini, Teng-tengan masih digemari tak hanya anak-anak, tetapi juga orang tua yang ingin bernostalgia dengan mainan ini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->