Cerita Masjid Pangeran Purbaya yang Didirikan Hanya Semalam

  Jumat, 24 Mei 2019   Adi Ginanjar Maulana
Bangunan Masjid Kasepuhan Pangeran Purbaya di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal tergolong sederhana dan konon hanya didirikan hanya semalam.

TEGAL, AYOSEMARANG.COM--Bangunan Masjid Kasepuhan Pangeran Purbaya di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal tergolong sederhana dan konon hanya didirikan hanya semalam.

Lokasinya masih di area makam Pangeran Purbaya alias Sayyid Abdul Ghofar, menantu dari Ki Gede Sebayu, pendiri Tegal.

Di balik bangunan yang sederhana itu tersimpan sejarah yang menarik dan penting untuk di ketahui.

Menurut salah satu tokoh keluarga dari Kasepuhan Kalisoka, Zamzami, masjid Pangeran Purbaya ini sangat erat kaitannya dengan nama Kota Slawi dan Bendung Danawarih.

AYO BACA : Mengenal Menara Waterleideng di Tegal yang Sudah Ada Sejak 1931

Sebab, setelah membendung sungai Gung Ki Gede Sebayu menggelar sayembara untuk merobohkan pohon jati yang akan digunakan untuk membangun masjid Kalisoka.

"Dari sayembara itu, ada 25 peserta yang terbagi dua. Kelompok pertama dari mantri atau pengikut Ki Gede Sebayu dan kelompok satunya peserta dari luar. Dari jumlah 25 peserta ini yang kemudian tempatnya dinamakan Slawi dari bahasa Jawa 25 itu selawe," ujar Zamzami.

Adapun tempat para mantri itu dikenal dengan Dukuh Preman, sementara pohon jatinya ada di Jatiwala yang sekarang Desa Jatimulya.

"Nah karena banyak peserta yang babak atau mangkas pohon jati tidak berhasil daerah itu dikenal dengan Babakan," ucapnya.

AYO BACA : Museum Semedo Jadi Ikon Wisata dan Sejarah Tegal

Dari sayembara yang digelar pada tahun 18 Mei 1601 tersebut, lanjut Zamzami, Pangeran Purbaya  memenangkan sayembara. Pangeran Purbaya kemudian dijadikan menantu Ki Gede Sebayu dengan menikahkan dengan anaknya, Raden Ayu Giyanti Subalaksana.

"Konon dari cerita masyarakat dalam membangun masjid hanya sehari semalam dan masyarakat tidak ada yang tahu," ujar Zamzami.

Wallahu a'lam, yang pasti bangunan masjid Pangeran Purbaya punya keunikan, seperti tidak ada kubah, tapi langsung menara. "Di bawah menara ada sumur yang digunakan untuk berwudlu. Semua masih asli baik bentuk maupun arsiteknya belum ada perubahan," katanya.

Hanya saja pada tahun 1955, menurut Zamzami, ada penambahan tempat ibadah, tidak merombak struktur bangunan. Dikatakan, Ki Gede Sebayu menugasi menantunya yakni Pangeran Purbaya menjadi ulama syiar Agama Islam dan putranya Ki Hanggawana sebagai umaro atau pemimpin pemerintahan.

"Makna yang bisa kita pelajari adalah ulama dan umaro harus saling mendukung," pungkas Zamzami.

AYO BACA : Mengulik Sejarah Gedung Birao, Saksi Sejarah Kereta Api di Jawa


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->