Di Mata Akademisi, Prabowo Sedang Rawat Militansi Massa Pendukung

  Jumat, 24 Mei 2019   M Naufal Hafiz
Prabowo Subianto. (M Irfansyah/Ayo Media Network)

KUPANG, AYOSEMARANG.COM—Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Raja Muda Bataona, menilai, Prabowo Subianto sedang memainkan langkah untuk menjaga dan merawat massa pendukung untuk kepentingan kontestasi elektoral ke depan.

"Saya melihat, polarisasi yang sedang berlangsung saat ini memang sengaja dijaga dan dikonsolidasikan secara masif, agar massa paslon 02 yang jumlahnya sekitar 44 persen dari 154 juta pemilih itu tetap terjaga dan dirawat militansinya demi kepentingan kontestasi elektoral ke depan," kata Mikhael Bataona kepada Antara di Kupang, Jumat (24/5/2019).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan situasi politik dan keamanan setelah pengumuman hasil Pemilu serentak 2019 dan sikap Prabowo yang mendua dalam mengajukan sengketa hasil Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Latar belakang lain adalah kemungkinan saja keterbelahan hari ini polanya akan dirawat semirip mungkin atau bahkan lebih kuat lagi seperti konsolidasi elektoral setelah Pilpres 2014 silam, lalu memuncak pada Pilgub DKI Jakarta, ketika simbolisasi cebong versus kampret menjadi narasi dan wacana paling dominan di ruang-ruang publik, baik virtual maupun fisik.

AYO BACA : Prabowo Diminta Terima Hasil Pemilu 2019

Masalah ideologi

Mengenai latar belakang, dia mengatakan masalah ideologi, pandangan politik, juga semacam pengaruh kultur dan latar belakang sejarah, yang tidak bisa dijelaskan hanya dalam satu dua pernyataan hipotetis semata.

Menurut dia, butuh kajian-kajian ilmiah yang menyeluruh untuk bisa menyingkap hal ini.

Sebab, sejak pemilu tahun 1955, Indonesia sudah terbelah ke dalam banyak sekali ceruk aliran politik, sehingga keterbelahan bangsa hari ini, tidak datang sekonyong-konyong dari langit.

AYO BACA : Ini Jumlah Sementara Pengaduan Sengketa Pemilu ke MK

Namun, sudah ada benih-benuh kulutralnya, bahkan landasan epistemik yang sudah lama mengendap dalam kesadaran rakyat.

Karenanya, Paslon 02 versus paslon 01 hanyalah saluran yang digunakan untuk mengekspresikan kesadaran politik yang telah lama mengendap itu.

Bahwa ada juga masyarakat yang tidak masuk ke dalam kelompok-kelompok politik aliran tersebut adalah benar, tetapi yang terbaca hari ini adalah ekspresi identitas masing-masing kelompok itu yang kalau dalam bahasa politik, kebanyakan menggunakan alasan-alasan identitas terutama agama dan latar belakang sejarah.

Akhirnya Prabowo maupun Jokowi dalam posisi sangat sulit untuk mengeluarkan diri dari belenggu pertarungan massa rakyat dan terutama elite yang sejak 2014 sudah aktif terlibat dalam pertarungan politik identitas.

"Jadi berharap bahwa Prabowo akan mengakui kekalahan itu sulit. Secara simbolik bisa saja iya. Tapi secara real akan adanya rekonsiliasi hingga ke akar rumput itu saya kira sangat sulit," katanya.

AYO BACA : KPU: MK Terima Pengajuan 5 Gugatan Pemilu


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->