Anak Milenial Asyik Tanpa Merokok

  Jumat, 31 Mei 2019   Adi Ginanjar Maulana
Sejumlah warga saat berolahraga di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Sabtu (1/9/2018). (Irfan Al-Faritsi/ayobandung.com)

Siapa tak tahu rokok di zaman sekarang? Setiap hari, kita masih menjumpai ada saja orang yang menyisipkan sebatang benda yang berdiameter sepensil yang disulut dan dihisap.

Ya, rokok! Seakan sudah menjadi kebutuhan dasar setiap masyarakat baik orang dewasa hingga remaja, bahkan anak-anak milenial. Bermacam alasan dilontarkan para penghisap rokok: sekedar iseng, simbol kejantanan, keren, hingga perasaan ‘asem’ kalau tidak menghisap sebatang rokok.

Mudahnya akses dan peraturan yang minim membuat masyarakat khususnya anak kaum milenial dengan mudah dapat membeli rokok. Mirisnya kita sebagai masyarakat merasa rokok itu adalah sesuatu hal yang wajar dalam pergaulan.

Dalam pergaulan sehari-hari hampir seluruh masyarakat Indonesia tidak bisa terlepas dari rokok. Dalam jangka waktu yang panjang bisa menjadi budaya atau kebiasaan yang tentunya tidak baik, khususnya bagi remaja yang sedang tumbuh.  

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, jumlah rokok yang di konsumsi penduduk Indonesia baik kalangan remaja hingga kalangan dewasa dalam seminggu sebanyak 81 batang. Jika dihitung per hari rata-rata rokok yang dihisap sebanyak 12 batang.

Melihat kenyataan ini, tidaklah salah kalau penghasilan industri rokok sangat tinggi. Salah satunya dikarenakan banyaknya remaja yang membeli rokok.

Setiap 31 Mei, diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gagasan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988.

WHO menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Gerakan ini menyerukan para perokok agar berpuasa tidak merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia.

Tetapi apakah hari peringatan ini cukup populer di masyarakat kita dan dapat menghentikan para perokok untuk berhenti merokok? Jawabannya tentu tidak. Masyarakat kita umumnya lebih mengingat hari-hari perayaan keagamaan serta hari besar nasional tertentu.

Selebihnya kalau pun di kalender ada tanggal merah, masyarakat pun baru mengetahuinya setelah membaca keterangan pada kalender.

Faktor Penyebab

Penyebab utama  anak-anak zaman now merokok adalah ketika bermain bersama dengan teman-temannya. Biasanya, pergaulan yang buruk tidak hanya menjerumuskan anak-anak dalam kegiatan merokok.

Namun bisa mengarah kepada perilaku lainnya yang menyimpang. Seperti perilaku antisosial, narkoba, dan juga perilaku kriminal lainnya dan juga karena rasa ingin tahu yang tinggi.

Suatu penelitian menyebutkan perilaku merokok pada anak yang mulai beranjak remaja juga bisa dikatakan sebagai bentuk atau simbol dari pemberontakan. Masa remaja anak merupakan sebuah fase atau masa mencari jati dirinya.

Pencarian jati diri ini biasanya sangat dipengaruhi oleh faktor pergaulan bebas yang dimiliki oleh anak tersebut. Ketika pergaulan ini semakin mempengaruhi si anak dan fungsi peran pengawasan orang tua yang kurang membuat anak mudah mendapat pengaruh negatif.

Orang tua terkadang terlalu sibuk dengan pekerjaannya mengingat banyak orang tua zaman sekarang yang bekerja dan sering kali kebutuhan meningkat atau mungkin tidak terlalu peduli dengan kondisi anaknya, sehingga hal ini kemudian menyebabkan pengawasan dari orang tua menjadi berkurang sehingga anak anak mudah mendapat pengaruh pengaruh negatif.

Pemerintah selaku stakeholder pun telah berupaya. Di satu sisi menjaga keberlangsungan jalannya industri rokok dan di sisi lain  terus berupaya bagaimana cara agar tingkat konsumen rokok terus menurun.

Kenapa perlu diturunkan? Saat ini industri rokok mulai menyasar anak-anak remaja sebagai target pasarnya. Aturan aturan pemerintah seperti menaikan harga cukai yang setiap tahunnya naik dan upaya-upaya lain dari segi penanyangan iklan.

Sejatinya rokok sangat mudah didapatkan di Indonesia karena pemasarannya yang sangat kuat. Faktor tersebutlah yang membuat para anak remaja dengan mudah mendapatkan rokok serta minimnya pengetahuan akan bahaya rokok.

Upaya Pencegahan

Peringatan-peringatan atau tulisan pada kemasan rokok, hanyalah sebuah kalimat dan slogan yang kurang berarti bagi para penikmat rokok. Padahal sudah tertera dalam kemasan bungkus rokok bahaya dan penyakit yang ditimbulkan pada bahaya merokok.

Seolah-olah para perokok menutup mata atas bahaya yang ditimbulkan oleh rokok tersebut. Untuk mencegah agar anak kaum milenial tidak merokok, di antaranya bisa dilakukan dengan memberikan pendidikan soal bahaya rokok sejak dini.

Meskipun anak masih duduk di bangku taman kanak-kanak atau sekolah dasar, dan harus terus mengingatkan anak apa saja dampak negatif merokok. Mulai dari rokok harganya mahal, penyakit yang disebabkan dari merokok hingga merokok itu mengganggu orang lain dan juga membahayakan orang lain.

Anak dan remaja mungkin mulai merokok karena ingin merasa diterima oleh teman-temannya. Bisa juga karena merokok membuatnya merasa seperti orang dewasa. Ini berarti anak kurang kepercayaan diri.

Maka, untuk mecegah anak merokok kita harus bisa meningkatkan kepercayaan diri anak, mengajarkan juga bahwa rokok bukanlah hal yang membuat kita terlihat dewasa atau keren. Tetapi hal yang membuat kita dewasa adalah hal-hal yang telah kita lakukan dan yang pernah kita capai dengan prestasi.

Perlu kerja keras dan kerjasama berbagai pihak dalam upaya ini. Mengkampanyekan hari anti tembakau sebagai salah satunya. Dan yang terpenting adalah, mulai dari diri sendiri untuk melindungi keluarga, lingkungan terdekat kita.

Singgah Satrio Prayogo

Statistisi Pertama di BPS Provinsi Jawa Barat


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->