Menjadi Muslim Pemaaf

  Rabu, 05 Juni 2019   Sekred
Ariyadi, S.Pd.I. (Dok. pribadi)

Kata “maaf” menjadi bagian dari ucapan setiap diri saat momen idulfitri, sebagai upaya pengakuan salah secara manusiawi. Dalam hal fitrah, manusia layak menyandang makhluk yang pasti memiliki salah. Hal ini membuktikan bahwa segala bentuk ucapan, tindakan, dan keputusan bagi manusia memiliki potensi salah baik menurut sikap manusiawi ataupun sikap ta’abudi.

Karena kata maaf ini menjadi hal yang biasa diucapkan sebagai bagian dari bumbu pengakuan salah, maka sudah sepatutnya kita mulai menyadari empat hal. Pertama, apakah hanya untuk mengakui salah harus menunggu momen Lebaran?

Lebaran menjadi momentum nasional bahkan internasional yang menyajikan keunikan dalam kekhasan agama Islam. Hampir 3 Miliar masyarakat muslim menjadi bagian dari perayaan idulfitri dengan tradisi yang berbeda, namun dengan maksud yang sama yaitu Minal ‘Aidin Wal Faizin.

Dalam lingkup kelembagaan momentum Lebaran juga menjadi saat-saat tepat untuk melakakukan ceremonial saling memaafkan dalam kemasan halalbihalal. Juga dalam lingkup masyarakat muslim Indonesia pada khususnya, untaian kata maaf menjadi penanda tentang sakralnya kata maaf dalam momen idulfitri.

Yang tidak boleh luput juga adalah kebiasaan petinggi kita mulai kepala desa, camat, bupati, gubernur, sampai presiden yang menyiapkan waktu khusus dengan mengemas acara open house dengan tujuan bisa saling memaafkan.

Sebenarnya, hanya untuk mengakui rasa salah ataupun khilaf tak harus menunggu momen Lebaran. Namun tradisinya saling memaafkan dalam suasana Lebaran menjadi momentum nasional yang akan mampu membuka kesadaran diri segenap masyarakat sebagai bagian dari konstitusional, yang hendaknya memiliki sikap saling memaafkan serta senantiasa berintrospeksi diri setiap saat agar kita dapat mengevaluasi diri (muhasabah) untuk menuju perbaikan moral bangsa.

Kedua, apakah setelah kita mengakui salah atas perbuatan dan kita akan mengulanginya lagi? Pertanyaan ini sekaligus menjadi pernyataan diri atas kesadaran untuk berbuat kebaikan setelah menyadari berbuat salah.

Menyadari memilki salah bagi diri seseorang sebagai makhluk sosial merupakan sikap bijaksana, karena dengan menyadari kita punya salah maka nurani akan menjadi pengingat saat nafsu membisiki kita untuk berbuat negatif. Momentum idu fitri juga menjadi salah satu sarana untuk tidak berlaku latah atas kesalahan yang pernah kita perbuat.

Seorang narapidana korupsi setelah menghirup udara kebebasan dan kemudian terlibat dalam modus kejahatan yang sama maka kita bisa memaknainya sebagai keledai yang terperosok dalam lubang yang sama. Beragamnya tindakan yang merugikan khalayak sudah seharusnya kita antisipasi agar kita bisa mawas diri dari perilaku yang membawa merosotnya moral diri dan bangsa.

Merujuk pada pentingnya menjadi pribadi pemaaf, maka sikap saling memaafkan memang perlu kita miliki agar sikap legawa bisa hadir dalam hati kita semua.

Mentradisinya sikap saling memaafkan jangan menjadikan diri kita menjadi makhluk yang latah, justru sebaliknya momentum idulfitri hendaknya bisa membentuk karakter muslim yang senantiasa berhati-hati sebelum berucap, bertindak, dan memutuskan sesuatu.

Ketiga, apakah cukup kata maaf itu menunjukan penyesalan? Apalah makna sebuah kata tanpa perwujudan sikap dan perilaku nyata. Kata maaf secara kaidah bahasa menunjukan sikap penyesalan atas kesalahan, namun cukupkah kata maaf itu mewakili penyesalan? Apakah ada jaminan ketika permintaan maaf diterima dan kemudian tidak mengulangi kesalahan lagi?

Menyesali kesalahan dalam bahasa agama diistilahkan dengan taubat, maka logisnya ketika seseorang yang telah menyatakan bertaubat maka berarti dia telah menyesal. Dengan menyesal semoga tidak mengulanginya lagi demi menjaga martabat diri sebagai manusia yang dibekali kesempurnaan dalam hal penciptaan.

Sementara yang keempat, apakah dengan saling memaafkan hanya sekedar menjadi bumbu penyedap momen Lebaran? Sepekan Lebaran telah berlalu menghiasi momentum saling memaafkan di antara kita.

Ada hal yang menggelitik benak kita bersama, apakah sikap saling memaafkan hanya sekedar menjadi penghias hiruk pikuknya momen sakral idulfitri yang datang setiap tahun dalam kehidupan kita? Berlalunya bulan Ramadan seharusnya menjadi parameter kualitas diri kita baik dari sisi ibadah ataupun muamalah.

Dari sisi ibadah kita bisa menyiapkan sikap istiqomah dalam menunaikan panggilan ibadah tanpa mengesampingkan muamalah. Begitu pula dari sisi muamalah kita harus bisa menempatkan sisi manusiawi kita sebagai manusia biasa yang prosentase berbuat salah terkadang lebih besar dibanding perbuatan baiknya.

Dengan menyadari pentingnya sikap saling memaafkan maka menumbuhkan sikap mawas diri agar kita dapat menghindarkan diri pada perbuatan yang lebih baik.

 

Empat tipikal pemaaf

Saling memaafkan adalah ungkapan tepat dibanding salah satu pihak saja yang mau memaafkan. Karena dalam perihal memaafkan terkadang kita lebih mengedepankan ego atau merasa diri kita tidak bersalah.

Hal ini tentu masih wajar asalkan masih ada upaya untuk saling memaafkan. Dalam hal maaf memaafkan setidaknya ada empat tipikal pemaaf yang harus kita kenali.

Pertama, orang yang mudah marah mudah memaafkan. Tipikal yang pertama ini kecenderungannya tempramen namun tidak menyimpan dendam dikemudian hari. Dalam momen lebaran hendaknya seseorang yang terindikasi tipikal ini hendaknya bisa berusaha mengeliminir sikap tempramennya dan berusaha bersikap legawa atas kesalahan orang lain.

Kedua, mudah marah sulit memaafkan. Tipikal yang kedua ini kecenderungannya adalah menyimpan benih tempramen dan yang paling fatal adalah pendendam. Dalam momen Lebaran seseorang dalam tipikal ini hendaknya bisa mengevaluasi diri sikap tempramennya juga sifat pendendamnya untuk berusaha maksimal menguatkan niat untuk meminamilisir perilaku marah dan dendamnya kepada siapapun.

Ketiga, sulit marah mudah memaafkan. Tipikal yang ketiga ini kecenderungannya adalah tidak pernah menganggap serius kesalahan orang lain. Dalam momen Lebaran ini seseorang dalam tipikal ini lebih mudah member maaf untuk orang lain dan jauh dari sifat pendendam.

Keempat, sulit marah sulit memaafkan. Tipikal ini kecenderungannya adalah tidak pernah menganggap serius kesalahan orang lain, namun bila tersinggung masalah seseorang dalam tipikal ini menyimpan dendam yang sangat lama dan terus mengingatnya. Dalam momen Lebaran hendaknya seseorang dalam tipikal ini berusaha penuh mengikis sifat pendendamnya agar substansi idul fitri untuk saling memaafkan dapat diraih dengan baik.

Semoga momentum nasional dengan kemasan halalbihalal ataupun yang sejenisnya mampu menumbuhkan sikap saling memaafkan di antara kita dengan harapan kita akan kembali pada fitrah insaniyah kita bersama.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

 

Ariyadi, S.Pd.I

Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

SMA Islam Al Azhar 15 Kalibanteng Semarang


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->