Mencari Titik Keseimbangan Bisnis Pesawat Terbang

  Jumat, 21 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi pesawat.(Pixabay)

Maskapai penerbangan lazim memanfaatkan peak seasons untuk meraih pendapatan yang lebih besar, tapi kali ini reaksi ‘masyarakat ’ di luar dugaan. Mereka mengeluh karena ongkos pesawat, naik rata-rata hampir 90 persen. Tingkat hunian hotel menurun tajam. Tempat-tempat wisata sepi. Pedagang cendera mata lebih banyak diterpa angin.

Muncul gagasan supaya airlines asing diizinkan beroperasi di dalam negeri. Lalu ada yang menilai penyebabnya adalah inefisiensi karena ada maskapai yang masih bisa menjual tiket dengan harga lebih murah. Belakangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) turut menyelidiki kenaikan harga tiket, kalau-kalau Lion Air dan Garuda bersekongkol.

Maskapai berkilah kenaikan harga tiket masih mengikuti penentuan Tarif Batas Atas (TBA) yang diberlakukan Kementerian Perhubungan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Sejauh yang dapat diketahui, manajemen menetapkan besaran harga agar manajemen perusahaan dapat menutupi biaya yang dikeluarkan perusahaan). Pembelian Avtur, misalnya yang dapat mencapai 26-40% dari total biaya. Disusul servis untuk penumpang dan bagasi. Biaya perawatan pesawat.  Gaji, bonus dan bentuk pengeluaran lain untuk kegiatan karyawan. Depresiasi dan sewa pesawat. Biaya navigasi udara dan dukungan meteorologi. Yang paling kecil pengeluaran buat iklan dan administrasi.

Diantara sekian banyak pos-pos pengeluaran ada yang bersifat tetap, sedangkan biaya untuk iklan dapat dikurangi. Biaya perawatan pesawat sebetulnya tetap, tetapi konon ada maskapai yang berusaha mengurangi dengan memperpanjang jadwal perawatan atau mengambil suku cadang dari pesawat lain.

Yang sering mengganggu maskapai adalah fluktuasi nilai tukar, karena mayoritas pengeluaran dihitung dalam dolar AS. Manajemen biasanya melakukan hedging buat mengurangi resiko amblasnya nilai rupiah terhadap greenback.

AYO BACA : Malindo Air Tergelincir di Bandara Husein, 122 Penumpang Dievakuasi

Bisnis penerbangan sebetulnya berisiko tinggi dalam arti laba yang diperoleh sangat terbatas. Sejalan dengan itu, manajemen berupaya meningkatkan pendapatan dengan berbagai cara. Lain lagi airlines asal Timur Tengah, berkat dukungan pemerintah mereka memperoleh harga avtur murah bahkan gratis.

Direktur Utama Citilink Juliandra Nurtjahjo pernah menyatakan valuta asing berperan besar dalam harga penerbangan, tapi kalau soal harga maka tidak ada yang melanggar sebab sudah ditetapkan pemerintah.

Sumber Pendapatan

Sumber pendapatan terdiri dari revenue mainstream. Ia berasal dari penjualan tiket dan dalam beberapa aspek juga kargo. Bila mengandalkan revenue stream, manajemen tidak akan memperoleh keleluasaan keuangan karena pendapatan dari penjualan tiket marginnya tipis dan belum tentu stabil.

 

 

Untuk memperoleh revenue stream yang baik, manajemen harus melakukan perbaikan terus menerus dalam pelayanan untuk penumpang dan sebagainya.Imej yang sudah terbangun mesti terus dijaga dengan berbagai cara. Inilah yang antara lain dilakukan Emirates, ANA dan lainnya.

Disamping revenue stream, manajemen juga mengupaya ancillary revenue berupa pendapatan tambahan seperti penjualan parfum, jumlah bagasi, T-Shirts dan sebagainya. Ancillary revenue gencar digelar maskapai penerbangan berbiaya rendah, walaupun sekarang juga diikuti maskapai full service.

AYO BACA : Qatar Airways, Maskapai Terbaik Dunia 2019 Versi Skytrax

Cara penghematan yang dilakukan low cost carrier sangat menarik. Pesawat-pesawatnya beroperasi dari Bandara di luar kota atau yang mengenakan biaya pelayanan lebih rendah, seperti Gatwick atau Stansted dibandingkan dengan Heathrow. Pesawat tidak menggunakan garbarata dan umumnya menerbangi jalur-jalur pendek. Penumpang juga tak memperoleh makanan/minuman/media dan fasilitas lain.

Yang menarik, maskapai mewajibkan pilot untuk mendaratkan pesawat tidak jauh dari ujung landasan pendaratan. Maksudnya, supaya pilot tidak perlu mengerem berlebihan agar ban pesawat tak cepat habis. Minimal baru diganti setelah lebih dari 500 kali pendaratan.

Ekuilibrium Baru

Kenaikan harga tiket dengan respon yang sengit berlangsung ditengah keramaian peristiwa politik serta pembukaan jalan bebas hambatan Trans Jawa. Satu hal yang luput dari perhatian adalah bagaimana dengan daya beli masyarakat?

Dalam beberapa tahun terakhir konsumen dimanjakan dengan harga tiket yang relatif murah, bahkan terkadang lebih rendah dari harga tiket kapal laut atau mendekati ongkos naik bus. Era kemanjaan ini berkepanjangan hingga konsumen terbiasa dengan Rp 350 ribu untuk Jakarta-Surabaya. Mereka kaget ketika harga tiket pesawat balik ke harga relatif normal untuk memperbesar margin.

Jadi sebenarnya, biarkan saja kekuatan pasar bermain untuk mencapai titik keseimbangan baru. Bukankah manajemen tak melanggar TBA?

Farid Khalidi


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->