Taman Srigunting Dulu Ternyata Lapangan Parade Militer Belanda

  Kamis, 11 Juli 2019   Vedyana Ardyansah
Taman Srigunting jadi salah satu jujugan pengunjung di Kawasan Kota Lama Semarang. (Kemmy Wijaya/ayosemarang.com)

SEMARANG SELATAN, AYOSEMARANG.COM -- Taman Srigunting yang berada di sebelah timur Gereja Blenduk merupakan ruang teduh di kawasan Kota Lama Semarang yang memberikan kesan sejuk dan nyaman bagi siapa saja yang berkunjung.Taman yang memiliki empat pohon rindang dan kerap jadi spot hunting itu ternyata dulu merupakan lapangan parade militer Belanda.

Lapangan parade atau dalam bahasa Belanda Paradeplein dahulu merupakan tempat bagi para tentara Belanda untuk berkegiatan militer. Seperti latihan baris-berbaris, melaksanakan upacara, dan latihan militer lainnya. Luasannya pun mencakup taman Srigunting dan bangunan Gedung Kerta Niaga yang berada di sisi timur taman.

Praktisi Sejarah Semarang, Rukardi Achmadi  mengatakan, lapangan parade tersebut mulai dibangun saat VOC melakukan perluasan benteng. Ia mengatakan, sekitar tahun 1690-an Belanda memindahkan pusat pertahanannya dari Jepara ke Semarang. Maka dibangunlah benteng di dekat jembatan Berok. 

"Jadi sejarahnya dulu Kota Lama itu adalah benteng pertahanan VOC. Dan bentuknya segilama, kecil, bukan seluas sekarang," kata Rukardi saat ditemui ayosemarang.com, Kamis (11/7/2019). 

Rukardi mengatakan, benteng VOC itu sering disebut benteng lima sudut.

Karena bertambahnya kebutuhan VOC saat itu, maka dilakukanlah perluasan untuk mengakomodir kegiatan VOC di pantai utara dan timur Jawa yang beribukota di Semarang. Perluasan tersebut dilakukan disekitar tahun 1715-an. Di dalam rancangan perluasan Benteng VOC tersebut, lapangan parade sudah ada.

"Di tahun 1715, tapak-tapak pelebaran benteng itu sudah terlihat. Bentuknya hampir sama dengan benteng sebelumnya, yakni segilima. Namun tidak beraturan, kalau yang benteng pertama itu kecil tidak begitu luas tapi beraturan bangunannya," imbuhnya.

AYO BACA : Hilangkan Kepenatan Anda di Kota Lama

Di dalam lapangan parade terdapat fasilitas yang bisa diakses masyarakat Belanda kala itu. Misalnya sumur artetis, tugu reklame, dan gazebo untuk bermain musik.

"Sumur itu digunakan masyarakat setiap harinya. Kalau tugu reklame itu untuk melihat informasi, biasanya dibangun di tempat strategis. Kalau di lapangan parade dulu ada di dekat Gereja Blenduk. Lalu ada gazebo beratap tapi terbuka, tak ada temboknya, di situ untuk bermain musik," tambahnya.

Taman Srigunting, lanjutnya, mulai dibangun sejak akhir 1970 dan awal 1980. Namun, taman belum terbuka untuk umum dan belum bisa dijamah oleh masyarakat.

"Awalnya itu taman statis. Artinya tidak bisa diakses masuk. Hanya sebagai paru-paru kota saja. Sebetulnya banyak taman pada orde baru, tapi saat itu memang belum bisa diakses. Dulu Tugu Muda juga sama, nggak terbuka untuk umum," katanya.

Mulai di tahun 2004, dibangunlah jalan setapak yang berada di empat penjuru taman. Hal tersebut dibangun agar masyarakat bisa menikmati berada di tengah taman Srigunting. 

"Beberapa kali taman dilakukan renovasi. Dahulu taman yang rata dengan Jalan Letjen Soeprapto, sekarang dinaikkan hampir setengah meter," katanya.

Rukardi setuju jika saat ini lapangan parade yang dulu merupakan tempat kegiatan militer Belanda berubah menjadi taman kota yang bisa diakses siapapun.

"Saya kira taman itu sudah tepat. Artinya sebagai sentrum Kota Lama yang memang membutuhkan landscape hijau. Kalau tidak ada itu pastinya di situ gersang seperti jaman kolonial dulu," katanya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->