Javara Culture Tawarkan Menu Organik dan Rempah Nusantara

  Minggu, 14 Juli 2019   Afri Rismoko
Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G. Rahayu ketika meninjau kuliner khas Javara Culture di Gedung Oudetrap, Kota Lama, Sabtu (13/7/2019) malam. (Afri Rismoko/Ayosemarang.com)

SEMARANG UTARA, AYOSEMARANG.COM--Kekayaan rempah-rempah dan masakan di nusantara telah terkenal sejak dulu. Keberagaman yang melimpah akan rempah dan pangan yang ada, telah membuat sebagian terlupakan oleh masyarakat Indonesia. 

Javara Culture hadir untuk mengembalikan kejayaan rempah dan pangan terlupakan warisan nusantara tersebut. Melalui konsep ''Shop - Eat - Learn'', Javara Culture diharapkan mampu membuat konsumen tidak hanya sekadar membeli produk rempah. Konsumen juga bisa menikmati aneka sajian makanan dan pangan terlupakan warisan nusantara yang sehat karena tanpa ada pengawet kimia.

Peresmian Javara Culture di Kota Semarang, Sabtu (13/7/2019) malam diikuti dengan pameran foto untuk pangan yang terlupakan. Acara dihadiri Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Ini merupakan otlet yang ketiga, setelah pembukaan di Jakarta dan Bali.

Founder and CEO Javara Indigenous Indonesia, Helianti Hilman menerangkan, Javara Culture merasa tertantang untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali warisan tanaman pangan Indonesia yang semakin terlupakan ke berbagai pasar, baik dalam maupun luar negeri. 

"Proses tersebut telah dimulai 10 tahun. Hanya saja, pasar Indonesia pada waktu itu belum siap menerimanya, sehingga terpaksa dilarikan ke luar negeri melalui ekspor dan laku keras," ujarnya.

Pihaknya memulainya dari delapan produk di 2008. Sekarang telah menjadi 900 produk, dengan 300 diantaranya telah bersertifikasi organik standar ekspor Amerika dan Jepang. Melibatkan 52.000 mitra petani, perimba dan nelayan yang tersebar di sekitar 24 daerah di Indonesia. 

"Hingga saat ini Javara Culture sudah mengekspor ke dua puluh negara. Hanya saja, saya bercita-cita agar orang Indonesia juga bisa menikmati dan menghargai keberkahan produk alam dalam negeri yang sangat beragam," katanya.

"Karena laku keras di eskpor. Kemudian kami mulai coba perkenalkan ke pasar di Indonesia. Dilakukan secara cepat, dengan periode waktu dua hingga tiga tahun belakangan ini sangat pesat karena kultur masyarakat kita jika barang ekspor dijual laku pasti banyak digemari di dalam negeri," sambungnya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G. Rahayu mengapresiasi adanya Javara Culture Cafe di kawasan Kota Lama. Menurutnya restoran tersebut dibutuhkan masyarakat yang saat ini gencar dengan gaya hidup sehat.

"Sekarang banyak orang sakit dam dituntut untuk sehat. Dengan adanya ini jadi alarm dengan makanan yang alami dan sehat," katanya.

Keberadaan Javara Culture Cafe menurutnya juga mewarnai kawasan Kota Lama. Juga menambah bahan pembuatan dokumen ke UNESCO sebagai bahan atau konten yang original asli Indonesia.

"Adanya Javara Culture Cafe ini menambah konten-konten lokal untuk dijual selain bangunan yang ada," tandasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar