Imam Besar Masjid Istiqlal Prihatin Masih Terjadi Intoleransi Agama

  Minggu, 04 Agustus 2019   Arie Widiarto
KH Nasaruddin Umar MA menjadi pembicara Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara, di Hotel Laras Asri, Kota Salatiga, akhir pekan lalu. (Istimewa)

SALATIGA, AYOSEMARANG.COM -- Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Nazaruddin Umar MA merasa prihatin masih terjadi intoleransi umat beragama yang masih senang mencari kesalahan orang lain. Dalam perspektif ilmu tasawuf, kata dia, orang yang masih senang mencari kesalahan orang lain menunjukkan bahwa orang tersebut masih harus belajar. Sedangkan orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri adalah orang yang sedang belajar. 

Tidak perlu mencari kambing hitam atau kambing putih. Lebih baik menjadi bagian orang yang mampu menyelesaikan masalah tanpa harus membusungkan dada, tegasnya.

Dia menyatakan hal itu dalam Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara, di Hotel Laras Asri, Kota Salatiga, akhir pekan lalu. 

Sekretaris Umum MUI Kota Salatiga Dr KH Miftahuddin MAg menjelaskan, selain Nasaruddin Umar, tampil sebagai pembicara Ketua Jamiyah Ulama Fathoni Darussalam Patani Thailand Dr Ahmad Kamae Waemusor bin HJ Yusof, Pengarah Pusat Perhubungan Awam dan Antar Bangsa Negara Brunei Darussalam Hj Sammali bin HJ Adam, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jateng Dr KH Abu Hapsin Umar, dan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi.

AYO BACA : Motoran, Ganjar Cek Jalur Alternatif Semarang-Magelang

Seminar diikuti utusan MUI Kabupaten/Kota se- Jateng, Perguruan Tinggi Islam, Pengasuh Pondok Pesantren, Ormas Islam dan Penyuluh Agama Islam se Kota Salatiga.

Prof Nasaruddin Umar yang juga mantan Wakil Menteri Agama itu mengatakan, memang ada perbedaan corak Islam daratan (Arab) dan Islam kepulauan seperti di Indonesia-Asia Tenggara.

Kultur Arab masyarakatnya dipengaruhi oleh strata sosial. Strata yang paling tinggi adalah keturunan Quraish bin Hasyim. Strata terendah para budak dan masyarakat pendatang di Arab. Kalau Islam Kepulauan corak masyarakatnya egaliter dan toleran, tegasnya.

Menurutnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kiblat umat Islam memang Kakbah di Kota Suci Makkah, tapi kiblat masyarakat Islam adalah Indonesia, termasuk Asia Tenggara.

AYO BACA : Bank Jateng-UKSW Jalin Kerja Sama Perbankan

Wakil Wali Kota Salatiga Muh Haris dalam upacara pembukaan mengatakan Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara tersebut mempertegas Kota Salatiga sebagai Kota tertoleran se- Indonesia. 

Tiga tahun berturut-turut sejak 2016, dalam survey yang dilakukan Setara Institut menempatkan Kota Salatiga sebagai tiga besar kota tertoleran se- Indonesia, jelasnya.

Sekretaris Umum MUI Kota Salatiga Dr. KH. Miftahuddin, MAg mengatakan bahwa kegiatan Seminar Internasional tersebut sudah menjadi program kerja MUI Kota Salatiga. Kegiatan itu bertujuan untuk mempertegas sikap toleransi umat Islam yang moderat. 

Seminar ini dilatari oleh keprihatinan terhadap semakin meningkatnya sikap intoleransi baik internal maupun eksternal, ditandai dengan semakin maraknya sikap ekstrim dalam beragama. Tujuan dari seminar ini adalah merumuskan kaidah umum toleransi yang moderat. Untuk tujuan itu maka kajian toleransi tersebut ditelaah secara komprehensif dengan berbagai pendekatan yakni teologi, tasawuf, fiqh, sosiologi dan pendekatan kawasan, kata Miftahuddin.

Kiai Ahmad Darodji menyambut positif seminar tema toleransi internal dan eksternal tersebut. Menurutnya, seminar tersebut persiapan awalnya dilakukan di bawah kepemimpinan MUI Kota Salatiga almarhum Drs Kiai Saifudin Zuhri yang dipanggil Allah swt akhir Ramadan lalu saat mengimami shalat jumat di masjid pesantrennya. 

Untuk itu Kiai Ahmad Darodji mengajak para peserta seminar membaca fatihah untuk mendoakan almarhum.  Peserta menjadi ikut larut dalam suasana mengenang almarhum Kyai Saifudin Zuhri bahkan tidak sedikit yang berkaca-kaca terbawa suasana haru mengenang kebaikan almarhum. Almarhum orang baik, maka kegiatan ini harus kita lanjutkan agar menjadi tambahan amal kebaikan beliau, tuturnya.

Seminar diakhiri dengan sessi pembacaan kesimpulan dan rekomendasi yang antara lain menekankan kembali perlunya menelaah kaidah umum toleransi dengan berpegang prinsip proporsional dan moderat. Tidak ekstrem tekstual maupun ekstrem kontekstual semata.

AYO BACA : Carfix Buka 6 Posko Mudik di Trans Jawa


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar