Menumbuhkan Budaya Literasi Keluarga Melalui Dongeng

  Senin, 30 September 2019   Abdul Arif
Ichvan Sofyan, Kepala Divisi Pendidikan dan Pengkaderan Perkumpulan Garuda Sylva. (dok)

AYOSEMARANG.COM-- Membangun budaya literasi di dalam keluarga harus dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan, tanpa paksaan, dan datang dari hati. Sebab, pada dasarnya budaya literasi itu adalah perwujudan cinta pada aktivitas membaca dan menulis yang lahir dari hati hingga menjadi sebuah kegemaran. 

Tumbuh kembang budaya literasi keluarga, khususnya bagi anak, akan menjadi kuat jika dimulai sajak usia dini. Ini berkaitan dengan usia emas  dari si anak.  Sebab, saat anak masih berada pada usia emas atau lima tahun pertama, saat itulah daya tangkap otak dan sifat meniru begitu tinggi. Sehingga inilah momen yang tepat untuk mulai menumbuhkan benih-benih kegemaran berliterasi. 

Proses menumbuhkan benih-benih kegemaran berliterasi bagi anak harus dikemas dengan cara-cara yang menyenangkan dan tanpa terkesan memaksa. Sebab pada dasarnya anak-anak tidak senang dengan paksaan. Hal ini berkaitan dengan karakter dasar manusia yang ingin bebas dan tanpa kekangan.  

Justru jika dipaksakan, anak akan mudah bosan pada ativitas membaca dan menulis. Bahkan bisa tumbuh mental memberontak dalam dirinya. Sehingga butuh sentuhan khusus untuk menumbuhkan kegemaran berliterasi tanpa terkesan memaksa dan mengekang. Artinya, untuk menumbuhkan benih-benih kegemaran berliterasi bagi anak harus dilakukan dengan cara-cara yang membahagiakan bagi anak. 

Menurut Efnie Indrianie, seorang psikolog anak dari Psychobiometric, mengungkapkan bahwa stimulasi terhadap perkembangan otak anak akan berjalan lebih mulus jika ia dalam kondisi bahagia. Dalam situasi ini, gelombang otaknya akan turun ke alfa. Namun jika anak sedang dalam kondisi stres, gelombang otaknya rata-rata sampai di level beta. Pada level beta inilah kapasitas dan kemampuan otak anak dalam menangkap informasi tidak sebaik alfa.

Di sinilah dongeng berperan. Membangun budaya  literasi dengan metode yang menyenangkan namun di dalamnya kaya dengan manfaat dan pengetahuan. Apalagi  mayoritas anak-anak memang lebih menyukai metode belajar yang mengundang daya imajinasi dan bersifat auditori atau dengan indera pendengaran. 

Meskipun dongeng notabene lahir dari imajinasi, namun ada segudang manfaat yang terkandung di dalamnya. Terutama untuk membangun budaya literasi keluarga yang menyenangkan. Apalagi pada zaman serba digital sekarang ini, tumbuh kembang budaya literasi menjadi sebuah hal yang sangat urgen. Mengingat sampai saat ini minat baca orang Indonesia masih tercatat sangat rendah.  

Berdasarkan hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, durasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Kondisi ini tentu  jauh di bawah standar UNESCO yang meminta agar waktu membaca tiap orang berkisar antara 4-6 jam per hari. 

Lebih miris lagi jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Minat baca orang Indonesia sangat jauh tertinggal. Di mana rata-rata orang di negara maju menghabiskan waktu membaca antara 6-8 jam per hari. Sementara pada durasi waktu yang hampir sama, orang Indonesia justru menghabiskan waktu selama itu bersama gawai dan televisi.

AYO BACA : Manfaat Bersepeda Lebih dari 30 Menit

Jika kondisi ini terus terjadi, maka degradasi wawasan juga akan semakin menjadi. Maka dari itu, budaya literasi di Indonesia harus benar-benar segera dibangun dengan konstruksi yang kuat. Dimulai dari tingkat keluarga melalui aktivitas mendongeng, sampai pada akhirnya menjadi gerakan literasi secara masif. 

Dongeng untuk Menumbuhkan Budaya Literasi

Pada dasarnya aktivitas mendongeng dari orang tua kepada anak memiliki segudang manfaat. Tetapi secara spesifik, ada beberapa manfaat dongeng yang berfungsi membangun konstruksi budaya literasi keluarga. Manfaat yang pertama yaitu  menumbuhkan rasa keingintahuan yang tinggi.

Anak yang sering mendengarkan dongeng dari orang tuanya cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik dan koleksi perbendaharaan kata yang lebih kaya. Sebagai contoh, ketika orang tua sering membacakan dongeng berupa fabel, maka anak tidak akan asing dengan kata “cerdik” atau “berjingkrak”. Lain halnya dengan anak-anak yang tidak pernah mendengarkan dongeng dari orang tuanya. Mereka akan asing dengan kata-kata tersebut. 

Saat usia anak semakin bertambah dan perbendaharaan kata semakin banyak, maka rasa keingintahuannya juga akan semakin tinggi. Imbasnya, mereka punya kecenderungan ingin mencari tahu, dan biasanya membaca buku akan menjadi pelampiasan untuk menuruti rasa keingintahuannya. 
Kedua, memaksimalkan perkembangan otak kanan.

Rutinitas mendongeng dalam keluarga  akan mengasah perkembangan otak kanan si anak.  Dari sisi fungsi, otak kanan yang terasah dengan baik mampu menghadirkan cara berpikir yang afektif, kreatif, dan imajinatif. Sehingga sangat berpegaruh pada tingginya daya kognitifitas anak serta menumbuhkan sikap peduli terhadap orang lain dan lingkungannya.

Menurut Laura Numeroff, seorang pengarang dan ilustrator cerita anak terlaris versi New York Times, mengungkapkan bahwa dengan membaca dongeng selama 20 menit saja tingkat kecerdasan anak dalam membaca dan menulis kreatif akan naik secara signifikan. Nilai 20 menit mendongeng setara dengan sekurang-kurangnya 10 hari belajar di sekolah. Ini membuktikan bahwa rutinitas mendongeng punya peran penting dalam perkembangan otak kanan si anak. 

Ketiga, ikatan keluarga yang kuat. Dengan membacakan dongeng secara rutin kepada anak, maka hubungan antara orang tua dan anak akan semakin kuat. Lewat keceriaan dan fantasi yang tersaji dari aktivitas mendongeng, anak akan merasa  orang tuanya benar-benar hadir. Tidak hanya sekadar fisiknya saja, tetapi juga kepedulian dan kasih sayangnya. 

Ketika anak telah memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, perkembangan otak kanan yang baik, serta ikatan keluarga yang kuat, maka sangat mudah untuk membangun budaya literasi di dalam keluarga. Sebab, ketiga hal itu adalah modal utama untuk membangun konstruksi kecintaan pada literasi, khususnya di dalam keluarga.

AYO BACA : Potensi Cacat Hukum atas Penempatan TNI dalam Jabatan di Kementerian ESDM

Jika budaya literasi keluarga tidak hidup, maka serangan berita bohong atau hoaks akan mudah masuk. Sebab tidak ada filter berupa pengetahuan yang kuat untuk memilah antara fakta dan hoaks. Sebaliknya, hadirnya budaya literasi keluarga yang kuat akan memberikan modal pengetahuan dan kemampuan analisis yang juga kuat. Modal inilah yang kemudian bisa menjadi filter atas setiap berita yang diterima. Sehingga setiap berita yang diterima tidak langsung ditelan bulat-bulat, melainkan tersaring oleh pengetahuan dan kemampuan analisis.

Agar Dongeng Tak Ditinggalkan

Melihat segudang manfaat dari aktivitas mendongeng, khususnya dalam hal menumbuhkan  budaya literasi keluarga, maka keberadaan dongeng harus bisa bertahan di tengah gempuran zaman yang serba teknologi.  Sebab, ketika anak lebih senang menjadikan gawai sebagai wahana utama dibandingkan buku, maka yang terjadi adalah degradasi wawasan yang semakin dalam. Jika itu terjadi, maka gelar Indonesia sebagai negara dengan budaya literasi yang rendah akan terus disandang.
Untuk itu, Indonesia harus segera keluar dari gelar buruk tersebut dan mulai menjadikan aktivitas mendongeng sebagai jembatan untuk mengenalkan anak pada literasi. Caranya dengan membuat dongeng menjadi semakin menarik, bahkan lebih menarik dari gawai yang selama ini telah menyita hati kaum urban dan milenial. 

Langkah pertama yang bisa ditempuh untuk membuat aktivitas mendongeng menjadi menarik yaitu dengan membuat perpustakaan mini di rumah. Dengan menyediakan perpustakaan mini berisi banyak jenis dongeng, maka anak tidak akan mudah bosan. Sebab, ada banyak varian dongeng yang bisa dinikmati seperti cerita rakyat, lagenda, hingga fabel. Jadi, ceritanya bukan hanya itu-itu saja. 

Selanjutnya, orang tua tinggal memberikan kesempatan bagi anak untuk memilih dongeng mana yang ingin dibacakan. Dengan memberi kesempatan memilih dongeng yang diinginkan, anak akan merasa dihargai, sekaligus menjadi  stimulan agar anak dengan senang hati mendengarkan dongeng yang akan disampaikan orang tuanya.

Perpustakaan mini tersebut nantinya juga penting untuk terus memperbarui  koleksinya. Sehingga ketika usianya sudah remaja, buku-bukunya pun sesuai dengan usia, minat, dan bakatnya. 
Kedua, mendongeng dengan penuh penghayatan.  Cara ini sangat penting dilakukan agar anak tidak bosan karena cara baca yang monoton. 

Dengan metode  membaca dongeng yang ekspresif, dan memainkan gestur, intonasi, hingga karakter tokoh, maka anak akan semakin tertarik. Alhasil, suasana aktivitas mendongeng menjadi lebih hidup. Apalagi jika peran itu dilakukan oleh kedua orang tua yang memerankan tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut. 

Ketiga, mendongeng pada waktu yang tepat. Pada dasarnya mendongeng tidak hanya bisa dilakukan menjelang tidur saja. Justru aktivitas mendongeng akan semakin efektif  jika dilakukan pada saat waktu luang dan si anak menginginkan dibacakan dongeng. Sehingga ketika  dongeng selesai dibacakan ada interaksi lebih. Misalnya, orang tua bisa meminta  anaknya untuk menyampaikan pelajaran yang didapat dari dongeng tersebut secara lisan maupun tulisan. Dengan begitu, manfaat dongeng akan lebih maksimal dan kedekatan orang tua dengan anak semakin kuat. Lebih dari itu, hasrat si anak terhadap dongeng juga akan semakin kuat karena orang tua yang selalu siap sedia membacakan dongeng saat anak menginginkannya. 

Itulah beberapa cara menghidupkan dongeng agar tak hilang dimakan zaman yang semakin serba instan. Jika dongeng telah membumi di dalam keluarga secara masif, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara dengan budaya literasi yang kuat. Keluar dari statusnya yang selama ini dicap sebagai negara dengan budaya literasi yang sangat  rendah. 

Apalagi di dalam dongeng khususnya cerita rakyat, banyak mengandung nilai-nilai budaya Indonesia. Sehingga bisa dikatakan bahwa mendongeng adalah metode yang efektif dalam menumbuhkan benih-benih kegemaran berliterasi sekaligus menjadi wahana untuk melestarikan budaya. 
Maka dari itu, eksistensi dongeng harus semakin hidup, dan budaya literasi di Indonesia harus sesegera mungkin dibangun. Dimulai dari dongeng sebagai stimulan, sampai akhirnya mencapai tahap “mencintai literasi”. Dimulai dari tingkat keluarga sampai akhirnya menjadi gerakan literasi secara masif dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan budaya literasi yang kuat.

-Ichvan Sofyan, Kepala Divisi Pendidikan dan Pengkaderan Perkumpulan Garuda Sylva

AYO BACA : Budidaya Udang Vaname di Desa Tambakbulusan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->