Gus Yusuf Ingatkan Pentingnya Memilih Pesantren yang Tepat

  Rabu, 09 Oktober 2019   Vedyana Ardyansah
Gus Yusuf saat memberikan nasehat dalam acara Mujahadah dan Tabligh Akbar Menyongsong Hari Santri Nasional (HSN) 2019 di Masjid Al Husna, Jl Satrio Wibowo I Tlogosari Kulon Semarang.

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM-- Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) API Tegalrejo, Magelang, KH. M. Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf mewanti-wanti masyarakat agar bisa berhati-hati dalam memilih pesantren untuk memondokkan putra-putrinya.

Gus Yusuf menambahkan, sangat penting untuk memilih tempat belajar bagi anak. Hal itu, lantaran saat ini banyak bertebaran paham-paham radikalisme yang menyusup. Oleh karena itu, pesantren yang akan dipilih untuk tempat belajar agama harus jelas dan tidak mengajarkan paham yang melenceng. 

"Kalau mau memondokkan putra-putrinya harus pilih pesantren yang jelas. Jelas pesantrennya, jelas guru, ustaz dan kiainya. Selain itu, juga jelas ajaran akidahnya yakni ahlussunnah wal jamaah," ucap Gus Yusuf, dalam keterangan yang diterima ayosemarang.com, Rabu (9/10/2019).

AYO BACA : Tiga PLTSa di Jateng Jadi Percontohan

Menurut Gus Yusuf, paham radikalisme sangatlah berbahaya. Berbagai cara mereka tempuh untuk bisa memengaruhi dan mengubah akidah yang sudah ditanam sejak kecil.

Biasanya, mereka (para radikalis) akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak atau biasa kita dengar dengan istilah jebakan batman.

"Jangan sampai kita kena jebakan batman. Tiga pertanyaan yang biasanya dilemparkan, baik mana antara Alquran dan pancasila? Baik mana antara Jokowi dan Nabi Muhammad? Kemudian, baik mana antara negara Islam atau negara kafir?" ucap Gus Yusuf mencontohkan saat acara Mujahadah dan Tabligh Akbar Menyongsong Hari Santri Nasional (HSN) 2019 di Masjid Al Husna, Jl Satrio Wibowo I Tlogosari Kulon Semarang.

AYO BACA : Pakar Sebut Penyebaran Informasi Sesat karena Literasi Media Rendah

Gus Yusuf pun menerangkan, ketiga pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang menjebak. Ia menjelaskan, Alquran dan Pancasila tidak bisa dipertentangkan. Tidak ada satu sila pun yang bertentangan dengan Alquran. 

"Indonesia bukan negara agama tapi negara beragama. Indonesia bukan negara Islam dan bukan negara kafir, tapi negara Pancasila," terangnya.

Sementara itu, Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) Jawa Tengah berkomitmen untuk menjadi wadah berhimpunnya remaja masjid di Jateng. 

Ketua PRIMA DMI Jateng, Ahsan Fauzi mengatakan pihaknya, ingin mempersatukan pemuda remaja masjid melakukan kegiatan positif baik di masjid, sekolah, universitas dan lain-lainnya.
 
Tujuannya adalah untuk membentengi pemuda dari paham radikalisme dan pengaruh narkoba atau minuman keras.

"Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Tidak menutup kemungkinan, kegiatan tidak hanya berupa pengajian saja. Namun, kita gelar dengan kegiatan-kegiatan olahraga, seni dan budaya yang sifatnya menghibur dan positif, seperti kegiatan out bond, latihan kepemimpinan, penanaman nilai-nilai kebangsaan dan lainnya. Di sela kegiatan tersebut nanti disisipi tausiah," katanya.

AYO BACA : GME dan Rizki Febian Sukses Hebohkan Fisipology 2019


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar

-->