Bekal Moral di Atas Intelektualitas

  Selasa, 05 November 2019   Abdul Arif
Muhammad Afifuddin, Ketua Bidang LITBANG Jaringan Satu Indonesia sekaligus Kepala Trainer Mec Indonesia Cabang Bandung.
AYO BACA : Akhir Pekan, Cuaca Kota Semarang Diprediksi Berawan dan Hujan

AYO BACA : Ganjar Minta Bupati Wali Kota Segera Kirimkan Rekomendasi UMK 2020

AYOSEMARANG.COM-- Teknologi telah memasuki beberapa aspek di negeri ini, misalnya ekonomi bisnis, politik hingga jasa kesehatan. Saat ini melihat Grand design yang presiden Joko Widodo terapkan merupakan penggabungan aspek pendidikan dengan teknologi sehingga menciptakan sebuah inovasi dan kreativitas yang baru. Namun terlepas dari semua itu, pemerintah juga harus mengetahui problematika uang terjadi dalam dunia pendidikan karena pendidikan menjadi sebuah sasaran utama dalam memaksimalkan SDM yang berintegritas sesuai dengan harapan bangsa ini. 
 
Pendidikan adalah salah satu langkah seseorang untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan. UU No. 2 tahun 1989 menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar seseorang menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pengajaran dan pelatihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Berdasarkan definisi singkat tersebut, sangat jelas arah pendidikan dalam negeri ini adalah memfasilitasi anak bangsa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan ke depan, selain dari pada itu pendidikan menjadi salah satu aspek terpenting untuk menciptakan sebuah kualitas diri setiap individu.
 
Kualitas seseorang dalam dunia intelektual sangatlah penting untuk memecahkan segala persoalan hidup karena dengan sebuah bekal wawasan dan pengetahuan yang tinggi akan membuat seseorang bisa memecahkan sebuah masalah dalam kehidupan dan berguna untuk sesama, namun kualitas kepribadian jauh lebih penting karena setinggi apapun pendidikan yang dimiliki seseorang, tidak akan sempurna jika kualitas diri dalam kepribadiannya masih rendah. Kualitas kepribadian seseorang tidak hanya mengandalkan sebuah otak untuk berfikir namun juga membangun karakter dalam jiwa seseorang untuk menjadi pribadi yang unggul. Contoh kualitas kepribadian dan mental yang dimaksud oleh penulis adalah memiliki etik, jujur dalam bersikap, mau belajar dari pengalaman dan pantang menyerah serta bertanggung jawab.
 
Berikut adalah dua bekal yang harus dimiliki oleh setiap anak bangsa dalam menjalankan kehidupan beragama dan bernegara. Pertama, harus memiliki kualitas intelektual dengan menguasai materi atau skill yang telah mereka pilih dan mendalaminya secara rutin untuk memperluas ilmu pengetahuan. Selanjutnya adalah bekal kepribadian yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam kehidupan bersosial seperti adab, etika, serta sopan santun dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Problematika yang terjadi di Indonesia saat ini, telah banyak orang yang memiliki kualitas intelektual yang tinggi namun kualitas kepribadiannya masih sangat rendah. Persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan cara menciptakan system teknologi di dalam aspek pendidikan, namun perlu adanya sebuah metode persuasive dan terstruktur secara horizontal sesama pelajar dan vertical antara pengajar dan pelajar begitu juga sebaliknya. Pelajar saat ini memiliki banyak inovasi dan kreativitas yang mereka bangun dan kembangkan baik secara personal maupun kelompok namun yang penulis analisis sejauh ini masih lemahnya kualitas kepribadian seseorang dalam aspek horizontal maupun vertical. Dari beberapa pelajar di kota Bandung yang penulis teliti dan perhatikan khususnya di kalangan SMA sederajat, mereka masih lemah dalam berinteraksi secara vertikal baik dengan guru, trainer, bahkan orang yang lebih tua. Selain dari pada itu, cara mereka untuk berkomunikasi secara horizontal juga masih sangat minim, terlihat dari bagaimana mereka bersanda gurau dan berbicara dengan teman sekelasnya. Problematika di atas sebenarnya menjadi sebuah problem utama dalam dunia pendidikan karena peserta didik yang saat ini belajar di bangku SMP dan SMA. Mereka akan menjadi pemimpin bangsa di 20-30 tahun mendatang dan otomatis mereka akan menjadi pemimpin dan penggerak roda demokrasi di negeri ini. Masalah tersebut tidak akan bisa terselesaikan adanya teknologi yang mereka selalu genggam setiap harinya, namun dengan cara yang persuasive dengan mengajarkan mereka sejak dini tentang sebuah nilai moral, etika dan rasa tanggung jawab disetiap aktivitas dalam kehidupan nyata.
 
Di beberapa Negara maju, Jepang misalnya, nilai dan ilmu tentang moral, etika dan adab ditanamkan terlebih dahulu pada generasi muda sebelum lebih jauh mempelajari dunia intelektual, sehingga dengan sendirinya mereka memiliki pondasi yang kuat tentang pentingnya harga diri, rasa malu, dan sikap jujur. Pendidikan moral tersebut tidak diberikan dalam bentuk teks, hafalan, juga tes tertulis melainkan bentuk praktik dalam kehidupan nyata.
 
Berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini, mayoritas masih banyak penduduk di Indonesia yang lebih mengedepankan nilai dari angka kecerdasan dan kepintaran dibanding sebuah nilai etika dan moral yang tidak dapat diukur melalui angka. Pendidikan bukan segalanya namun segalanya berawal dari pendidikan, pejabat yang korupsi, pengusaha yang mementingkan diri sendiri bahkan sampai pada nitizen yang debat kusir di media sosial, itu semua adalah dampak dari buruknya pendidikan di Indonesia. Apanila sampai pada detik ini, kita masih menganggap bahwa problematika pendidikan di Indonesia terletak dari cara mereka berpengatahuan banyak, bagi penulis itu salah besar, sebab problem yang saat ini terjadi berasal dari jiwa dan mindset mereka dalam dunia pendidikan, saat ini sudah banyak yang mereka lebih senang untuk berhenti sekolah/ kuliah karena melihat beberapa tokoh yang mereka anggap hebat dengan mereka berhenti kuliah dan focus akan sebuah hasil yang nyata. Cerita singkat itu benar adanya namun tidak bisa diclaim bahwa mereka yang melanjutkan setiap pendidika hingga tuntas akan gagal dimasa depan. Setiap individu punya jalan masing-masing untuk memilih tentang hidupnya, guru sebagai pengarah dan pendidik agar mereka tidak tersesat, selain tersesat dalam keilmuan juga agar tidak salah pilih dalam bergaul. Sebab etika, moral dan sopan santun hingga sebuah tanggung jawab itu akan muncul dari 3 aspek, yang pertama orang tua, kedua guru dan yang terakhir adalah lingkungan. Dari ktiga aspek tersebut, lingkungan sangat berpengaruh dengan pengembangan kualitas kepribadian seseorang, lingkungan akan tercipta dengan baik jika pendidikan di negeri ini dibenahi dalam respond etika dan moralnya.
 
Penulis sempat berkomunikasi dengan beberapa siswa di kota bandung, salah satunya bernama Daniel, dia saat ini kelas XII IPA di salah satu SMA negeri di kota bandung, menurut perspektifnya, pendidikan di sekolahnya yang diterapkan saat ini masih mengacu pada nilai angka, “begini kak, misal ni, Daniel punya etika, sopan pada guru di sekolah tapi Daniel belum bisa menguasai materi dikelas, itu tidak akan pernah diapresiasi bahkan itu bukan sebuah prestasi kak, beda halnya dengan teman Daniel yang bernama Bibil, dia anaknya Cerdas kak, tapi mohon maaf ya kak, dia kurang memiliki etika kepada teman-teman disekolah apalagi dengan guru, namun guru di sekolah sering menjadikan Bibil sebagai contoh tauladan akan kecerdasannya meskipun dia memiliki etika yang rendah kak”.
 
Dari penyampaian di atas, penulis hanya bisa menyimpulkan masih banyak sikap profesionalisme guru yang masih belum objektif dan rasional, minimnya guru yang produktif saat ini juga menjadi sebuah problem akan perkembangan siswa dalam belajar di sekolah. Guru yang sejatinya menjadi orang tua kedua bagi setiap siswa sudah seharusnya memiliki sertifikasi yang berkualitas dan tidak hanya mementingkan sebuah gaji bulanannya.
 
Penulis menginginkan sebuah trobosan dari pemerintah untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan di Indonesia yang mengedepankan sebuah moral dan etika, negera ini maju bukan hanya soal kualitas intelektualan seseorang namun juga karena memiliki etika dan adab dalam berkomunikasi serta berdiplomasi dengan negara-negara tetangga. Ketika kita kembali pada pancasila Negara ini maka substansi dari sila ke 3,4 dan 5 telah hilang dan semua itu bukan karena kita semua orang bodoh akan pendidikan formal, tapi karena sebuah toleransi, saling menghargai dan terpenting adalah sebuah nilai adab tentang tindakan korupsi yang terjadi pada belakangan ini.
 
Dengan ditiadakannya sertifikat Akta 4 bagi mereka yang kuliah di luar dari pada fakultas FKIP, membuat kualifikasi guru sangat menurun. Bayangkan mereka yang tidak memiliki basic kurikulum, silabus serta strategi dan metode pembelajaran bisa melakukan sebuah proses belajar mengajar di beberapa sekolah di negeri ini sehingga yang terjadi mereka hanya menyampaikan sebuah materi seperti hanya mengugurkan sebuah tanggung jawab tanpa ada rasa beban moral untuk menciptakan sebuah metode yang bisa meningkatkan kualitas siswa bukan hanya soal kualitas intelektualannya namun juga kualitas kepribadiannya. Pemerintah harus memiliki kebijakan yang Topdown kepada setiap sekolah baik negeri maupun swasta yang wajib dilakukan oleh setiap pimpinan sekolah dengan memfokuskan pada dua aspek tersebut, yang pertama penanaman karakter pendidikan yang dilakukan dengan praktek dunia nyata bukan hafalan dan yang kedua membuat system kualifikasi guru yang berkualitas disetiap sekolah.
 
Persoalan zonasi yang saat ini banyak disalahgunakan oleh siswa dan orang tua siswa pun ketika menginginkan sekolah di salah satu sekolah favorit, dengan mudahnya membeli Kartu keluarga orang lain untuk sekedar sistem yang pemerintah buat. Hal itu tidak bisa dibiarkan, problem pendidikan saat ini sangat komplit dan jangan pernah mencoba untuk melangkah ke angka 4 (teknologi) ketika angka 2 dan 3 yaitu pendidikan karakter dan kualitas guru masih belum stabil sebab itu hanya akan membuat masalah baru bagi bangsa ini.
 
Penulis yakin pemerintah sebagai stakeholder segala aspek di negeri ini salah satunya aspek pendidikan telah memiliki rancangan yang sangat matang tentang problem di atas, dan penulis juga meyakini bahwa bapak presiden Joko widodo telah mempertimbangkan banyak hal dalam memilih kabinet Indonesia Maju salah satunya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, semoga apa yang penulis yakini bisa benar-nenar menjadi sebuah hal yang direalisasikan dan problem pendidikan yang akan akan segera diselesaikan.
 
Harapan penulis dalam catatan singkat ini, mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang unggul dengan menciptakan kualitas kepribadian  dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar, sebab dunia pendidikan bukan hanya soal nilai angka namun juga nilai secara etika dan moral yang perlu dikembangkan dan selain dari pada itu pemerintah sudah seharusnya menciptakan sebuah strategi khusus sehingga terciptanya anak bangsa yang memiliki moral, etika, dan karakter yang profesional demi terwujudnya pendidikan yang profetik di Indonesia.
 
-Muhammad Afifuddin, Ketua Bidang LITBANG Jaringan Satu Indonesia sekaligus Kepala Trainer Mec Indonesia Cabang Bandung.

AYO BACA : Asosiasi Pondok Pesantren PWNU Jateng Gelar Naharul Ijtima

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->