Rektor Termuda, Risa Santoso Tak Wajibkan Mahasiswa Kerjakan Skripsi

  Jumat, 08 November 2019   Adib Auliawan Herlambang
Rektor termuda di Indonesia, Risa Santoso (Antaranews)

MALANG, AYOSEMARANG.COM -- Rektor termuda di Indonesia, Risa Santoso, mengaku awalnya tak memiliki cita-cita untuk menjadi rektor. Rektor pertama Institut Teknologi dan Bisnis ASIA Malang ini mengatakan, hanya ingin menjadi sosok pencipta yang berdampak positif. 

Namun, bukan berarti ia tak paham dunia pendidikan. Sebab, saat menempuh studi S2 di Harvard University, Risa memilih jurusan magister pendidikan.

"Kebetulan ada kesempatan ya saya ambil," kata Risa saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (7/11/2019).

Bahkan, perempuan cantik kelahiran 27 Oktober 1992 ini mengaku, bakal tidak mewajibkan mahasiswa mengerjakan skripsi.

AYO BACA : Rektor Termuda Indonesia Kagumi Sosok Sri Mulyani

Menurutnya, yang paling penting adalah mahasiswa dapat merangkum studinya selama empat tahun menempuh pendidikan. Kemudian menjadikan mahasiswa siap di dunia kerja.

"Mungkin bisa projects lain, melibatkan magang atau melibatkan perusahaan yang dia tuju. Saya pikir itu lebih berdampak kepada mereka (mahasiswa)," kata Risa.

"Kalau mau melanjutkan S2, mau jadi dosen akademisi tentunya tetap bikin skripsi," imbuh Alumnus University of California Berkeley ini. 

Ia melanjutkan, pekerjaan rumah (PR) paling besar di dunia pendidikan nasional adalah agar bisa menyiapkan mahasiswa, tidak hanya sesuai job desk sekarang, tapi juga untuk perubahan di masa depan.

AYO BACA : Pemerintah Diminta Realisasikan Insentif bagi Industri Maritim

Risa ini juga membenarkan pernah bekerja di Kantor Staf Kepresidenan (KSP) tak lama usai lulus perguruan tinggi alias wisuda. Kala itu Risa bertugas sebagai Tenaga Ahli Muda KSP yang dikomandoi Luhut Panjaitan.

"Dua tahunan ikut KSP, sampai 2017. Saya di bawah Deputi III bidang isu - isu strategis ekonomi, sebagai tenaga ahli," ungkapnya.

Selanjutnya, ia lantas direkrut menjadi dosen di Institut Asia Malang yang kala itu masih terbagi dua dalam bentuk Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) ASIA Malang dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malang.

Selain aktif pengajar, Risa juga diamanahi sebagai Direktur Pengembangan Bisnis.

Lantas apa alasannya meninggalkan KSP? Penggemar beladiri aikido ini mengatakan ia ingin bisa merasakan terjun langsung ke lapangan.

"Karena di KSP lebih soal policy-nya, rekomendasi. Alasannya kembali ke Malang agar bisa terjun ke lapangan dan merasakan hasilnya langsung," katanya.

AYO BACA : Rektor Unnes Mangkir Saat Dipanggil UGM Soal Plagiarisme


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->