Warga Kaliwungu Gelar Tradisi Weh-Wehan Sambut Maulud Nabi

  Jumat, 08 November 2019   Abdul Arif
Warga di Kaliwungu Kendal saling bertukar makanan dan jajanan dalam tradisi Weh-wehan atau Ketuwin menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW, Jumat (08/11/2019) sore. (Edi Prayitno/ Kontributor Kendal)

KENDAL, AYOSEMARANG.COM- Warga Kaliwungu Kendal mempunyai tradisi unik menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Warga saling bertukar makanan dan jajanan khas yang dipajang di depan rumah warga. Tradisi ini dinamakan weh-wehan atau ketuwin, yang dalam Bahasa Indonesia berarti saling memberi. Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan hanya ada di Kaliwungu Kendal.

Dalam tradisi ini, hampir seluruh kampung-kampung di Kaliwungu Kendal selalu ramai, layaknya lebaran warga berkeliling kampung membawa makanan untuk diberikan kepada tetangga ataupun warga lainnya. Anak-anak berpakaian baru membawa makanan untuk diberikan kepada tetangga dan menyambutnya dengan penuh suka cita.

Hampir setiap rumah di Kaliwungu Kendal ini menyiapkan aneka macam jajanan dan makanan. Bukan untuk dijual, melainkan untuk ditukarkan dengan makanan lain yang diberikan tetangga.

AYO BACA : Peringati HUT ke-70 Loyola, KEKL Gelar Donor Darah Serentak Sedunia

Tradisi weh-wehan yang sudah ada sejak dulu ini terus dikembangkan dan selalu dinantikan anak-anak karena bisa menikmati aneka macam jajanan dan makanan. Tradisi weh-weh-an sendiri mempunyai makna syukur dan saling berbagi kepada orang lain, sebagai bentuk rasa cinta atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Makanan yang disajikan dalam tradisi tahunan ini berupa jajanan hingga makanan tradisional yang setiap tahun selalu ada yakni sumpil dan ketan aneka warna. Sumpil makanan dari bahan beras dibungkus dengan daun bambu ini selalu menjadi incaran warga karena jarang dijumpai selain menjelang maulud nabi saja.

Menurut warga, weh-wehan mengandung makna yang baik karena mengajarkan untuk saling berbagi dan memberi sejak kecil. “Dalam tradisi ini warga baik miskin maupun kaya,  tidak ada batasan dan tidak mengenal suku, agama maupun strata sosial untuk saling memberikan makanan setiap tahunnya,” ujar Samsul Ulum warga Kampung Kenduruan Krajan Kulon Kaliwungu Kendal.

AYO BACA : Cegah Desa Siluman, Ganjar Minta Evaluasi dan Perbaiki Data Desa

Yang paling menikmati tradisi weh-wehan ini adalah anak-anak, karena banyak jajanan dan makanan yang didapat dari saling bertukar makanan. Setahun sekali anak-anak di Kaliwungu layaknya pesta makanan dan tidak perlu jajan di warung ataupun membeli, karena makanan dalam tradisi ini diberikan secara cuma-cuma.

“Senang bisa dapat banyak jajan, dapat minuman susu, jajanan roti, puding juga,” ungkap Rafa Haidar.

Bagi warga, tradisi weh-wehan ini mempunyai makna saling berbagi dan mengalap berkah. Arti kata weh-wehan atau saling memberi ini juga mengajarkan kepada warga untuk saling berbagi. 

Makanan yang disajikan kini mulai banyak yang instan namun makanan khas masih dijumpai dan selalu dicari. Tidak hanya makanan khas yang disajikan berbagai macam makanan dan minuman juga disajikan warga sebagai bentuk suka cita menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

AYO BACA : Ganjar Ancam Ngetak Ndas Calo CPNS


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->