Politikus Golkar Sebut Tak Ada Larangan Eks Koruptor Maju Pilkada

  Kamis, 21 November 2019   Adib Auliawan Herlambang
Ketua Harian DPD I Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah, Iqbal Wibisono (kiri). (golkarpedia)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Ketua Harian DPD I Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah, Iqbal Wibisono mengatakan, tidak ada larangan mantan terpidana korupsi untuk berebut kursi kepala daerah/wakil kepala daerah pada pilkada serentak di 270 daerah. 

"Kalaupun DPR RI maupun Presiden bermaksud merevisi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota (UU Pilkada), seyogianya tetap mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi (MK)," kata Iqbal di Semarang, Kamis (21/11/2019). 

AYO BACA : PPP Minta KPU Hati-hati Menyusun Peraturan Pilkada

Dalam putusan MK Nomor 42/PUU-XIII/2015, kata alumnus Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) ini, ada frasa "bagi mantan terpidana yang secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana".

Dengan demikian, kata Iqbal, sepanjang eks koruptor secara terbuka dan jujur mengumumkan bahwa yang bersangkutan bekas narapidana korupsi dan tidak sedang dicabut hak politiknya, bisa menjadi peserta Pilkada Serentak 2020.

AYO BACA : Bakal Jadi Bos BUMN, Ahok: Hidup Gua Ditolak Melulu

Setelah ada putusan MK Nomor 42/PUU-XIII/2015, ada perubahan mengenai persyaratan menjadi calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Dalam hal ini, menurut Iqbal, eks koruptor boleh mencalonkan diri sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah.

Dalam UU No. 10/2016, Pasal 7 Ayat (2) Huruf g disebutkan bahwa calon gubernur/calon wakil gubernur, calon wali kota/calon wakil wali kota, dan calon bupati/calon wakil bupati harus memenuhi persyaratan tidak pernah sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, atau bagi mantan terpidana telah secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana.

Sebelumnya, Ketua KPU Arief Budiman, dalam jumpa pers di Kantor Presiden, pada Senin (11/11/019) lalu, akan mengajukan usulan larangan pencalonan mantan terpidana korupsi sebagai calon kepala daerah/calon wakil kepala daerah ke dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU).

Ketika Iqbal merespons hal itu, sebaiknya KPU mematuhi putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 46 P/HUM/2018 yang menyatakan Pasal 4 Ayat (3), Pasal 11 Ayat (1) Huruf d, dan Lampiran Model B.3 PKPU No. 20/2018 sepanjang frasa "mantan terpidana korupsi" bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Pemilihan Umum juncto UU No. 12/2011 tentang Pembentukan Praturan Perundang-undang. 

AYO BACA : Eks Koruptor Dilarang Ikut Pilkada, Politikus Golkar: Kurang Manusiawi


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar