Kekerasaan Seksual Terhadap Anak Tidak Ada Habisnya

  Minggu, 01 Desember 2019   Abdul Arif
[Ilustrasi] Kekerasan seksual pada anak. (pixabay.com)

AYOSEMARANG.COM- Di zaman yang semakin modern ini, dan canggihnya teknologi digital pada era saat ini, apapun bisa terjadi dan sangat mudah orang melakukan banyak hal untuk mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Teknologi yang semakin canggih ini membuat para penggunanya dapat membuat hal-hal yang baru, menonton video atau gambar yang tidak sepantasnya dan membuat penggunanya puas dengan apa yang mereka inginkan. Melalui teknologi digital saat ini banyak penggunanya yang menyalahgunakan kemajuan teknologi untuk melakukan hal-hal negatif. Salah satunya dengan melakukan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur. 

Jika kita membahas tentang pelecehan seksual terhadap anak, kasus ini tidak ada putusnya karena setiap tahunnya banyak sekali kasus pelecehan seksual yang terjadi, seperti kasus pelecehan seksual yang terjadi di Jakarta Barat seorang pedagang cilor yang bernama Yadi Suradi (35) diduga melakukan pelecehan seksual kepada tiga siswi SD negeri di kawasan Kapuk, Cengkareng. 

Berdasarkan informasi tersebut yang menjadi korban pelecehan seksual Yadi adalah AA(7), CA (6) dan KA (5). Sebelumnya Yadi sudah melihat anak-anak tersebut sedang bermain, kemudian Yadi bermodus memberikan iming-iming permainan kepada anak tersebut dan mengajak anak-anak tersebut bercanda. 
\nNamun, setelah itu Yadi mangajak tiga anak tersebut untuk pergi ke gudang dan pelecehan seksual tersebut terjadi. (m.antaranews.com 27/11/2019).

Pelecehan seksual pada anak pada saat ini semakin marak dan tidak dapat dihentikan. Masih banyak pelaku yang melampiaskan nafsu seksualnya kepada anak-anak yang masih dibawah umur. Faktanya masih banyak kasus kekerasaan terhadap anak-anak di Indonesia yang semakin meningkat.

Di Indonesia sendiri hampir sebagaian anak di bawah umur mengalami sebuah pelecehan seksual, dari beberapa korban seksual mulai dari anak usia dini, anak SD bahkan anak kandung menjadi bahan pelampiasan nafsu para pelaku. Jika kita telusuri secara detail, masih banyak sekali kasus pelecehan seksual yang tidak pernah terselesaikan dan dihukum sesuai dengan undang-undang. Hukum di Indonesia belum mampu memberikan efek jera pada pelaku. Hal ini terbukti dengan meningkatnya kasus pelecehan seksual yang terjadi kepada anak-anak dibawah umur.
\n 
\nPelaku kekerasan seksual melakukan berbagai cara untuk menipu para korbannya dengan memberikan iming-iming uang, membelikan baju, memberikan mainan. Hal ini dilakukan agar calon korban tidak curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh  pelaku.

Seperti data yang tercacat di LPSK ada peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi sejak 2016 sejumlah 25 kasus lalu meningkat pada tahun 2017 menjadi 81 kasus dan puncaknya ada pada 2018 menjadi 206 kasus. Kemudian Achmad mengungkapkan pelaku kekerasaan seksual terhadap anak didominasi oleh orang terdekat sebesar 80,23 persen. Sedangkan menurutnya 19,77 persen dilakukan oleh tidak kenal (detiknews.com 24/7/2019).

Kemudian Data KPAI menunjukkan hingga Oktober kekerasaan seksual di dunia pendidikan mencapai 17 kasus dengan 89 anak menjadi korban. Mereka terdiri dari 55 perempuan dan 34 laki-laki (liputan6.com 01/11/2019).
\n 
\nMelalui data tersebut dapat dilihat bahwa semakin tahun semakin tinggi persentase kekerasaan terhadap anak. Penyebab paling tinggi kekerasaan pada anak terjadi pada lingkungan sekitar, namun tidak hanya dari lingkungan sekitar saja bahkan kekerasaan seksual terhadap anak datang dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Pasti kita tahu bahwa kasus pelecehan seksual terhadap anak akan memberikan dampak yang sangat buruk terhadap memori anak dan psikologi anak tersebut seperti frustasi, menyendiri, tidak percaya diri dan memberikan trauma yang berkepanjangan. Pelaku seksual ini tidak terjadi karena begitu saja ada beberapa faktor yang terjadi seperti meminum minuman keras, datangnya keinginan melakukan seksual yang tidak dapat dikendalikan lagi setelah melihat video porno, bahkan ada unsur menyukai calon korbannya.

Seharusnya, lingkungan keluarga menjadi pelindung utama bagi anak-anaknya dengan cara memberikan education terhadap anak. Selain, memberikan pendidikan terhadap anak, orang tua juga berkewajiban untuk memantau anak-anaknya untuk tidak menonton hal-hal yang tidak sesuai dengan usianya. Hal ini dikarenakan agar nantinya anak-anak tidak mendapatkan pembelajaran seksual di tempat lain misalnya melihat pornografi di youtube, atau bahkan mendapatkan informasi dari tempat yang sumbernya tidak dapat dipercaya. Selain itu, orang tua harus membatasi anak dalam penggunaan gadget yang berlebihan, orang tua juga harus memantau perkembangan anak, kemudian melarang anak-anak mereka untuk menggunakan sosial media, karena saat ini sosial media merupakan momok yang sangat menakutkan bagi semua orang tua. Melalui sosial media banyak pelaku seksual dapat beraksi dengan mengupload gambar dan video yang berbau pornografi.
\n 
\nSelain itu orang tua juga harus membekali anak-anaknya tentang keagamaan, sehingga anak-anak memiliki pedoman agama dan meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Para pelaku kekerasaan seksual juga harus dihukum seberatnya, hal ini bertujuan agar pelaku kejahatan terhadap anak tidak terjadi kembali serta memberikan efek jera kepada pelakunya.

Walaupun di Indonesia sudah memberikan hukuman kebiri kimia terhadap pelaku kejahatan seksual namun, kasus pelecehan seksual ini semakin meningkat sehingga  hukum di Indonesia harus ditingkatkan kembali untuk melindungi anak-anak Indonesia dari kekerasan pelecehan seksual.
\n 
\nPencegahan kekerasaan seksual ini dapat dilakukan dengan cara orang tua membuka komunikasi dengan anak-anaknya. Meluangkan waktu bermain dengan anak-anak. Orang tua memberikan penjelasan kepada anak-anak bagian tubuh yang tidak boleh diperlihatkan atau disentuh oleh orang lain. Orang tua berkewajiban mengenalkan anak perbedaan antara orang asing, kenalan, teman, sahabat, dan kerabat, kemudian jika anak sudah melewati batas usia dini orang tua berkewajiban untuk memberikan pengertian kepada anak tentang sikap malu jika anak dalam keadaan telanjang. 

Orang tua harus mengetahui dengan siapa anak-anak bermain. Orang tua memberikan pengetahuan agar anak tidak menerima pemberian berbentuk apappun dari orang lain. Orang tua juga harus mendengarkan anak jika anak ingin menjelaskan sesuatu.
\n 
\nSelain orang tua berperan penting dalam melindungi anak-anaknya, peran pemerintah juga sangat penting dalam melindungi anak-anak Indonesia dari pelecehan seksual. 

Pada saat ini masih banyak orang tua yang kurang memperhatikan anak-anaknya dan minim literasi. Peran utama pemerintah adalah melakukan sosialisasi terhadap orang tua anak untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anak-anak mereka. Namun, tidak hanya pemerintah saja yang melakukan hal tersebut. Pihak sekolah juga harus memiliki peran untuk mendukung tidak adanya pelecehan seksual terhadap murid-muridnya dengan cara memberikan pengertian kepada murid-muridnya agar tidak menerima barang dari orang asing. Tidak berbicara dengan orang asing pihak sekolah menutup gerbang sekolah selama masih ada kegiatan sekolah.

Kemudian untuk mengantisipasi hal tersebut pihak sekolah memasang cctv di lingkungan sekolah agar guru dapat mengawasi murid-muridnya melalui jarak yang jauh. Selain itu pihak sekolah memiliki daftar nama anggota keluarga murid-muridnya. Hal ini dilakukan agar guru tidak terkecoh dengan adanya pemalsuan anggota keluarga muridnya. 

-Cholifatul Chusna, mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->