Ilmuan Ungkap Ada Dua Bagian Otak Pemicu Orang untuk Bunuh Diri

  Selasa, 03 Desember 2019   Abdul Arif
Ilustrasi otak manusia. (Shutterstock)

AYOSEMARANG.COM-- Maraknya kasus bunuh diri mendorong para ilmuwan untuk meneliti otak manusia. Hal itu terkait penyebab bunuh diri. Ternyata hasil penelitian menunjukkan otak manusia memiliki dua jaringan otak yang bisa memicu dan meningkatkan risiko seseorang untuk bunuh diri.

Ada sebanyak 800.000 orang dari seluruh dunia yang meninggal karena bunuh diri. Bahkan dikatakan bunuh diri jadi penyebab kematian nomor dua bagi mereka yang berusia 15 hingga 28 tahun.

Penelitian ini dilakukan Dr. Anne Laura van Harmelen bersama beberapa rekannya dari Universitas Cambridge, dan telah dipublikasikan dalam jurnal Molecular Psychiatry, seperti diwartakan Dailymail, Selasa (3/12/2019).

AYO BACA : 1,5 Jam UGM Periksa Rektor Unnes Terkait Dugaan Plagiasi

Bayangkan kita punya penyakit yang menewaskan hampir satu juta orang per tahun, seperempat dari mereka sebelum berusia 30 tahun. Tapi kita tidak tahu mengapa beberapa orang lebih lebih rentan terhadap penyakit ini, ujar Anne.

“Di sinilah kita dengan bunuh diri. Kami hanya tahu sedikit tentang apa yang terjadi di otak. Tim memeriksa 131 studi, yang melibatkan lebih dari 12.000 peserta, mengamati perubahan struktur dan fungsi otak, tambah Anne.

Di antara dua jaringan otak ini, jaringan yang pertama menghubungkan area otak frontal atau bagian depan yang disebut medial prefrontal cortex ventral dan lateral, yang membantu mengatur emosi. Saat jaringan itu mengalami perubahan, maka akan melahirkan pikiran negatif yang berlebihan.

AYO BACA : Tsani Annafari Resmi Mengundurkan Diri Sebagai Penasihat KPK

Sedangkan jaringan kedua menghubungkan korteks prefrontal dorsal dan sistem girus frontal inferior, yang akan aktif untuk mengambil keputusan dan mengendalikan perilaku. Nah, saat jaringan ini berubah, bisa memengaruhi seseorang melakukan bunuh diri.

Saat adanya perubahan di kedua jaringan ini, bisa membuat orang berpikir negatif, menumpulkan cara berpikir positif, sehingga rentan terhadap perilaku bunuh diri.

Tinjauan ini memberikan bukti untuk mensupport masa depan yang sangat penuh harapan, di mana kita akan menemukan cara baru dan lebih baik untuk mengurangi risiko bunuh diri, ujar Profesor Hilary Blumberg, Yale School of Medicine AS.

Jika kita dapat menemukan cara untuk mengidentifikasi orang-orang muda yang paling berisiko, kita akan memiliki kesempatan untuk turun tangan dan membantu mereka, timpal anggota peneliti lain Dr. Lianne Schmaal dari University of Melbourne di Australia.

AYO BACA : Apresiasi Tinggi untuk Guru


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->