>

Kasus Pernikahan di Bawah Umur di Kendal Melonjak

  Minggu, 08 Desember 2019   Abdul Arif
[Ilustrasi] Kampanye stop pernikahan di bawah umur. (ANTARA)

KENDAL, AYOSEMARANG.COM—Perubahan Undang-undang (UU) Perkawinan yang menyaratkan usia perkawinan laki dan perempuan dari minimal 17 menjadi 19 tahun berdampak pada meningkatnya jumlah pernikahan dibawah umur di Kabupaten Kendal. 

Dari data di Pengadilan Agama (PA) Kendal, pengajuan dispensasi nikah di Kendal ada sebanyak 99 kasus pasangan menikah dibawah umur. 75 kasus diantaranya telah diputus atau dikabulkan oleh hakim PA Kendal. Sedangkan 24 kasus masih dalam proses penyelesaian.

Wakil Panitera PA Kendal, Muhammad Muchlis menjelaskan dispensasi nikah sendiri adalah perkawinan dimana salah satu ataupun kedua calon mempelai masih di bawah usia minimal perkawinan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Peningkatan pengajuan dispensasi nikah ini terjadi sejak September lalu. Yakni paska revisi UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi UU Nomor 16 Tahun 2019 yang disahkan. 

“Pengajuan lantaran rata-rata masyarakat belum mengetahui usia batas minimal perkawinan yang baru. Sementara kedua keluarga mempelai sudah menyepakati hari dan tanggal pernikahan,” ujarnya.

AYO BACA : Ada Pameran Buku di Kota Lama Hingga 8 Desember

Rata-rata pihak keluarga baru mengetahui setelah ada permohonan ijab kabul pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA). Dimana kedua orang tua harus mengajukan dispensasi nikah ke KUA bagi anaknya yang masih berusia dibawah 19 tahun. 

“Rata-rata orang tua calon mempelai itu mengetahui mengacu pada UU lama yakni telah berusia 17 tahun dan telah memiliki KTP,” tuturnya.

Namun ada juga beberapa kasus permohonan dispensasi nikah lantaran faktor kecelakaan. Seperti si calon mempelai perempuan hamil diluar nikah sementara umur belum memenuhi batas minimal usia pernikahan. 

“Ya ada, tapi tidak banyak. Terbanyak memang karena tidak mengetahui usia minimal perkawinan sesuai UU Nomor 16 Tahun 2019,” tambahnya.

Dari data di PA Kendal, 99 permohonan dispensasi nikah merupakan data dari Januari-November. Lonjakan terjadi sejak September (10 kasus), Oktober (11 kasus) dan November (39 kasus). “Jadi dari Januari-Agustus itu rata-rata Dispensasi Nikah kisaran 4-5 kasus permohonan. Sedangkan Desember ini kami prediksi lebih banyak lagi,” tandasnya.

AYO BACA : HUT Korpri, Ganjar Minta Korpri Berubah Jadi Organisasi Modern

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kendal, Ali Martin mengatakan jika Undang-undang tersebut sebenarnya telah disesuaikan dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002. Dimana usia anak adalah  sampai 18 tahun. 

“Sehingga kami rasa sudah tepat jika usia minimal pernikahan adalah 19. Sebab jika usia 18 tahun maka bisa dikenakan pelanggaran UU Perlindungan Anak,” katanya.

Selain itu, batas usia minimal perkawinan 19 tidak lain adalah bertujuan untuk melindungi kedua calaon mempelai.  Yakni agar mereka sama-sama dewasa, matang, bertanggung jawab dan bisa menyelesaikan permasalahan dalam keluarga.

“Sebab banyak kasus perceraian anak dibawah usia, mereka secara emosional dianggap belum dewasa dan belum bisa menentukan sikap. Artinya usia dibawah 19 tahun itu dianggap labil sehingga dikhawatirkan rumah tangganya tidak harmonis dan berujung pada perceraian,”  jelasnya.

Selain itu, ia meminta kepada Dinas Terkait maupun PA Kendal untuk juga aktif melakukan sosialisasi terhadap UU Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan. Sehingga masyarakat terutama generasi  muda bisa paham. 

“Kami Komnas anak jika diminta akan dengan senang hati membantu sosialisasi tersebut,” imbuhnya.

AYO BACA : Tim Gabungan Kejari Semarang Tangkap Buronan Penipuan Modus Penjualan Kayu


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar