Titik Sunarti dan Tekadnya Mundur dari PKH

  Jumat, 10 Januari 2020   Abdul Arif
Titik Sunarti (dua dari kanan) mengikuti perkumpulan PKH yang dilaksanakan setiap bulan. (Dok pribadi)

AYOSEMARANG.COM-- Keinginan mundur dari Program Keluarga Harapan (PKH) sebenarnya sudah lama ingin dilakukan. Akan tetapi, kondisi lingkungan dan budaya yang tidak berpihak, menjadikan niatnya itu terpendam dalam. Sampai suatu ketika ia benar-benar memberanikan diri untuk mengambil keputusan.

Adalah Titik Sunarti, perempuan asal Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. Keputusan mundur dari PKH disampaikan ketika pendamping mengadakan kunjungan (visit) ke rumah pertengahan Desember 2019 lalu.

AYO BACA : Metode agar Mendapat Peluang Lolos SNMPTN

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi dari para Keluarga Penerima Manfaat (KPM), istilah khas PKH. Menurutnya, mundur dari PKH sama halnya dengan menolak rejeki. Itulah pandangan umum masyarakat setempat. 

“Dampaknya, mereka yang mundur akan dicibir karena tidak mau menerima bantuan, terkesan sombong, maliter, dan lain sebagainya,” jelasnya. 

AYO BACA : Dua Mahasiswi UMK Teliti Pertanian di Thailand

Sore itu, ia menyampaikan keinginannya untuk mundur dari PKH. Ia sudah yakin dan tidak ada pihak yang memaksa atau mengintimidasi keputusannya itu. Sejak beberapa tahun yang lalu, perempuan kelahiran 1983 ini mendapatkan pekerjaan sebagai kuli amplas. Di samping itu, suaminya juga sudah mendapatkan pekerjaan swasta di Ambon, Maluku. Hasil dari pekerjaan itu sebagian ditabung sebagai salah satu praktek dari materi pertemuan bulanan dari PKH. 

“Alhamdulillah, hasilnya relatif sudah cukup bagi,” katanya.

Dilihat kondisinya, secara umum, rumahnya masih sangat sederhana, berbahan utama kayu dan lantai plester kasar. Keadaanya tidak lebih baik dari para tetangga lainnya. Akan tetapi, bagi Titik itu bukan satu-satunya faktor penentu. Ada hal lain yang lebih menentukan, yaitu mentalitas. Dengan beragam pengalaman yang dialami Titik, secara berlahan dapat membentuk mentalitas mandiri tanpa harus menunggu lebih secara materi. 

Bantuan sosial PKH mulai ia terima pada 2014. Dari dua komponen yang dibantu PKH, saat ini hanya tinggal satu kategori, yaitu anak sekolah dasar. Ia ingin fokus berkerja dan membiayai pendidikan anaknya  tanpa PKH. Menurut Titik, dirinya masih muda dan produktif. Selain itu di sekolah putranya juga sedikit terbantu dengan Program Indonesia Pintar (PIP).
 
Sebelum pendamping berpamitan, ia menyampaikan terima kasih kepada para pendamping dan pemerintah yang telah membantu keluarganya. “Saya ucapkan terima kasih kepada PKH yang telah membantu keluarga kami,” katanya. 

-M Dalhar, Pendamping PKH, Warga Bangsri Jepara.  

AYO BACA : Kenapa Kita Harus Naik Kendaraan Umum? Ini Jawabannya

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar