Sunah Nabi yang Dibenci NU, Dilestarikan Wahabi, Apa Itu?

  Minggu, 12 Januari 2020   Abdul Arif
Hamidulloh Ibda, Penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! (2014) dan Stop Nikah, Ayo Pacaran! (2019)

 

AYOSEMARANG.COM-- Ada hal menarik yang masih saya catat di benak dan ponsel saya, pada Kamis 9 Januari 2020. Ya, ini soal “matsna” alias beristri dua. Poligami lah tepatnya. 

Judul tulisan ini sesuai ungkapan salah satu gus di NU. Saya ingat sekali apa yang diungkapkan beliau. “Ada sunah Nabi Muhammad yang dihindari bahkan dibenci NU, tapi justru diamalkan Wahabi, salah satunya ya matsna itu,” kata beliau.

Poligami, dalam hukum Islam memang kontroversi, sensitif, dan tak tuntas dikaji, alias banyak versi dan tafsir berbeda. Salah satu ayat Alquran yang eksplisit menjelaskan poligami itu boleh ada pada Surat Annisa. Meski sebelumnya, Nabi Muhammad sudah melakukan “matsna”, namun ayat yang jelas membahas poligami adalah Surat Annisa tersebut.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” .

Ayat ini dapat kita tafsirkan, atau minimal kita “tadabburi” (telaah) dengan beberapa kajian. Mau Tafsir Jalalain, Ibnu Katsir, Al-Azhar, dan lainnya. Semua pasti memiliki sudut pandang beragam ketika sampai Surat Annisa di atas.

Dasarnya jelas, bahwa “matsna”, poligami, beristri lebih dari satu adalah Sunnah Nabi, ada ayatnya. Dus, apakah kita mau tetap poligami atau monogami?

Poligami atau Monogami?

AYO BACA : Kenapa Kita Harus Naik Kendaraan Umum? Ini Jawabannya

Sebelum muncul ayat itu, sebenarnya Nabi Muhammad sendiri sudah melakukan praktik matsna, dan itu jelas-jelas menjadi sunnah Nabi. Namun masalahnya, varian tafsir dan pendapat ulama berbeda. Di NU sendiri, banyak yang menerima dan menyetujui matsna, dan banyak pula yang menolaknya.

Jika kita lihat, banyak kelompok yang bisa disebut “radikal” justru menegaskan poligami halalan tayiban. Semua istri yang mau mereka nikah pertama kali, dipastikan didoktrin dulu harus siap dipoligami. Wajar saja, mereka melakukan beberapa pendekatan dari hasil asumsi saya.

Pertama, menghalalkan poligami guna untuk memperbanyak istri, entah alasan nafsu bawah perut, atau memang alasan ideologis ataupun agamis. Kedua, mereka menolak KB, karena asumsi KB adalah menekan angka kelahiran. Padahal, visi-misi mereka jelas-jelas memperbanyak keturunan untuk meneruskan ideologis sekaligus biologis. Artinya, anak biologis bagi mereka adalah anak ideologis yang menjadi alat penyalur ideologinya.

Dus, bagaimana dengan NU? Di NU sendiri, tiap kiai memiliki beragam pendapat. Saya tidak cenderung menggiring pembaca untuk setuju atau menolak matsna alias poligami. Namun, ingin menawarkan beberapa pandangan sesuai rangkuman diskusi antara gus dan doktor yang kemarin masih saya catat ke dalam beberapa poin.

Pertama, poligami jelas Sunnah Nabi, jelas ayatnya, jelas tafsir dan asbabul wurudnya. Prinsipnya, jangan sampai membenci orang yang poligami, karena realitasnya hal itu diperbolehkan dan Sunnah Nabi.

Kedua, prinsip dari poligami jelas adalah “keadilan”. Ukuran adil, tiap orang atau istri tidak dapat distandardisasi. Maka, selama adil seadil-adilnya, hal itu sudah sesuai prinsip Alquran, dan jika tidak dapat berlaku adil, maka cukup monogami saja.

Ketiga, poligami berlatarbelakang nafsu, dari hasil diskusi kemarin memang disarankan tidak boleh. Karena jelas, rata-rata pria ingin memperbanyak istri, itu naluriyah. Jika karena nafsu, maka anggap saja itu “peli nakal” yang memang pada dasarnya tidak mampu mengerem syahwatnya. Jika ada ungkapan “daripada zina, mending poligami”. Ini ungkapan orang yang lahir dari dorongan “peli nakal”.

Keempat, mau empat, tiga, dua, satu istri, pasti ada masalah. Artinya, mau poligami atau monogami, yang namanya berumah tangga pasti melahirkan masalah. Ya, bisa masalah ekonomi, keluarga, mertua, sosial, seksual, dan lainnya. Jadi, jumlah tidak menjadi ukuran lahirnya masalah rumah tangga. Maka dalam hal ini, poligami atau monogami tidak ada masalah. Bergantung, bagaimana kita memanajemen masalah rumah tangga.

AYO BACA : Mbah Sugiyono, 40 Tahun Lebih Aktif dalam Kegiatan Pramuka

Kelima, harusnya, jika kita merasa, ya merasa benar, baik, indah, toleran, moderat, harusnya berani menikah dengan prinsip poligami dong. Sebab, jika “poligami” hanya diakuisisi oleh kaum radikal dan mereka keturunannya banyak dan otomatis menjadi generasi radikal, siapa yang berdosa?

Sedangkan kita sendiri, menekan angka kelahiran, padahal belum tentu generasi yang lahir itu berkualitas. Gunanya apa KB dan menakan angka kelahiran, jika generasi yang lahir toh tidak berkualitas? Kan paradoks namanya!

Keenam, poligami atau monogami itu pilihan, karena jelas hukumnya, jelas manfaat-kerugian, positif-negatif, dan kekurangan-kelebihannya. Maka, jangan mengajak orang poligami, atau monogami dengan paksaan. Tapi, sampaikanlah opsi yang terbaik kepada mereka, teman kita, sahabat-sahabat kita.

Ketujuh, yang perlu dikaji, harusnya bukan beristri berapa, namun sudah mampukah kita, materi kita, tenaga kita, waktu kita? Bukan nuruti nafsu saja.

Kedelapan, poligami itu pasti melahirkan banyak masalah, apakah monogami tidak, menjomblo terhindar masalah? Sama saja. Jadi, mau jomblo, monogami, atau poligami, pasti ada masalah.

Kesembilan, yang namanya menikah, itu enaknya sedikit, sedangkan sisanya, enak banget. Saya menolak ungkapan menikah itu susah, ngerdaten, repot, itu hanya ungkapan jomblowan jomblowati tua yang tidak menikah lah. Bukan tipe orang yang berani menghadapi realitas. Maka harusnya, menikahlah, karena menikah itu kunci menuju kesempurnaan.

Saya pun pernah menulis, bahwa “orang yang belum menikah, tidak perlu banyak omong, karena belum mengerti susahnya hidup”.

Jika sudah menikah, banyak istri, berarti mereka adalah orang hebat, karena pandai mengatur banyak masalah. Dus, mau pilih poligami, monogami, atau jomblo sampai mati?

-- Hamidulloh Ibda, Penulis buku Stop Pacaran, Ayo Nikah! (2014) dan Stop Nikah, Ayo Pacaran! (2019) 

AYO BACA : Target Ambisius Penurunan Kemiskinan Jawa Tengah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar