[Laporan Khas] Pecinan Semarang, dari Kawasan Sempit jadi Kekuatan Ekonomi Semarang

  Selasa, 14 Januari 2020   Vedyana Ardyansah
Pemerhati Tionghoa Semarang, Jongkie Tio, Selasa (14/1/2020). (Ayosemarang.com/Vedyana Ardyansah)

SEMARANG TENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Jelang Hari Raya Imlek, kawasan Pecinan Semarang selalu menjadi pusat keramaian. Beberapa agenda seperti Pasar Semawis, Tuk Panjang, Opera Jalanan dan lainnya kerap digelar untuk memperingati hari besar warga Tionghoa tersebut.

Kawasan Pecinan, merupakan salah satu kawasan yang dimiliki Kota Semarang selain kawasan Kampung arab dan Kampung Melayu. Tentunya, setiap kawasan tersebut memiliki sejarahnya masing-masing.

Gerbang Kampung Pecinan Semarang bisa dilihat di ujung jalan KH Wahid Hasyim, Kota Semarang. Bangunan itu memiliki atap bertingkat. Di bagian tengahnya ada papan nama berwarna biru. Tulisan dengan huruf han zi disertai huruf latin berbunyi "Pecinan Semarang" menghiasi papan tersebut.

Di area Pecinan Semarang, setidaknya ada sembilan bangunan Kelenteng yang bisa dikunjungi, anatara lain, Kelenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur No 38, Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa di Jalan Gang Pinggir No 105-107, Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok No 62, dan Kelenteng Kong Tik Soe di Jalan Gang Lombok.

Ada juga Kelenteng Hoo Hok Bio di Jalan Gang Cilik No 7, Kelenteng Tong Pek Bio di Jalan Gang Pinggir No 70, Kelenteng Wie Hwie Kiong di Jalan Sebandaran I No 26, Kelenteng Ling Hok Bio di Jalan Gang Pinggir No 110, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong Jalan Sebandaran I No 32.

Pemerhati Tionghoa Semarang, Jongkie Tio mengatakan, kawasan pecinan di Semarang berbeda dengan kawasan pecinan lainnya. Di mana menurutnya, pecinan Semarang terbentuk bukan karena berkumpulnya suatu etnis dan kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan.

AYO BACA : Kuliner Khas Semarang di Pasar Semawis Jadi Klangenan

"Karena dulu di masa Belanda ada pemberontakan yang melibatkan warga Tionghoa. Sehingga muncul aturan agar warga Tionghoa dikumpulkan dalam suatu wilayah agar bisa dipantau pergerakannya. Di Pecinanlah dulu orang-orang Tionghoa dikumpulkan," ujarnya, Selasa (14/1/2020).

Jongkie pun berkenan menceritakan asal muasal terbentuknya kampung Pecinan di Semarang tersebut lebih rinci. Alkisah, pada 1740 orang-orang Tionghoa melakukan pemberontakan di Batavia. Hal tersebut membuat pembantaian etbis Tionghoa oleh Belanda saat itu tak bisa dihindarkan. 

Situasi itu pun membuat warga Tionghoa berusaha melarikan diri ke arah timur menyusuri Pantai Utara (Pantura) untuk menghindari pembantaian tersebut. Sesampainya di Semarang, warga Tionghoa diterima dengan senang hati oleh Pakubuwono I dan bupati-bupati sekitar. 

Saat itu Pakubuwono I melihat betapa besarnya potensi pemberontakan yang dilakukan warga Tionghoa terhadap Belanda dan Pakubuwono I pun bermaksud ingin menggalang kekuatan dengan warga Tionghoa untuk kemudian melawan VOC di Jepara. 

"Saat Pakubuwono I meninggal dan digantikan Pakubuwono II, situasi kian lama berubah. Hubungan raja dengan bupati-bupati lainnya tidak harmonis lagi. Pemberontakan pun pecah. Orang Tionghoa yang sejak awal berhubungan baik dengan para bupati turut terlibat," katanya.

Lambat laun Semarang akhirnya jatuh. Diikuti Juwana, Jepara hingga Rembang. Orang-orang Tionghoa lalu lari masuk ke Kartasura dan singkat cerita wilayah administratif Semarang menjadi di bawah Belanda.

AYO BACA : Gus Zaim Mendapat Hadiah Buku Budi Pekerti Tionghoa

Akibat pemberontakan itu, di tahun 1743 keluarlah peraturan agar orang Tionghoa dikumpulkan dalam satu wilayah saja. Sehingga semua orang Tionghoa yang tinggal di Simongan dipindahkan ke sebuah lokasi yang tak jauh dari Kota Lama. 

"Yang aneh adalah, meski ada di wilayah sempit. Rumah-rumah berdekatan, dan hanya ada akses gang-gang saja. Wilayah Pecinan malah bertranformasi menjadi wilayah kekuatan ekonomi di Semarang. Dan dibukalah pasar pembaharuan di Gang Baru," ucapnya.

Tak berhenti sampai di situ, warga Tionghoa kembali menemui permasalahan di saat pemerintahan Orde Baru. Saat itu muncul aturan yang membatasi aktivitas kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta mengimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka.

Hal tersebut pun sempat membuat warga Tionghoa harus sembunyi-sembunyi untuk sekadar merayakan Imlek atau kegiatan lainnya. Bahkan, atraksi barongsai dan ular naga yang saat ini menjadi salah satu olahraga pun sempat mati suri.

Terkait pergantian nama, juga menjadi permasalahan tersendiri bagi warga Tionghoa saat itu. Pergantian nama pun dinilainya membuat generasi warga Tionghoa saat itu, tidak mengenal dekat nama silsilah keluarganya.

"Jadi saat itu warga Tionghoa memilih nama ganti sesuai keinginannya sendiri. Jadi itu malah membuat munculnya marga baru bahkan di dalam keluarga sendiri," ujarnya.

"Nama saya Tio Tek Hwan diganti menjadi Daddy Budiarto. Jadi saya punya tiga nama. Kalau Jongkie Tio itu nama Belanda yang saya pakai untuk nama penulis sampai sekarang," katanya.

AYO BACA : Sandiaga Uno Dicurhati Rumah Warga Yang Bocor


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->