Kepincut Kartun Sejak SD, Djoko Susilo Raih Adinegoro Dua Kali

  Kamis, 30 Januari 2020   Abdul Arif
Kartunis Djoko Susilo. (Ayosemarang.com/Abdul Arif)

SEMARANG SELATAN, AYOSEMARANG.COM-- Djoko Susilo tak menyangka, titel Karikaturis Terbaik Anugerah Adinegoro yang pernah ia raih pada 2012 kini kembali padanya. Kartun editorialnya tentang pawai anak-anak gandrung gawai membawanya meraih penghargaan Anugerah Adinegoro 2019. Kabar itu ia terima langsung dari panitia baru-baru ini. 

"Ini kejutan yang luar biasa. Saya nggak menyangka dua kali dapat. Kemenangan ini patut disyukuri dan jadi beban juga. Jelas karya saya diamati orang. Itu beban berat bagi saya," katanya saat berbincang di kantor Ayosemarang.com, Kamis (30/1/2020). 

Djoko mengatakan, ia harus lebih baik lagi dalam menata ide. Membuat kritikan tajam tentang kondisi sosial, tetapi tidak melukai siapapun. Dengan kartun, Djoko bisa mengingatkan siapapun.

Djoko mengirimkan karya satu hari menjelang deadline. Pikirnya, ia kirim karya sebatas berpartisipasi karena sudah pernah menang. Ia hanya berkewajiban meramaikan. "Alhamdulillah kok karya yang sekarang ini terpilih lagi," ujarnya. 

Karya yang menang itu menggambarkan anak-anak gandrung pada gawai. Djoko menggambarkan sebuah gawai berjalan diikuti anak-anak. Di sisi lain ada anak membawa bola mau mengajak anak yang mengekori gawai itu. 

"Saya membayangkan begini, bagi saya sangat berbahaya anak-anak kecil rewel masih usia 2 tahun langsung dikasih hp oleh orang tua. Padahal informasi di dalam gadget apa aja ada. Kalau tak difilter bisa bahaya. Itu yang menjadi keprihatinan saya," kata Djoko.

Djoko akan berangkat ke Banjarmasin untuk penyerahan Anugerah Adinegoro dalam puncak Hari Pers Nasional yang bakal digelar pada 6-9 Februari 2020.

Awal Mula Kenal Kartun

Kartun memang sudah lekat dalam kehidupan Djoko. Pria kelahiran Kendal, 30 Oktober 1970 itu bahkan sudah mengenal kartun sejak belia. 

Ia mulai mengenal kartun sejak berkunjung di sebuah pameran kartun nasional yang digelar di Kaliwungu, Kendal pada 1981. Seaat itu Djoko masih bocah kelas 5 SD. 

"Saya nonton (pameran kartun). Di benakku gambar lucu, aneh, terus saya tertarik," katanya mengingat masa itu.

Kebetulan, kakak kandung Djoko juga seorang kartunis. Hal itu membuatnya makin dekat dengan kartun. 

Sejak pameran itu, Djoko lebih banyak melihat kartun yang dimuat di koran-koran. Djoko mulai terdorong ikut kirim. Ia terus mencoba hingga akhirnya untuk kali pertama karyanya dimuat di media Minggu Pagi pada 1986. Saat itu Djoko sudah SMP.

AYO BACA : Bekali Kartunis Muda Semarang, Gold Pencil Indonesia Gelar SCC Chapter 2

Ada momentum yang menurut Djoko sangat berpengaruh dalam hidupnya. Djoko remaja yang suka bermain sepak bola mengalami cedera pada 1986. Kakinya patah. Djoko pun tak bisa ke mana-mana saat sakit.

"Saya tak punya kegiatan. Saya minta buku buat oret-oretan. Terus minta adik saya kirim ke media dan dimuat," katanya. 

Karena lebih banyak kegiatan menggambar, karyanya pun mulai merambah ke mana-mana. Sejumlah media di Semarang, Jakarta memuat karya-karyanya.

Saat itu, Djoko masih belajar sendiri. Padahal di tempat tinggalnya ada Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang). Ia belum bergabung karena masih anak-anak. 

"Namun sejak saya memasuki SMA baru sedikit-sedikit bergabung ke Kokkang," katanya.

Di Kokkang, Djoko mengikuti pelatihan menggambar yang saat itu diampu oleh Itos Boedy Santoso. Di situ, ia bisa belajar teknik menggambar karakter, pengembangan ide dan lainnya tiap akhir pekan. 

"Orang tua saya mendukung tapi lingkungan yang kadang memandang saya aneh," katanya.

Image may contain: one or more people, people sitting and indoor

Djoko mengatakan, pemuda lulusan SMA di tempat tinggalnya saat itu banyak yang bekerja di pabrik. Orang-orang melihatnya sebagai anak muda yang pemalas karena hanya di rumah saja. 

"Banyak yang bilang ke ibu saya anaknya kok nggak kerja. Ibu hanya tersenyum saja karena tahu anaknya dapat uang dari menggambar," kata Djoko.

Menurut Djoko, gaji buruh di pabrik  pada 1990 sekitar Rp75 ribu. Namun Djoko bisa membuktikan, dengan menggambar kartun di media ia bisa mendapatkan honor Rp300 ribu perbulan. 

"Akhirnya tetangga saya jadi tahu. Dikiranya saya nganggur," katanya. 

Ketekunan Djoko dalam menggeluti seni kartun tak sebatas menghasilkan uang semata. Karya-karya mulai membuahkan pretasi. Pada 1993 untuk kali pertama karyanya mendapatkan penghargaan tingkat internasional dalam ajang Manga International Cartoon Festival Okhotsk, Japan. Ia menerima hadiah 200 ribu Yen saat masih umur 23 tahun. 

Orang-orang Berpengaruh

AYO BACA : Gold Pencil, Wadah Kreatif untuk Kartunis Muda Semarang

Djoko mengaku ada banyak sosok yang memengaruhi karya maupun goresannya. Ia belajar banyak dari teman-teman yang ia temui. Terutama saat menyaksikan pameran kartun di Jakarta.

Saat itu, ia terkesima dengan karya Thomas Lionar, karikaturis muda Indonesia asal Bangka. Menurut Djoko, karyanya luar biasa. Djoko mengenal teknik deformasi dari Thomas itu. 

"Saya kenal banget. Yang saya lakukan itu teorinya dari Thomas. Dia yang memengaruhi saya," katanya.

Djoko juga menemukan karya yang menarik perhatiannya yang dimuat di majalah Gatra. Ada karya kartunis asal Amerika, Ranan Lurie. Djoko lalu mengkliping karya-karya itu. Ranan Luri memengaruhi karya Djoko dari segi teknis arsir.

Karir Djoko di media juga cukup panjang. Ia mengawali sebagai kartunis di majalah Krida mulai 1992 sampai 1996.

Pada 1997 ada lowongan pekerjaan sebagai kartunis di Harian Suara Merdeka. Djoko ikut mendaftar dan diterima. Sejak itu itu aktif membuat kartun editorial.

"Ujian awal di Suara Merdeka saya masuk 1 Desember 1997. Ujiannya paling berat bikin karikatur akhir tahun di akhir bulan. Padahal belum pernah sama sekali. Itu pertama kali saya bikin arsir," katanya.

Sambil menyelam minum air, Djoko terus mengasah kepekaan penanya. Ia belajar banyak tentang kartun editorial dari kartunis senior di Indonesia. Ia tak bisa melupakan dua orang yang punya andil besar, yaitu GM Sudarta (alm) dan Pramono R Pramoedjo. 

"Bagaimana membuat sebuah ide bagaimana membuat coretan garis. Bahkan membuat huruf khas kartun dari dua orang itu," katanya.

Pada 2012 untuk kali pertama ia berpartisipasi dalam Anugerah Adinegoro. Pertama kali ikut langsung menang. 

"Kok malah aku menang," katanya. 

Karya Djoko mengangkat tema suntikan moral yang menggambarkan gedung DPR sedang diinfus dengan moral. Djoko menganggap saat itu kondisi moral wakil rakyat sangat parah. Banyak kasus yang menyeret wakil rakyat di tahun itu. 

Berbagi Pengalaman

Image may contain: 8 people, including Sugiyanto, people smiling, people standing and outdoor

Sejak empat tahun lalu, Djoko aktif membagikan pengalaman kreatifnya kepada  anak muda di Kendal. Ia mengajar menggambar kartun di SMA N 1 Kaliwungu, sekolahnya dulu. Ia berharap akan muncul bibit kartunis baru di tempat kelahiran. 

Djoko juga bergabung di Gold Pencil, komunitas kartun yang berbasis di Kota Semarang. "Kenapa saya bergabung kebetulan rohnya sama membagi pengalaman. Menyadari harus ada bibit baru yang bisa meneruskan jejak langkah kartun di Indonesia," katanya.

AYO BACA : Kelas Kartun Gold Pencil Perdana Diikuti Enam Siswa


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar