Ilmuwan Tiongkok Temukan Obat Virus Corona, Ini Penjelasannya

  Minggu, 16 Februari 2020   Abdul Arif
Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona yang sedang mewabah di Tiongkok. (Shutterstock)

AYOSEMARANG.COM-- Obat penawar virus Korona yang jadi wabah menakutkan kabrnya tekah ditemukan. Kabar yang beredar, ilmuwan di Tiongkok telah menemukan obat itu.

Pencarian obat penawar virus Korona cukup membuat para peneliti frustrasi. Sebab tingkat infeksi dan kematian terus meningkat. Pemerintah akhirnya menyarankan tim medis untuk mengombinasikan obat antivirus dan obat tradisional Tiongkok.

Akan tetapi, Kamis lalu (13/2/2020), Grup National China Biotec, sebuah perusahaan milik negara di bawah Departemen Kesehatan, mengatakan bahwa pemberian serangkaian antibodi manusia yang selamat dari COVID-19 ke lebih dari 10 pasien yang sakit kritis dapat menurunkan tingkat peradangan secara signifikan setelah 12-24 jam perawatan.

AYO BACA : Stadion Citarum Segera Diverifikasi

Temuan ini bermula ketika seorang petugas medis senior di Tiongkok meminta orang yang telah sembuh dari Virus Korona, mendonorkan plasma darah mereka karena mengandung protein yang dapat digunakan untuk mengobati pasien yang sakit.

Para ahli pun memberikan komentar beragam mengenai hal ini. Meski pendekatan ini dinilai sebagai cara yang logis dan menjanjikan untuk merawat pasien Virus Korona yang sakit parah. Namun, karena tingkat mortality yang rendah, dokter juga harus mewaspadai adanya efek samping yang ditimbulkan.

Sebagai gambaran, orang yang baru saja pulih dari Virus Korona masih memiliki antibodi terhadap virus tersebut yang beredar di dalam darah mereka. Di atas kertas, menyuntikkan antibodi mantan pengidap Virus Korona ke pasien yang sakit dapat membantu pasien melawan infeksi dengan lebih baik.

AYO BACA : Dinonaktifkan Unnes, Dr Sucipto: Postingan Saya Satir

Perawatan ini akan mentransfer kekebalan pasien yang pulih ke pasien yang sakit. Ini merupakan suatu pendekatan yang telah digunakan sebelumnya dalam pandemi flu, kata Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi di Hong Kong University, mengatakan kepada Times.

Sementara itu, ilmuwan lainnya mengingatkan para dokter yang ingin mencoba cara tersebut agar terus mengawasi perkembangan pasien selama perawatan.

Saya senang mengetahui bahwa plasma dari para penyintas sedang diuji. Satu catatan, dokter perlu mengendalikan kemungkinan efek dari perawatan tersebut, papar Carol Shoshkes Reiss, seorang profesor biologi dan ilmu saraf di New York University seperti dikutip dari Live Science, Minggu (16/2/2020).

Kendati demikian, tidak semua orang setuju mengenai hal ini. Dr Eric Cioe-Peña, Director of Global Health di Northwell Health di New York mengatakan bahwa sekalipun cara ini adalah ide yang bagus, perlu ada pertimbangan matang sebelum melakukannya.

Saya pikir kita harus melewati proses ilmiah untuk melanjutkan dan mencoba mempelajari perawatan yang diusulkan ini sebelum memberlakukannya, terutama pada virus yang memiliki tingkat kematian yang rendah, pungkasnya.

AYO BACA : Laga Simulasi Liga 1, PSIS Kandaskan Tim Juniornya


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar