YAPAPB Terima Kunjungan Pengajian Ahad Pagi Sumur Bor

  Senin, 09 Maret 2020   Adib Auliawan Herlambang
Pengurus Yayasan Amal PAPB Semarang foto bersama dengan pengurus Pengajian Ahad Pagi Sumur Bor, Desa Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, di ruang meeting YAPAPB, Jl. Panda Barat 44, Palebon, Pedurungan, Semarang. (dok)

AYOSEMARANG -- Amal Pengajian Ahad Pagi Bersama (YAPAPB) Semarang, Minggu (8/3/20), menerima kunjungan dari pengurus Pengajian Ahad Pagi Sumur Bor Desa Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, di ruang meeting YAPAPB, Jalan Panda Barat 44, Palebon, Pedurungan, Semarang.

Ketua Yayasan Pengajian Ahad Pagi Sumur Bor Colomadu, Anwar Wahyudi mengatakan, keberadaan PAPB ini kami dapatkan dari browsing lewat internet. 

“Dari internet PAPB ini kami temukan. Kelahiran pengajian yang lebih tua dari kami yakni tahun 1994, dan muda PAPB tahun 2000 dengan segala hal yang dimiliki itulah yang ingin kami gali. Utamanya, bagaimana menjalin koordinasi antar sesama pengurus guna mewujudkan cita-cita itu inti kedatangan kami,” paparnya. 

Ketua Umum Yayasan Amal PAPB Semarang, Prof. Ali Mansyur, yang diwakili Sekretaris, H M Sayuti, saat sambutan mengatakan, dulu PAPB yang lahir tahun 2000 bertempat di Musala Al-Ikhlas, itu diikuti oleh 55 orang. Dengan perolehan awal kotak infak sebesar 59.900 rupiah. 

“Inilah cikal bakal dari keberadaan PAPB hingga kemudian bisa dilihat seperti sekarang,” ungkapnya.

Sayuti yang didamping H. Supangat dan H. Ainur Rofiq menceritakan, saat berdiri, PAPB hanya ada 3 masjid (Al-Muhajirin, Al-Ikhsan, Al-Hikmah) dan 1 musala Al-Ikhlas yang sekarang menjadi Masjid. Kemudian disusul Nurul Iman 2 dan dan Nurul Iman 1, dengan alur pengajian seperti tawaf, dan berlawanan dengan arah jarum jam. 

“Semua bisa guyub itu karena menjunjung tinggi ukhuwah dan jangan mutungan sebagaimana kata Prof. Ali,” paparnya. 

Tausiyah Pengajian

Terpisah, penceramah K H Dzikron Abdullah, saat tausiyah di Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB), bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Kauman Raya Dalam No 7 A menjelaskan, tafsir surat An-Nahl:90, tentang perintah untuk berlaku adil. 

Menurut Dzikron, adil ini menurut mufasir Imam Qadhi al-Baidlawi adalah tengah-tengah dalam segala perkara. Terlebih, sebaik-baik perkara itu adalah tengah-tengan. Baik itu tentang keyakinan atau ketauhidan itu harus tengah-tengah. Yakni, antara tidak meniadakan tuhan dan syirik. 

Kemudian juga dalam hal kasab juga tengah-tengah, yakni antara tidak bermalas-malasan dan ngongso. 

“Usaha itu tidak boleh ngongso, bekerja keras sampai 24 jam. Itu tidak benar, tidak adil itu. Karena akan rusak orang yang berlebih-lebihan,” tuturnya.

Hal lainnya, dalam amal ibadah juga harus sedang-sedang, jangan sampai berlebih-lebihan. Gambarannya seperti antara tidak memudahkan dan mempersulit. Contohnya seperti was-was dalam wudlu, hingga membaca niat yang berulang-ulang itu juga tidak boleh. 

“Dalam hal salatpun juga begitu, takbir yang berulang-ulang ini juga tidak boleh karena terlalu hati-hati. Maka yang terbaik adalah tengah-tengah,” pungkasnya.

Penulis: Usman Roin, Staf di Yayasan Amal PAPB Semarang.
 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar