Skenario Terburuk Pertumbuhan Ekonomi Akibat Covid-19

  Rabu, 25 Maret 2020   Adib Auliawan Herlambang
Drs Pudjo Rahayu Risan M Si (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Pemerintah memproyeksikan beberapa skenario pertumbuhan ekonomi sesuai dengan kemungkinan perkembangan kasus covid-19. Skenario terburuk terjadi jika penyebaran kasus covid-19 berlangsung 3-6 bulan, diberlakukan lockdown, dan perdagangan internasional drop hingga di bawah 30%, maka diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada di kisaran 0 – 2,5 %. 

Angka tersebut berarti menurun drastis, jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,02%. Namun masih lebih baik dibandingkan krisis 1998, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi -13,13 %. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan, hampir semua lembaga dan organisasi membuat skenario dan proyeksi pertumbuhan ekonomi pascapenyebaran covid-19. Hanya saja, pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun tidak bisa diprediksi (unpredictable) selama penyebaran covid-19 berlum berakhir.

Pertanyaan, sampai kapan penyebaran wabah covid-19 di Indonesia berakhir?

Diprediksi berakhir terjadi pada Juni 2020 atau 3 bulan lagi. Analisa Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi penyebaran covid-19 di In donesia akan mencapai puncak pada minggu kedua atau ketiga April dan berakhir akhir Mei atau awal Juni. 

Prediksi itu berdasar hasil simulasi dan permodelan sederhana prediksi penyebaran covid-19 yang dilakukan Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB. Menurut Nuning Nurani, salah satu tim peneliti yang melakukan simulasi dimaksud, terjadi pergeseran hasil dari yang ramai dibicarakan sebelumnya. 

Dalam salah satu artikel yang dimuat di situs resmi ITB pada Rabu (18/3/2020) lalu, menyatakan bahwa hasil kajian menunjukkan penyebaran covid-19 mengalami puncaknya pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020 dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600. 

Tim ITB menggunakan model Richard's Curve Korea Selatan karena sesuai dengan kajian Kelompok Pemodelan tahun 2009 yang dibimbing oleh Kuntjoro A Sidarto. Model tersebut terbukti berhasil memprediksi awal, akhir, serta puncak endemi dari penyakit SARS di Hong Kong tahun 2003. 

Model Richard’s Curve terpilih ini lalu mereka uji pada berbagai data kasus Covid-19 terlapor dari berbagai macam negara, seperti China, Iran, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, termasuk data akumulatif seluruh dunia.

Ternyata secara matematik, ditemukan bahwa model Richard’s Curve Korea Selatan adalah yang paling cocok, kesalahannya relatif kecil untuk disandingkan dengan data kasus terlapor covid-19 di Indonesia jika dibandingkan dengan model yang dibangun dari data negara lain, kesesuaian ini terjadi saat Indonesia masih memiliki 96 kasus. 

Menurut peneliti ITB, saat menuliskan hal tersebut melihat data update per tanggal 14 Maret 2020, Indonesia masih berada di titik 96, lalu difitting data dari beberapa negara yang saat itu sudah terlebih dahulu memiliki data, dan pelakukan penanganan pencegahan.

Diperoleh data dari negara-negara tersebut, saat itu Korsel memiliki selisih angka terbaik dibanding yang lain. Sehingga dipilih model data Korsel. Jadi kecocokannya dilihat dari selisih error perhitungan. Padahal Korea telah melakukan penanganan yang cukup serius dan massive.

 Hasil simulasi lewat model Richard's Curve dengan memasukkan data 14 Maret 2020 (dengan 96 kasus), tampak bahwa puncak penyebaran covid-19 di Indonesia adalah akhir Maret 2020, kemudian diprediksi berakhir pada pertengahan April 2020.

Perhitungan Simulasi Berubah Namun karena kasus covid-19 di Indonesia terus merangkak naik, perhitungan simulasi itu pun bergerak dan telah berubah. Namun data saat ini juga bertambah dan terus
naik, akibatnya dinamika dari data akan memengaruhi perhitungan parameter model kurva Richard yang berakibat juga pada perubahan proyeksi, baik dari sisi akumulasi dan juga puncak kasus. Karena model proyeksi ini "hanya" berdasarkan informasi data akumulasi kasus saja, akibatnya kenaikan kasus akan menyebabkan perubahan proyeksi.


Puncak akan bergeser di sekitar minggu kedua atau ketiga April dan berakhir di akhir Mei atau awal Juni. Namun perlu dicatat, hal ini bisa terwujud asal penanganan pencegahan dilakukan secara serius, sigap, dan disiplin oleh semua pihak mulai dari elemen individu, masyarakat sampai pada pemerintah dan berbagai instansi terkait.

Apakah satu bulan setelah puncak, wabah berakhir? Simulasi pemodelan matematika tidak bisa menjawab dan memastikan apakah satu bulan setelah puncak maka penyebaran berakhir. Puncak dan  berakhirnya penyebaran sepenuhnya berkaitan dengan banyak aspek. Tentu saja selesai secepatnya itu harapan kita semua. Dan model tidak bisa menjamin hal itu.

Antisipasi dan tameng ekonomi Pemerintah bersama otoritas keuangan dan moneter tentu tidak berdiam diri tanpa berbuat apa-apa mengantisipasi kemungkinan paling buruk sekalipun dampak ekonomi dari
wabah covid-19. Hal ini merupakan antisipasi sekaligus tameng ekonomi bila pertumbuhan ekonomio hanya berada di kisaran 0 – 2,5 %. Angka tersebut berarti menurun drastis, jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,02%. 

Walau masih lebih baik dibandingkan krisis 1998, dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi - 13,13 %. Berbeda dengan krisis keuangan, situasi kali ini juga langsung berdampak di kehidupan sehari-hari masyarakat yang diminta melakukan social distancing. Kebijakan pemerintah dengan sejumlah lankah yang telah diambil tampak mencakup lini moneter,
fiskal, dan sektor riil sekaligus.

Berdasarkan perhitungan kembali anggaran yang dilakukan Kementrian Keuangan, terdapat dana Rp121,3 triliun yang bisa digunakan utnuk menangani bencana nasional, covid-19. Dana tersebut terdiri dari Rp62,3 triliun dana APBN dan Rp59 triliun dana transfer daerah. Tidak itu saja, dengan transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp850 triliun, seharusnya daerah bisa juga realokasi anggarannya. Proses realokasi anggaran sangat praktis dan simpel hanya membutuhkan waktu dua hari. 

Selanjutnya anggaran sudah bisa digunhakan untuk penanganan covid-19, baik untuk membeli alat kesehatan, infrastruktur rumah sakit, jaringan pengaman social mamupun membantu UMKM.

Paling tidak ada sepuluh (10) langkah antisipasi dan tameng ekonomi selama enam bulan kedepan, 1) insentif bagi industri penerbangan, 2) pembebasan pajak hotel dan restoran, 3) insentif sektor perumahan, 4) BUMN boleh buyback saham, 5) pajak penghasilan ditanggung pemerintah, 6) kartu prakerja, 7) relaksasi PPh impor, 8) stimulus industri jasa keuangan, 9) UMKM boleh tunda bayar utang dan 10) paket stimulus fiskal.

Regulasi sudah ditata, giliran masyarakat harus sadar untuk ditata. Kata kuncinya adalah, disiplin, disiplin dan disiplin. Badai pasti berlalu.

Penulis: Drs Pudjo Rahayu Risan M Si, / Lulusan Magister Administrasi Publik Undip, pengurus Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Semarang / pengajar tidak tetap STIE Semarang dan STIE BPD Jateng. 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar