Ini Penyebab Tingkat Kematian Covid-19 Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia

  Rabu, 01 April 2020   Adib Auliawan Herlambang
Sebagai ilustrasi: Petugas menurunkan peti jenazah pasien suspect Corona dengan menggunakan tali tambang di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Kamis (26/3). (Suara.com/Alfian Winanto)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM -- Hari ke hari, kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia kian selalu bertambah. Tercatat, per Selasa (31/3/2020) saja, total kasus positif mencapai 1.528, sedangkan pasien meninggal sebanyak 136 jiwa.

Jika persentase angka kematian di Indonesia sebesar 8,9%, yakni dengan angka kematian dibagi total kasus positif, dikalikan 100%.

Hal itu pun membuat Indonesia berada di urutan kematian tertinggi kedua setelah Italia, yang mencapai 11,7%, dengan jumlah total kematian 12.428 dari total kasus positif sebanyak 188.524.

AYO BACA : Kapan Wabah Covid-19 Berakhir? Ini Prediksi Forum Dokter Global

Ketua Satgas Covid-19 Prof dr Zubairi Djoerban Sp PD coba menjelaskan tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia begitu tinggi.

Menurut Prof Zubairi, ada beberapa alasan hal ini terjadi, khususnya karena pemerintah belum berhasil mengungkap semua kasus positif yang masih ada di tengah masyarakat. Seumpama gunung es, yang terlihat di permukaan hanya sedikit, padahal jika didalami masih sangat banyak.

"Nah, yang meninggal pasti benar jumlahnya, yang terdiagnosis itu yang jumlahnya under estimate, bisa dikatakan mirip-mirip puncak gunung es. Jadi sebetulnya banyak banget, jadi misalnya meninggal 100, diagnosis 1000, jadi 10 persen," ujar Prof. Zubairi, seperti dikutip dari Suara.com, Rabu (1/4/2020). 

AYO BACA : Lawan Covid-19, Presiden Jokowi Perkirakan Defisit APBN Capai 5,07%

Melihat angka kasus terdeteksi yang terbilang sedikit, ia meyakini jika presentase angka kematian belum pasti atau benar. Angka kebenaran, kata dia, baru didapat jika data yang terdiagnosis sudah mencapai 5.000 kasus.

"Artinya, belum bisa dibilang angka kematiannya tinggi, karena yang terdiagnosis masih kurang, dan datanya masih terlalu dikit terlalu kecil. Tapi beberapa hari kemudian, saya kira 1 sampai 2 minggu kemudian, waktu di bawahnya tinggi, katakanlah 1000 sampai 5000 kasus katakanlah, itu sudah mendekati kebenaran angka kematiannya," paparnya.

"Kalau misalnya yang terdiagnosis 5.000, maka angka kematian kan di bagi 5.000 dikali 100%, maka jawabannya ada di situ, sekarang belum bisa menilai sekian persen," sambungnya.

Belum lagi lambatnya alat pendeteksi atau pengetesan Covid-19 di Indonesia. Profesor yang berpraktik di RS Kramat 128, Jakarta Pusat itu juga menyoroti pemeriksaa spesimen di Indonesia yang masih sedikit. Bahkan tak jarang pemeriksaan harus dipotong 2 hari libur di akhir pekan Sabtu-Minggu, sehingga minimalnya membutuhkan waktu 6 hari untuk mendapatkan hasil.

"Masalahnya untuk ini juga terkait dengan tesnya, jadi kalau misalnya seseorang di tes hari ini, hasilnya lama 3 hari kerja. Sekarang hari apa? Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu libur, Minggu libur. Jadi baru Selasa ada hasil. Terlalu lama," pungkas dia.

Sementara itu memang, pemerintah mengaku sudah memesan 1 juta kit rapid test untuk pemeriksaan secara masal, dan sudah sebanyak 150.000 kit yang tiba di Indonesia. Tapi dengan populasi sebanyak 270 juta penduduk tentu memang sangat jauh perbandingannya.

AYO BACA : Semakin Mengganas, Positif Covid-19 di Indonesia Tembus 1.528 Orang


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar