Antara Kedisiplinan dan Kebingungan

  Minggu, 26 April 2020   Abdul Arif
Gunawan Witjaksana, dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang.

AYOSEMARANG.COM-- Dunia diguncang pandemi dahsyat sebenarnya bukan hanya kali ini saja. Tahun 1918 flu Spanyol juga pernah memamdemi dunia. Kala itu, kebijakan mirip tahun ini seperti social dan phisycal distancing juga dilakukan.

Bahkan menurut catatan dari 60 jutaan penduduk Nusantara, ada 3,5 jutaan yang meninggal, ruang- ruang isolasi serta rumah sakit darurat juga dibuat, dan berdasarkan catatan, hingga saat ini, pelaksanaan Ibadah Haji, ditiadakan sudah yang ke 40.

Hanya yang berbeda, saat itu penduduk dunia mudah didisiplinkan, karena media, termasuk internet dengan turunannya yang saat ini populer dengan sebutan media sosial (medsos) belum ada. 

Keadaan itulah yang menyebabkan informasi tentang bahayanya wabah Flu Spanyol itu tersosialisasikan dengan baik, sangat informatif sehingga masyarakat tidak dibingungkan oleh karut marutnya informasi seperti saat ini, sehingga akhirnya masyarakat menjadi tahu, faham dan akhirnya berpartisipasi aktif serta disiplin sesuai program yang dianjurkan, sehingga akhirnya wabah pandemik itu bisa dihentikan.

Itulah bedanya kondisi tahun 1918 tersebut dengan saat ini, di mana media, utamanya medsos yang sering dimanfaatkan buzer- buzer yang tidak bertanggung jawab ditambah pengguna serta audience yang tidak melek media, menyebabkan sulitnya mendisiplinkan masyarakat, utamanya negara yang menganut sistem demokrasi.

AYO BACA : 5 Game Android Pilihan Temani Ngabuburit di Rumah Saja

Pertanyaannya, tidak bisa segerakah Pandemi covid-19 ini segera bisa diatasi? Serta apa yang sebaiknya dilakukan?

Ketidakjelasan Informasi

Persoalan yang hingga saat ini ada, khususnya di Indonesia adalah masih bingungnya masyarakat terkait dengan seberapa berbahaya virus tersebut, bagaimana sebenarnya proses penyebarannya, dll., Hingga bagaimana kelemahan virus tersebut, serta bagaimana cara menghentikannya?

Kita tentu tahu bagaimana kerja kerasnya dalam menghentikan sekaligus mematikan virus ini. Selain departemen terkait, pemerintah pun membentuk gugus tugas percepatan penanggulangan serta penanganan wabah ini dan koordinasi pemerintah daerah, gugus tugas itu telah dibentuk hingga ke tingkat bawah.

Persoalannya, meski gugus tugas itu telah bekerja keras melakukan sosialisasi, namun masyarakat masih tampak kurang disiplin, meski untuk daerah yang telah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

AYO BACA : 4 Cara Hilangkan Cegukan saat Puasa Tanpa Minum Air

Bila dicermati, penyebabnya antara lain adalah karut marutnya informasi yang mereka terima. Padahal kita ingat Uncertainty Theory (teori ketidakjelasan pesan), yang menyebut justru pesan yang tidak jelas itulah yang justru lebih dipercaya.

Bahkan data tentang orang yang terpapar, sembuh serta meninggal yang jelas dikoordinasikan didukung teknologi yang makin canggih pun, oleh buzer yang tidak bertanggung jawab dibantah bukan dengan data, melainkan dengan asumsi. Celakanya mereka yang tidak faham justru mempecayai asumsi tersebut.

Belum lagi, karena virus covid-19 adalah virus yang baru, maka sering kita saksikan dan dengar kabar baik yang bahkan disampaikan sendiri oleh Presiden, masih sering dimentahkan kembali oleh hasil penelitian yang lain bahwa tidak demikian.

Contoh mutakhir hasil penelitian terkait dengan cuaca yang menurut penelitian tersebut Indonesia cukup diuntungkan, seolah dibantah oleh informasi bahwa virus itu tidak mati sampai pada suhu 60 derajat Celsius.

Demikian pula tentang, kebersihan dan kedisiplinan, dibantah dengan data Perdana Menteri Inggris yang bersih dan disiplin pun terpapar. Belum lagi saling bagi dan bantah terkait cara pengobatan dan pencegahan, bahkan obat-obatan, termasuk herbal.

Karut marutnya informasi, ditambah dengan berbagai contoh kekurangdisiplinan yang kita saksikan melalui medsos, menyebabkan masyarakat seakan terbelah, antara yang sadar dan disiplin, ragu-ragu, bahkan acuh tak acuh.

Karena itu, ke depan marilah semua pihak kembali ke khitah demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta seluruh warga bangsa, marilah kita sisihkan perbedaan dan kepentingan sempit, untuk saling bahu membahu menyampaikan informasi yang baik serta bermanfaat bagi masyarakat, khususnya menyangkut kedisiplinan, karena tampaknya hanya melalui cara itulah keganasan virus covid-19 bisa dihentikan sekaligus dienyahkan, InsyaAllah.

--Gunawan Witjaksana, dosen dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi ( STIKOM) Semarang.

AYO BACA : 4 Cara Hilangkan Cegukan dalam 30 Detik

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar