Belajar dari Sejarah Wabah

  Rabu, 24 Juni 2020   Abdul Arif
Suryanto, S.Sos., M.Si., staf pengajar Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi STIKOM) Semarang.(dok)

AYOSEMARANG.COM-- Ketika wabah Black Death melanda Asia Timur dan Eropa pada abad ke-14, pada saat itu hal yang dianggap terbaik dilakukan pemangku otoritas adalah mengumpulkan orang-orang lengkap dengan tokoh-tokoh agama untuk melakukan doa massal agar didengar Tuhan. Hasilnya? Nihil. Justru kumpul-kumpul itu malah memperparah penularan wabah itu sendiri.
\n 
\nDi era itu, zaman globalisasi itu belum dikenal. Belum ada transportasi lintas benua dalam hitungan jam seperti pesawat terbang. Boro-boro pesawat terbang, mobil saja belum ada. Transportasi paling mewah zaman itu mirip-mirip delman dengan binatang kuda sebagai penggerak utamanya.  Dan  tetap saja wabah itu menyebar luas  menewaskan kurang lebih 150-200 juta orang. Itu kira-kira hampir seperempat populasi dunia saat itu.
\n 
\nPada Maret 1520, benua Amerika juga dihantam oleh wabah cacar setelah penjelajah Eropa mendarat di Meksiko. Benua Amerika saat itu belum punya kendaraan, delman aja belum punya.  FYI, kuda-kuda yang jadi image suku Indian itu baru ada setelah impor dari Eropa. Tapi, wabah cacar diperkirakan membunuh hampir sepertiga populasi pada akhir tahun 1520.

Wabah sudah menghantam peradaban manusia sejak lama. Setidaknya sejak manusia memasuki era agrikultur yang membuat manusia hidup menetap dan berdampingan dengan hewan-hewan ternak. Hal ini memungkinkan manusia terinfeksi oleh kuman yang biasa hidup pada hewan. Banyak  informasi dan  penjelasan detil tentang bagaimana kuman bermutasi dan menginfeksi manusia, bahkan memporakporandakan peradaban manusia.
\n   
\nTahun 1918 adalah sejarah kelam umat manusia. Wabah yang biasanya disebut Flu Spanyol menginfeksi setengah lebih dari milyar orang. 

Diperkirakan korban jiwa mencapai 100 juta orang dalam kurun waktu kurang dari  dua tahun. Melebihi jumlah korban jiwa Perang Dunia Pertama yang berlangsung brutal selama empat tahun.
\n  
\nSetelah wabah Flu Spanyol, dunia berbenah untuk menghadapi wabah dengan lebih baik. Fasilitas kesehatan diperbaiki, riset di bidang kesehatan ditingkatkan, informasi-informasi penting tentang wabah dibagikan dan lain sebagainya. Akses kesehatan lebih luas, antibiotik ditemukan, vaksin ditemukan dan banyak kabar  baik setelah manusia bersatu untuk melawan wabah.

Seabad setelah berlalunya Flu Spanyol, umat manusia dianggap berhasil meredam wabah. Meskipun sempat ada wabah SARS dan MERS, korban jiwa lebih rendah dibandingkan wabah yang pernah menghantam manusia sejak zaman batu. Sejak wabah itu, para ilmuwan, dokter, suster dan tenaga medis membanjiri dunia dengan berbagai informasi dan temuan-temuan baru tentang bagaimana caranya menghadapi sebuah wabah.

Ketika itu orang-orang di abad ke-14 tidak  pernah mengetahui penyebab wabah Black Death.  Pada saat itu imajinasi   manusia pun belum dapat membayangkan kalau setetes air liur mengandung jutaan mikroorganisme yang bisa menularkan penyakit dan menyuburkan wabah.

Pada tahun 1967, cacar air menjangkiti 15 juta orang dan membunuh 2 juta di antaranya. Satu dekade berikutnya, kampanye untuk melakukan vaksinasi global berhasil hingga pada 1979, WHO mengumumkan bahwa umat manusia berhasil menakhlukkan cacar air.
\nPada saat ini, di awal tahun 2020, di mana zaman sudah sedemikian canggih, dengan teknologi maju dalam segala bidang, dunia diserang wabah covid-19 yang hingga sekarang sudah merenggut ratusan ribu nyawa melayang, bahkan belum tahu entah sampai kapan pandemi covid019 ini akan berakhir.
\n 
\nAkan tetapi ilmuwan kita saat ini meskipun berhasil mengidentifikasi virus corona ini dalam waktu dua minggu dan mengembangkan alat tes untuk mengidentifikasi orang-orang yang terjangkit virus baru ini. Namun demikian, tetap saja obat yang bisa meredam virus tersebut hingga saat ini belum juga ditemukan. 

Yang terjadi adalah bagaimana menyesuaikan diri antara manusia dengan virus covid-19, atau beradabtasi dengan istailah “the new normal”, dengan meningkatkan kebersihan, menyiapkan infrastruktur kesehatan dan lain sebagainya adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi wabah.
\n  
\nMakhuk Adaftif

Dalam novel “Albert Camus” yang diterjemahkan NH Dini (1985), diceritakan; Kota “Oran”  dilockdown gara-gara dilanda epidemi Sampar yang ganas. Mendadak Oran  jadi kota tertutup. Warga tidak bisa keluar masuk kota, dan orang di dalam tidak bisa keluar kota, yang di luar kota tidak bisa pulang.
\n 
\nDalam kota yang tertutup itu, ada beberapa tokoh, antara lain dokter Bernard Rieux, pastur Paneloux, Jean Terrau, dan Joseph Grand yang menjadi tokoh penting di Sampar. Berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya, Grand di sepanjang novel itu digambarkan sebagai orang yang tidak bisa beradaptasi.  Alih-alih terlibat dan membantu dalam penanganan sampar,  Grand lebih memilih menghabiskan energinya untuk mencari cara agar bisa keluar dari wabah,  dan menemui isterinya yang terjebak di luar kota.
\n   
\nDalam pandemi corona sekarang ini, barangkali banyak dari kita yang seperti Grand, pribadi yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, yang disebut  The New Normal. Lingkungan baru yang diperlukan untuk memutus rantai penularan corona yang berupa aneka pembatasan aktivitas warga meliputi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tinggal di rumah saja, jaga jarak (social/physical distancing), dan lain-lain. 
\n 
\nEntah sampai kapan kondisi tidak normal itu akan berlangsung. Bahkan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo mengatakan  “COVID-19 ini belum akan berakhir dan kita belum ada kepastian kapan akan berakhir, ungkap Doni.

Memang sering juga kita mengalami kondisi tidak normal, dan kita juga harus beradaptasi, dan berhasil beradaptasi. Tetapi biasanya kondisi tidak normal itu berlangsung singkat, dan itu yang menentukan keberhasilan dalam beradaptasi.
\n 
\nNamun, kondisi saat ini berbeda. Kiranya belum pernah kita alami sebelumnya. Yang jelas, kondisi baru ini sedikit banyak mengubah aktivitas rutin yang sudah dilakukan bertahun tahun, bahkan puluhan tahun.
\n 
\nSituasi baru yang datang sangat tiba-tiba, mendadak tanpa persiapan sebelumnya. Hal ini berbeda dengan liburan, yang dimaksudkan untuk menghindar dari rutinitas sehari-hari. Di liburan, ada sesuatu yang dipersiapkan dan direncanakan.

Pertanyaannya, berhadapan dengan lingkungan baru ini, akankah kita memilih menjadi seperti Grand?

Adaptasi dalam  The New Nornal 

Manusia adalah makhluk adaptif, sebagaimana kita fahami bahwa hampir semua tindakan manusia ditentukan niat, nilai, ide, norma-norma tertentu. Selain itu juga ditentukan oleh lingkungan. Ketika lingkungan berubah, tindakan juga bisa berubah. Artinya, manusia beradaptasi.

Pendeknya, manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi, penyesuaian diri terhadap lingkungan diperlukan agar organisme bertahan hidup. Artinya, jika tidak ada adaptasi, itu justru akan membahayakan kehidupan. Setidaknya, akan mengurangi kemampuan organisme dalam bertahan hidup. 

Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia akan selalu berhadapan dengan lingkungan baru,di mana  individu tidak hanya punya pilihan dikotomis: menerima atau menolak. Sebab, di antara itu ada yang lainnya, yakni tindakan alternatif dan substitusi. Alternatif terjadi jika dalam berhadapan lingkungan baru itu individu malah menemukan dan menentukan sendiri tujuan atau cara baru.
\n  
\nDengan demikian, ketika rutinitas yang sudah berlangsung sekian lama hilang atau berubah. Hal itu justru melahirkan sesuatu hal lain yang selama ini tidak ada. Misalnya, referensi baru dalam materi perkuliahan. Bisa jadi, karena rutinitas yang ada dan menjadi kebiasaan, referensi perkuliahan begitu-begitu saja. Tidak ada hal yang baru. Tetapi ketika rutinitas itu berubah malah ditemukan referensi baru. Sesuatu yang baru susah ditemukan karena rutinitas, sekarang malah berlimpah.

Bentuk lain adaptasi adalah substitusi. Berbeda dengan alternatif, dalam substitusi umumnya tidak ada makna baru. Ia hanya mengganti dari sebelumnya yang ada dengan cara baru.

Misalnya, perkuliahan tatap muka diganti dengan kuliah online, interaksi fisik digantikan dengan interaksi lewat dunia maya. Malah bisa jadi, bukannya menemukan hal baru, di subsitusi justru menghilangkan sesuatu yang sebelumnya ada. Misalnya saja, afeksi yang tidak ada di interaksi online.

Adaptasi bukan suatu hal yang bisa ditawar. Adaptasi menjadi keharusan. Apalagi, jika lingkungan baru ini gara-gara corona akan berlangsung lama. Artinya, lingkungan baru, rutinitas baru yang berbeda dengan sebelumnya menjadi normal baru. Misalnya, yang sekarang sudah terbayang adalah kebiasaan baru, yakni cuci tangan, tidak berjabat tangan, menjaga jarak.
\n 
\nTentu adaptasi terhadap normal baru itu bisa dilatih dengan berbagai hal. Misalnya, pertama, social distancing bukanlah emotional distancing. Maksudnya, meskipun hanya lewat online, tetapi bersosialisasi tetap berlangsung.  Kedua, memperluas wawasan. Ketika akitivitas fisik terbatas, janganlah itu diartikan terbatas pula aktivitas kognisi. Ketiga, mengembangkan hobi. Hobi biasanya melibatkan imajinasi. Konon, imajinasi lebih penting dari pada pengetahuan.  
\n 
\n--Suryanto, S.Sos., M.Si., staf pengajar Komunikasi Politik Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi  STIKOM) Semarang.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar