Pemuda Memandang Protokol Kesehatan

  Kamis, 25 Juni 2020   Abdul Arif
Tri Karjono, S.Pi, Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Jawa Tengah. (dok)

AYOSEMARANG.COM-- Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan pasal 1 ayat (1), mendefinisikan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan dengan usia antara 16 sampai 30 tahun.

Pemuda adalah individu yang sedang mengalami perkembangan baik fisik maupun emosional. Pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum sepenuhnya memiliki pengendalian emosi yang stabil (Taufik Abdullah, 1974). 

Pemuda juga dicirikan sebagai periode hidup yang memiliki kecepatan, ketangguhan, kecerdasan, daya kreativitas dan inovasi yang tinggi.

Dalam proyeksi penduduk hasil Supas 2015, pada tahun 2020 ini jumlah pemuda dengan umur 10-29 tahun sebanyak 65,65 juta jiwa atau sebesar 24,28% dari total penduduk Indonesia. Dan seluruhnya dalam kurun waktu hingga 30 tahun mendatang mereka akan masih menjadi bagian dari kelompok penduduk produktif dan bagian dari masa bonus demografi bangsa ini, dimana periode tersebut tidak akan pernah terulang kembali di masa yang akan datang. Masa di mana mereka akan dan harus lebih kompetitif dalam mengarungi hidup.

AYO BACA : Star Hotel Semarang Siap Menyambut New Normal

Situasi pandemi Covid-19 menuntut perubahan perilaku seluruh lapisan masyarakat dan ini akan menjadi kunci optimisme untuk keluar dari anomali situasi normal, asal tetap dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah atau yang dikenal sebagai new normal sampai dengan ditemukan vaksin Covid-19. 

Tak terkecuali pemuda. Karena jika perilaku keseharian selama masa new normal ini ketika tidak didukung oleh seluruh elemen masyarakat maka akan sia-sia. Bukan tidak mungkin situasi akan kembali kepada masa selama tiga sampai empat bulan kebelakang.

Sayangnya sifat pemuda yang kuat fisik, optimisme tinggi, masa pencarian jati diri dan pengendalian emosi yang belum sepenuhnya stabil sepertinya lebih kentara dalam menyikapi penerapan protokol kesehatan selama pandemi ini.

Survei BPS menunjukkan bahwa semakin tinggi usia responden, semakin taat responden dalam berperilaku memenuhi himbauan pemerintah seperti menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun minimal 20 detik, physical distancing, dan lain-lain. 

AYO BACA : PT Victoria Care Indonesia Salurkan CSR Hand Sanitizer dan Hand Soap ke Polda Jateng

Dari 13 imbauan perilaku selama masa pandemi, nilai rata-rata perilaku yang dilakukan oleh pemuda dengan umur sampai dengan 30 tahun kurang dari 7,6. Semakin tua usia maka diperoleh indeks yang semakin tinggi. Hal ini diduga karena semakin tinggi usia responden, maka semakin tinggi tingkat kekhawatiran terhadap dampak pandemi pada dirinya.

Seperti diinformasikan banyak media bahwa tingkat fatalitas akibat pandemi covid-19 adalah orang-orang dengan riwayat penyakit kronis seperti jantung, ginjal dan paru-paru. Disamping itu adalah mereka yang lanjut usia, anak-anak dan mereka yang mempunyai daya imunitas rendah. Pemuda yang sebagian secara umum lebih kuat dari sisi fisik juga mempunyai daya imunitas yang lebih tinggi, sehingga sebagian merasa tidak lebih khawatir dibanding usia yang lebih tua. Sehingga cenderung abai dengan protokol yang ada.

Kebanggaan atas jatidiri bahwa dirinya sehat dan keyakinan akan sehat-sehat saja sedikit banyak juga mempengaruhi rendahnya tingkat ketidakpatuhan tergadap protokol kesehatan. Mereka kurang memperhatikan dan menyadari bahwa jikapun mereka tidak sakit dan tidak bergejala oleh dampak covid-19, mereka berpotensi untuk menjadi carier dari virus mematikan ini. Mereka dapat menjadi perantara akan terus berkembangnya virus ini lebih luas.

Walau tidak semua pemuda seperti yang dicontohkan diatas, tetapi ketika walau itu sedikit tetapi mampu memberi contoh dan standar bagi yang lain maka situasi new normal dengan segala tujuannya akan menjadi sia-sia. 

Apalagi ketika aturan pembatasan aktivitas yang selama ini dilakukan telah diperlonggar kemudian menjadikan uforia bagi sebuah kebebasan maka akan menjadi bumerang bagi seluruh masyarakat.
\n 
\nOleh karenanya ketentuan new normal harus dipahami bahwa bahaya masih mengancam oleh karenanya kita semua harus sadar dan berkewajiban untuk bersiap, mengantisipasi dan menjaga diri dengan segala senjata pertahanan yang efektif yaitu tetap mengutamakan protokol kesehatan yang telah ada oleh siapapun itu.

--Tri Karjono, S.Pi, Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Jawa Tengah

AYO BACA : ACT: Sedekah dan Qurban Solusi Kebangkitan Ekonomi di Masa Pandemi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar