Mahasiswa UNS Bergerak Memutus Mata Rantai COVID-19

  Selasa, 30 Juni 2020   Abdul Arif
Mahasiswa UNS Bergerak Memutus Mata Rantai COVID-19

AYOSEMARANG.COM-- Langit masih muram dan wabah tak kunjung usai. Covid-19 masih menjadi momok bagi Indonesia ditambah korban di berbagai rumah sakit masih ada.  

Keresahan masyarakat masih terpapar karena ketidaktaatan masyarakat lain yang istilahnya masih ngeyel. Apalagi dengan informan dari internet yang bebas berargumen terkadang membuat masyarakat semakin takut atau mungkin rasa tidak percaya terhadap berita yang menakutkan.

Kebijakan New Normal diadakan agar mengurangi beban negara dengan kesejahteraan yang seharusnya diterima oleh masyarakat. 

Di tengah kebijakan New Normal justru muncul pendapat bahwa membuat rancu secara rasional-emosional, karena masih banyak masyarakat yang tak mengindahkan kebijakan tersebut dan masyarakat yang merasa mengindahkan memiliki emosi untuk menyalahkan orang lain yang melanggar protokol kesehatan. 

Namun perlu diketahui bahwa kebijakan ini dibuat untuk memperbaiki sistem perekonomian negara dengan menaati protokol kesehatan yang sudah disepakati.

Namun hal ini tidak membuat mahasiswa diam di rumah tanpa mengerjakan apapun namun sebaliknya. Mahasiswa UNS memiliki jiwa peduli terhadap tanggungjawab negara dan meringankan tugas tenaga medis. 

Di satu sisi memang saat ini mahasiswa UNS sedang mengerjakan tugas kampus yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). KKN yang dari tahun ke tahun dilakukan dengan mengutus mahasiswa ke daerah-daerah yang harus dibantu kesejahteraannya selama kurang lebih 45 hari, namun sekarang karena adanya pagebluk, KKN dilakukan di desa mahasiswa tersebut atau #KKNdirumahaja. 

AYO BACA : Tebar Jaring, Nelayan Temukan Jasad Korban Tenggelam

Selain tujuannya memenuhi tugas kampus, namun mereka juga memiliki tujuan lain. Mahasiswa UNS FKIP Seraf Hutnikanari menuturkan tujuannya, “Pertama, memberi pemahaman kepada masyarakat tentang penanganan dan pencegahan COVID-19 melalui media sosial. Kedua, menjadi perantara informasi warga dengan pemerintah terkait dengan sosialisasi pemahaman COVID-19. Ketiga, memberikan fasilitas untuk masyarakat dalam pencegahan COVID-19,” Semuanya ini yang memotivasi untuk melakukan KKN yang tidak hanya sekedar tugas kampus namun juga sebagai tugas negara.

Berbagai inovasi baru muncul di kalangan anak muda khususnya mereka yang masih berada di bangku perkuliahan, yang mungkin bisa dikatakan paham terhadap wabah ini dan cara pencegahannya serta tidak mementingkan kepentingan mereka sendiri. 

Berbagai cara dilakukan untuk memutus mata rantai Covid-19, seperti yang dilakukan oleh Seraf di desa Ngegot Rt 04 Rw 12, Karanganyar, Jawa Tengah dengan membuat spanduk/baliho berukuran besar yang berisikan informasi mengenai pencegahan penyebaran Covid-19, memberikan masker pada setiap warga yang dijangkau mahasiswa, memberikan bantuan makanan pokok untuk menunjang kesehatan masyarakat serta membuat handsanitizer dan tempat cuci tangan bahkan beberapa yang mengadakan proses belajar mengajar gratis dengan menggunakan meja/bilik belajar yang ditutup oleh plastik begitu yang dilakukan oleh Marqus Trianto (Mahasiswa FKIP UNS) asal Wonogiri. 

Bahkan masih banyak lagi yang mahasiswa UNS lakukan, ditambah lagi para mahasiswa menyebarkan poster digital dalam bentuk jarkom (jaringan komunikasi) guna menambah wawasan masyarakat mengenai Covid19 dan dikirimkan ke berbagai media sosial serta guna menghilangkan  berita hoax dan digantikan dengan berita yang valid. mengurangi penyebaran informasi.  
\nBegitupun masyarakat yang dijangkau oleh mahasiswa juga menerima dengan sukacita dan tidak ada rasa takut namun bukan berarti mengabaikan protokol kesehatan, masyarakat masih menggunakan masker dan jaga jarak. 

Namun kondisi anak-anak dibawah umur mungkin seusia 6-12 tahun tidak dibiarkan mengalami kebosanan saat dirumah. Oleh karena itu, Seraf mengadakan lomba foto kreatif dengan tema melawan Covid-19 di desanya guna mengasah kreatifitas anak-anak. 

“Ternyata anak-anak sudah mengetahui cara memakai masker dan hidup sehat,” ujar Seraf. 

Tujuan yang Seraf buat yakni agar dengan mengadakan lomba itu anak-anak dapat mengetahui tentang protokol kesehatan atau melawan dengan hal kecil seperti cuci tangan dan memakai masker. Namun pada kenyataannya perlombaan foto ini diikuti oleh setiap anak dengan sukacita dengan foto yang sehat sekaligus kreatif dan mampu menggelitik hati orang dewasa untuk hidup sehat. Masih ada beberapa anak yang mengirim fotonya melalui whatsapp ibu dari anak tersebut juga beberapa sudah bisa mengirim foto mereka melalui whatsapp pribadi. 

AYO BACA : Gerebek Tempat Karaoke, Polisi Pergoki Pemandu Lagu Berhubungan Seks

“Semua anak yang berpartisipasi akan mendapat hadiah sehingga anak-anak tidak akan merasakan bahwa usaha yang telah mereka lakukan itu sia-sia, kesehatan itu memang penting dan harganya mahal,” tutur Seraf.

Saat ini dapat dilihat bahwa anak-anak masih keluyuran di desa mereka dengan tidak mau untuk memakai masker karena risih memakainya.

Penyebaran Covid19 sangat rentan pada usia anak-anak dan betapa ngerinya jika satu anak terkena Covid-19 hingga nyawanya taak terselamatkan, maka bangsa ini akan kehilangan satu benih generasi pemimpin negeri. Seperti berita pada hari Kamis, 25 Juni 2020 di laman Solopos ketika anak 12 tahun asal Kestalan terkena Covid-19. Hal ini yang sangat dipilukan mahasiswa, maka dari itu mahasiswa sebagai tonggak negara. 

Jika mahasiswa tidak bergerak maka bangsa ini juga tidak mungkin bergerak meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai usaha. Perlunya berkolaborasi antaraa mahasiswa dan pemerintah. Mahasiswa adalah para calon pemimpin bangsa.

Pemimpin adalah orang yang mampu untuk mempengaruhi sekitarnya begitupun mahasiswa. Tidak lagi dikenal dengan demonya yang hebat, namun sekarang dapat dikenal perjuangannya yang hebat untuk membantu pemulihan negeri.

Panggilan untuk mencapai cita-cita yang para mahasiswa impikan, kini dilatih dengan kegiatan terjun langsung dilapangan untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat. Mengabdi pada negara menjadi kewajiban setiap warga negara termasuk para mahasiswa.  Mahasiswa yang sudah belajar di bangkku perkuliahan, nantinya ilmu-ilmu yang diperoleh akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Perlu diketahui bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang bersifat buruk, namun yang ada hanyalah siapa yang menggunakan ilmu tersebut. Yang lalu mungkin masih muncul banyak pendapat masih banyak lulusan sarjana yang jadi penangguran, namun pendapat ini akan runtuh ketika mindset mahasiswa direkontruksi kembali.

Segala ilmu yang diperoleh guna kepentingan masyarakat bukan guna kepentingan pribadi. Karena masih banyak masyarakat yang masih mendapat pendidikan yang tidak layak, adanya ketimpangan sosial, bahkan hingga kemiskinan yang membuat tidak ada harapan hidup. Tidak perlu bersaing menjadi mahasiswa karena setiap pekerjaan mereka mayoritas berada pada wilayah yang berbeda. Saling kerja sama adalah kunci kesejahteraan masyarkat.

--Yoggi Bagus Christianto, Mahasiswa FKIP UNS

AYO BACA : Update: OPD Covid-19 di Jateng Tembus 50.495 Orang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar