Covid-19 Tingkatkan Kemiskinan

  Kamis, 16 Juli 2020   Adib Auliawan Herlambang
Tri Karjono / Statistisi Ahli BPS Provinsi Jawa Tengah

AYOSEMARANG.COM -- Covid-19 telah memberi dampak yang luas bagi hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali terhadap struktur pendapatan dan pengeluarannya.

Jawa Tengah, diantara wilayah dengan tingkat penularan yang tinggi di Indonesia menjadi salah satu wilayah yang terdampak secara signifikan pada pendapatan masyarakatnya.   

Hasil survei BPS Provinsi Jawa Tengah menyebutkan bahwa dari 10 570 responden yang mewakili warga Jawa Tengah, 41,6% diantaranya menyatakan mengalami penurunan pendapatan dibanding sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Lebih jauh hasil survei menunjukkan bahwa semakin rendah pendapatan masyarakat ternyata semakin berpotensi mengalami penurunan pendapatan dibanding masyarakat dengan pendapatan yang lebih tinggi. Pada masyarakat dengan pendapatan kurang dari 1,8 juta rupiah per bulan, 42,8% responden menyatakan dirinya mengalami penurunan pendapatan.

Sementara hanya 10% saja masyarakat dengan penghasilan 4,8 juta rupiah keatas yang merasakan penurunan pendapatan. Pada golongan masyarakat dengan pendapatan per bulan kurang dari jumah tersebut sangat mungkin dihuni oleh kelompok masyarakat dengan kategori miskin, hampir miskin dan memperoleh pendapatan dari sektor informal.

Di sisi yang lain, himbauan pemerintah tentang untuk beraktivitas dari dan di rumah saat pandemi ternyata juga mengakibatkan sebagian besar masyarakat mengaku mengalami kenaikan pengeluaran. Sebanyak 56,1 persen dari responden mengaku hal tersebut.

Bahkan 61,9% diantaranya merasakan kenaikan pengeluarannya lebih dari seperempat dari biasanya. Kenaikan pengeluaran terjadi pada beberapa jenis kebutuhan yang diakibatkan lebih seringnya beraktivitas di rumah.

Yang terbesar adalah bahan makanan, dikuti makanan dan minuman jadi, biaya kesehatan, biaya listrik serta paket data atau pulsa.  Kenaikan pengeluaran pada kebutuhan bahan makanan dirasakan oleh 48 persen masyarakat.

Oleh karenanya ditengah pemerintah gencar mengurangi tingkat kemiskinan justru adanya dampak Covid-19 sangat memungkinkan mengakibatkan masyarakat yang semula sebenarnya tidak dikategorikan miskin, karena sedikit berada diatas batas kategori miskin akan sangat berpotensi menjadi miskin ketika pendapatannya berkurang sementara pengeluarannya bertambah.

Angka Kemiskinan

Situasi tersebut diatas terbukti dan tergambarkan oleh rilis BPS Provinsi Jawa Tengah yang baru-baru ini disampaikan. Dalam rilis tersebut dijelaskan bahwa angka kemiskinan Jawa Tengah hasil Susenas terakhir mengalami kenaikan sebesar 0,83% menjadi 11,41% dibanding dengan angka kemiskinan bulan September 2019.

Jika pada bulan September 2019 dengan angka kemiskinan sebesar 10,58%, jumlah penduduk miskin Jawa Tengah sebanyak 3,68 juta orang, maka saat ini jumlahnya menjadi 3,98  juta atau mengalami peningkatan warga miskin sebanyak 301,5 ribu orang. Penambahan jumlah warga miskin di Jawa Tengah menjadi yang terbanyak ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Selama ini angka kemiskinan dihitung berdasarkan konsep kebutuhan dasar (basic need approach) dimana dikatakan miskin ketika seseorang tidak mampu dari isi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.

Batasan kemampuan ini diukur berdasarkan gasis kemiskinan. Ketika seseorang tersebut rata-rata pengeluaran untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan berada di bawah garis kemiskinan maka dikelompokkan ke dalam kategori miskin.

Adanya peningkatan harga berbagai jenis komoditas  selama enam bulan terakhir sebesar 1,28 persen, nilai tukar petani yang berada pada nilai impasnya (>100) dan rata-rata pengeluaran juga mengalami kenaikan maka garis kemiskinanpun juga mengalami kenaikan sebesar 3,51%.

Jika pada bulan September 2019   garis kemiskinan sebesar 381.992 rupiah maka pada Maret 2020 naik menjadi 395.407 rupiah. Komoditas bahan makanan yang diantaranya didorong oleh hasil survei diatas yang menyatakan pengeluaran bahan makanan mengalami kenaikan lebih berperan mempengaruhi garis kemiskinan, yaitu sebesar 74,38%.

Jika dilihat dari komposisi angka kemiskinan di kota dan di desa, secara konsisten menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di perkotaan lebih rendah dibanding di desa. Namun peningkatan jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah selama 6 bulan terakhir justru lebih lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan.

Jika penduduk miskin perkotaan meningkat sebesar 1,1%, justru di perdesaan hanya 0,54 %. Hal ini dapat diasumsikan bahwa dampak Covid-19 lebih dirasakan dan lebih berdampak pada masyarakat menengah ke bawah di perkotaan dibanding penduduk perdesaan.

Jika seseorang dengan penghasilan rendah (kurang dari 1,8 juta rupiah) tersebut digunakan untuk menghidupi keluarga dengan rata-rata 4 orang, maka dapat dipastikan keluarga tersebut merupakan keluarga miskin atau hampir miskin jika dipandang dari garis kemiskinan. Sementara disisi yang lain pengeluaran atau kebutuhan justru meningkat.

Jika akhir tahun lalu ada keyakinan yang tinggi bahwa angka kemiskinan Jawa Tengah di tahun ini akan menembus satu digit, Covid-19 telah membuyarkan harapan tersebut. Covid-19 telah mengakibatkan sebagian masyarakat yang semula terbebas dari kemiskinan kembali jatuh ke jurang kemiskinan serta semakin membenamkan sebagian masyarakat yang semula telah miskin.

Jika saja pemerintah tidak mengantisipasi dengan mempertahankan dan menambah cakupan bantuan, terutama kepada masyarakat berpenghasilan menengah kebawah yang terdampak langsung oleh pandemi Covid-19, niscaya akan semakin banyak lagi masyarakat yang jatuh masuk kategori miskin.

Dan jelas angka kemiskinan niscaya akan semakin tinggi. Disamping untuk mengurangi resiko tingginya kemiskinan, berbagai bantuan diharapkan mampu mempertahankan atau meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan kemampuan daya beli maka roda perekonomian akan tetap berjalan.

Penulis: Tri Karjono / Statistisi Ahli BPS Provinsi Jawa Tengah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar