Polusi Udara Picu Kanker Paru di Musim Kemarau Era Pandemi Covid-19

  Jumat, 17 Juli 2020   Abdul Arif
Muslimah, S.Si, MM, Apt, Dosen Fak. Kedokteran UNIMUS, Mhs S3 Ilmu Farmasi UGM

AYOSEMARANG.COM-- Kota Semarang khususnya dan wilayah Indonesia pada umumnya sebagian besar mulai memasuki musim kemarau yang diperkirakan (BMKG) dimulai pada Juni 2020. Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis akumulasi curah hujan, secara umum kondisi musim kemarau 2020 diprakirakan normal atau di mana curah hujan musim sama dengan dari rerata klimatologis akumulasi curah hujan pada 197 ZOM (Zona Musim) atau 57,65% termasuk kota Semarang. Sedangkan sisa daerah yang lain mengalami kemarau kering dan basah.

Gowes atau bersepeda lagi booming dan viral saat ini terutama di kota Semarang dan sebagian besar wilayah Indonesia, hampir setiap weekend tiba jalan utama dipenuhi orang yang lagi gowes. Hal ini disebabkan masyarakat mempunyai banyak waktu luang akibat banyak sekolah dan pekerja yang diliburkan, disamping itu gowes sangat menyehatkan bagi tubuh karena imunitas kita akan terbentuk untuk menangkal penyakit COVID-19 dan mengurangi polusi udara.

Ironisnya tujuan mulia bersepeda akan dinodai oleh polusi udara yang meningkat di musim kemarau ini terutama dari kendaraan bermotor/bermesin di jalan dan emisi pabrik, jika polusi udara terhirup bagi pengguna jalan seperti saat kita bersepeda dalam waktu yang lama terus menerus akan tertimbun di paru-paru memicu terjadinya kanker paru. 

Penggunaan masker pada saat bersepeda sangat tidak disarankan menimbul  keracunan CO2, dan hal ini menyebabkan polutan bisa masuk lebih cepat lagi ke paru-paru.

Kualitas udara buruk, polusi udara tampak seperti kabut yang menyelimuti langit dan tidak sehat terjadi di kota kota besar contoh Jakarta.

AYO BACA : Selawat Antikorona, Doa Keselamatan dan Kesembuhan Bangsa

Masyarakat Jakarta pun mau tidak mau harus menghirup udara yang tidak bersih ini setiap kali mereka beraktivitas di luar ruangan. Kota Semarang mempunyai polusi udara di bawah Jakarta. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kualitas udara yang buruk ini bisa menyebabkan kanker paru. 

Sebuah penelitian menemukan polusi udara menyumbang 4 % dari kasus kanker paru. Meski angka tersebut tidak besar, tetapi tetap saja bisa berdampak buruk bagi kesehatan seseorang. Lebih lanjut, beberapa penelitian berskala kecil di Indonesia juga menemukan bahwa polusi udara ikut berperan terhadap terjadinya sejumlah masalah kesehatan paru, antara lain penurunan fungsi paru (21–24 persen), asma (1,3 persen), Penyakit Paru Obstruktif Kronik, atau PPOK (sebanyak 6,3 persen pada non-perokok).
 
Kanker paru adalah kondisi ketika sel-sel kanker yang ganas terbentuk di paru-paru. Kanker ini merupakan satu dari tiga jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia dan lebih sering terjadi pada orang yang punya kebiasaan merokok.

Meski demikian, kanker paru juga bisa terjadi pada orang yang bukan perokok. Hal ini karena selain rokok, masih ada faktor lainnya yang bisa membuat seseorang berisiko mengalami kanker paru-paru. Salah satunya adalah polusi udara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan polusi udara seperti asap kendaraan, asap pabrik, dan beberapa polusi lain adalah penyebab kanker. WHO meminta seluruh negara untuk lebih peduli terhadap kesehatan penduduknya dan mengambil tindakan untuk menanggulangi hal ini. 

Selain itu, Badan Penelitian Kanker Internasional, IARC (International Agency for Research on Cancer), merupakan bagian dari WHO, menetapkan polusi udara masuk dalam kategori yang sama dengan asap rokok, radiasi sinar matahari dan plutonium sebagai penyebab kanker. 

Setelah melakukan bermacam penelitian, IARC mengatakan bahwa polusi udara dapat menyebabkan efek positif seperti gangguan jantung dan paru-paru. Selain itu, mereka juga menemukan bukti bahwa polutan adalah salah satu penyebab kanker paling nyata. data menunjukkan 223.000 kematian akibat kanker paru di seluruh dunia disebabkan oleh polusi udara. Lebih dari setengah kematian terjadi di Cina dan sejumlah negara Asia Timur lain. 
Industrialisasi menyebabkan buruknya polusi di kota-kota Cina termasuk Beijing. Dr Kurt Straif dari IARC mengatakan, "Udara yang kita hirup menjadi kotor karena campuran bahan yang menyebabkan kanker."

AYO BACA : Blocking Time dan Hak Pemirsa

Kita tahu bahwa polusi udara bukan hanya berisiko pada kesehatan secara umum, namun juga penyebab kematian akibat kanker.

Polusi udara sering dipisahkan menjadi polusi udara dalam ruang dan luar ruang. Keduanya  terbukti meningkatkan risiko kanker. Polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru. Meskipun peningkatan risiko kanker kecil untuk individu, karena semua orang terpapar polusi udara, namun tetap saja ia memiliki efek penting pada populasi secara keseluruhan. Polusi udara luar ruang: Polusi udara dapat menjadi penyebab kanker lebih besar dari faktor risiko lain, seperti merokok dan obesitas, tetapi polusi udara luar ruangan adalah hal yang mudah mempengaruhi semua orang. Faktanya, sulit bagi siapa pun untuk menghindari polusi udara sepenuhnya. Tetapi tidak perlu untuk menutup diri, kamu dapat memainkan peran dalam mengurangi tingkat polusi udara dengan mencoba menghindari menciptakan lebih banyak polusi. 

Caranya dengan menggunakan moda transportasi umum, memilih untuk berjalan kaki dan bersepeda. Sedangkan jenis polusi udara dalam ruangan yang paling umum adalah perokok di rumah dan bisa memaparkan kanker bagi penghuni keluarga lain termasuk anak-anak. Perokok meningkatkan risiko kanker dan penyakit lain, seperti penyakit jantung dan stroke, yang menyebabkan ribuan kematian setiap tahun. Nah, jika kamu adalah seorang perokok, merokok di luar dapat membantu mengurangi paparan terhadap orang lain di rumah. Selain itu, cobalah untuk berhenti merokok demi kesehatan tubuhmu sendiri.

Yuk simak tips bagaimana menjaga diri tetap bisa gowes menyehatkan di musim kemarau dan terhindar dari polusi udara dan bisa mengurangi polusi udara sebagai pemicu kanker paru :
1. Pilih rute gowes yang tidak padat lalu lintas jalan raya contoh jalan daerah pedesaan, sekitar persawahan dan bisa berfoto selfie dengan lingkungan sekitarnya.
2. Menerapkan pola hidup sehat sehari hari  (istirahat yang cukup, konsumsi makanan yang bergizi, berfikir positif).
3. Jaga jarak dengan pengguna sepeda yang lain di tengah pandemi COVID 19 dengan menerapkan protokol kesehatan
4. Membawa perbekalan minuman sendiri dan diusahakan untuk tidak jajan di pinggir jalan, karena menu makanan sudah terpapar polusi udara.
5.Berdo’a sebelum gowes supaya diberikan kesehatan dan selamat sampai rumah kembali

Demikian tips agar tetap sehat  dan bisa gowes di masa pandemi COVID 19. Semoga bermanfaat dan berkah informasi yang sy sampaikan mohon maaf jika ada tutur kata yang salah.

-- Muslimah, S.Si, MM, Apt, Dosen Fak. Kedokteran UNIMUS, Mhs S3 Ilmu Farmasi UGM 

AYO BACA : Mati Ketawa ala Korona

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar