Mimpi Remaja Masjid Jadi Takmir

  Senin, 14 September 2020   Abdul Arif
Usman Roin, Penulis adalah Mantan Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah

AYOSEMARANG.COM -- “REMAJA-Masjid adalah Takmir Masjid di masa depan, memerlukan pembinaan dan bimbingan dalam perkembangannya. Taukah kamu Pedoman Pembinaan Remaja Masjid yang praktis?” Kutipan kata yang penulis temukan di laman https://simas.kemenag.go.id kala pencarian data penelitian, sungguh sangat bermakna. Yang mudah dipahami, remaja masjid adalah the next generation takmir masjid. Hanya saja, mencari bibit remaja yang mau aktif dan ikut bergabung di masjid susahnya minta ampun.

Pakar kemasjidan, Drs. H. Ahmad Yani dalam bukunya ‘Melayani Jamaah Masjid’ (2016:93) mengistilahkan, bahwa remaja masjid adalah pilar penopang kemakmuran masjid. Menurut Yani, masjid memang bisa makmur tanpa remaja, namun masa depan masjid akan menjadi suram. Yakni, bagaimana keadaan masjid pada sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun mendatang, salah satu tolak ukurnya adalah bagaimana kondisi remajanya pada masa sekarang. Di sinilah pentingnya peran remaja masjid ikut berupaya memakmurkan masjid.

Ketertarikan penulis terhadap remaja masjid, karena pernah mendapat amanah sebagai Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma-JT). Hal itu tidak terlepas dari kebiasaan waktu kecil di dusun Ngantulan, Kabupaten Bojonegoro, sering pergi ke musala untuk mengaji Alquran, hingga membawa bekal kala Ramadan menginap jadi primus (pria musala). Baru pada pagi harinya pulang sebagai bagian dari etos perjuangan mencari ilmu Agama. 

Dari tempaan etos seperti itulah, naluri menjadi aktivis masjid pun terbangun. Sebab selain pernah menjadi Ketum Risma-JT, juga pernah menjadi pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) baik di tingkat Kota Semarang atau Provinsi Jawa Tengah. Adapun sekarang, menjadi salah satu pembina Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (PRIMA DMI) di Jateng.

AYO BACA : Mahasiswa KKN BMC Unnes Adakan Pelatihan Jantan dan Susu Jantan

Tentu, semangat remaja menjadi pilar kemakmuran masjid hari ini sangat dinanti.

Sebagaimana diketahui,  pembangunan masjid dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari data renewing (pembaruan) Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) RI, bahwa keberadaan masjid tahun 2020 sudah mencapai 266.351 bangunan. Tentu jumlah masjid yang tertera, semestinya sebanding dengan kehadiran remaja masjid. Hanya saja, problematika masjid yang tidak memiliki remaja/pemuda itu banyak sebab. Justru bagi penulis, organisasi remaja masjid yang sudah mapan, terlembaga, punya tanggung jawab membina potensi remaja/pemuda masjid. Konkritnya, dari tidak ada menjadi ada, dari tidak aktif menjadi aktif, dan dari tidak bisa berorganisasi menjadi bisa menjalankan secara profesional. 

Kehadiran organisasi remaja/pemuda masjid tentu sangat dinanti. Organisasi kemasyarakatan remaja masjid sebagai misal, BKPRMI yang masih ada kemitraan dengan DMI, atau PRIMA yang justru lahir sebagai banom DMI tentu harus turun gunung. Artinya, sebagai wadah organisasi remaja/pemuda masjid yang memiliki kepengurusan mulai dari pusat, wilayah, daerah dan seterusnya, perlu memikirkan bagaimana kaderisasi remaja masjid dilevel bawah terwujud. Bahkan, kehadiran organisasi tersebut berlomba-lomba, berkolaborasi memberikan pembinaan, pendidikan, dan menyakinkan bahwa kehadiran organisasi remaja masjid untuk masjid-masjid seantero nusantara ini penting. 

Hal di atas bila tidak terpikirkan, keberadaannya sebatas ada. Akan ramai kala pergantian, pelantikan, namun giliran action tidak kunjung nongol kegiatan riil-nya. 

AYO BACA : Mahasiswa KKN-T UPGRIS Adakan Bimbingan Jasmani di Masa Pandemi

Sebagai gambaran, remaja masjid di tingkat Kelurahan/Desa tidak terkoordinir dari sisi edukasi keorganisasiannya. Bahkan eksistensinya sekan-akan tidak diperlukan. Lalu, siapa yang akan menjawab, membina remaja masjid, dari tidak terorganisasi menjadi terorganisasi?

Pertanyaan ini sebenarnya yang harus dijawab oleh aktivis remaja masjid yang sudah mapan. Jangan hanya berkutat pada program musiman. Atau cukup puas dengan memperbesar, memviralkan nama organisasinya sendiri lewat program kegiatan yang dibuat. Yang lebih penting justru memberikan pendampingan dengan membuat pilot project membangun hingga mengaktifkan terbentuknya organisasi remaja masjid dari bawah. 

Bila itu dilakukan, kemanfaatan ilmu dan masa bakti kepengurusannya ada. Yakni, membantu masjid yang belum ada menjadi ada organisasi remaja masjidnya. Mulai dari perkenalan arti penting organisasi remaja bagi masjid-masjid, hingga sosialisasi anggaran dasar dan rumah tangga organisasi. Bila perlu, diberikan juklisnya secara  simpel untuk diaplikasikan, agar ada keyakinan bahwa hadirnya remaja masjid juga memiliki mekanisme pergantian yang baik. Sehingga bukan asal tunjuk oleh takmir, melainkan sudah melalui forum musyawarah tersendiri bersama para remaja. 

Untuk mengawal itu semua, turun gunungnya organisasi yang sudah terlembaga diperlukan. Bila tidak, nilai manfaat kepengurusannya akan sia-sia. Tidak punya kontribusi nyata subjek yang menjadi bidang garapannya bernama remaja/pemuda masjid. Sebagai contoh, jika di Jawa Tengah mengutip data simas.kemenag.go.id pada 14 September 2020 saja jumlah masjidnya sudah mencapai 46.901, lalu berapa yang mendapat pendampingan terbentuknya organisasi remaja masjid? Atau mengerucut pada Kota Semarang dari sumber data yang sama, jumlah masjid mencapai 1.329. Pertanyaannya, sudah berapa masjid yang dikenalkan pentingnya organisasi remaja masjid, terbentuk, hingga kemudian aktif melakukan kegiatan secara mandiri? 

Di sinilah arti penting organisasi remaja masjid yang sudah mapan, memberikan pembinaan kepada masjid dari akar rumput sebagai bagian dari bakti sosial. Jika tidak, mimpi remaja masjid jadi takmir sebatas mimpi. Masjid-masjid juga akan sepi dari ‘remaja, pemuda’ dan ramai para manula. Tentu, mumpung masih ada kesempatan, sedikit ide ini mungkin bisa diwujudkan oleh wadah organisasi remaja masjid seperti PRIMA DMI, BKPRMI, atau organisasi remaja masjid yang sudah progresif seperti Risma-JT, Ikamaba, Karisma di Kota Semarang.

--Usman Roin, Penulis adalah Mantan Ketua Umum Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah.

AYO BACA : Mahasiswa KKN UPGRIS Sosialisasikan PHBS Lewat Film

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar