Pangsa Pasar Nirbala Pendidikan Jarak Jauh

  Selasa, 15 September 2020   Abdul Arif
Tundung Memolo, M.Sc., Guru SMPN 3 Kepil, Wonosobo, Pimpinan Litbang Pendidikan Indomatika Yogyakarta. (Dok)

AYOSEMARANG.COM -- Dikutip dari weforum.org, bahwa COVID-19 telah menjadikan sekolah-sekolah tutup di seluruh dunia. Secara global, lebih dari 1,2 miliar anak di 186 negara belajar dari rumah. Akibatnya, pendidikan telah berubah secara dramatis, dengan munculnya e-learning yang khas, di mana pengajaran dilakukan dari jarak jauh dan pada platform digital.

Dengan pergeseran mendadak ini dari ruang kelas, di banyak bagian dunia, beberapa orang bertanya-tanya apakah adopsi pembelajaran online akan terus bertahan pasca-pandemi, dan bagaimana perubahan seperti itu akan berdampak pada pasar pendidikan dunia.
\nBahkan sebelum COVID-19, sudah ada pertumbuhan tinggi dan adopsi dalam teknologi pendidikan, dengan investasi global edtech mencapai US $ 18,66 miliar pada tahun 2019 dan pasar keseluruhan untuk pendidikan online diproyeksikan mencapai US $ 350 Miliar pada tahun 2025. Baik itu aplikasi bahasa, bimbingan belajar virtual , alat konferensi video, atau perangkat lunak pembelajaran online, menunjukkan telah ada lonjakan signifikan dalam penggunaan sejak COVID-19.

Pelatihan webinar digalakkan dan berjubel guru mendaftar. Bermacam jenis serta pelaksana pelatihan. Guru banyak yang menjadi youtuber. Ini menunjukkan bahwa akan ada pertumbuhan pangsa pasar pendidikan jarak jauh khususnya di Indonesia.
\nPrediksi pasar pendidikan jarak jauh (PJJ) yang menggurita sedikitnya ada 3 platform; pertama, interaksi virtual semisal webex, zoom, google meet, youtube sebagai pengganti tatap muka; kedua, kelas online semisal google classroom, canva  sebagai pengganti ruangan kelas; ketiga, media presentasi online semisal youtube, ppt, flash sebagai pengganti media papan tulis. 

AYO BACA : Mahasiswa KKN BMC Unnes Adakan Pelatihan Jantan dan Susu Jantan

Mampukah perusahaan – perusahan besar menginvestasikan dananya untuk PJJ dengan 3 platform digital di atas secara gratis? Gratis dalam bentuk pelayanan jasa, konten pembelajaran, serta kuota. Mengacu pada perkembangan di beberapa negara, tidak mustahil di Indonesia akan muncul.
\nPendidikan jarak jauh prinsipnya nirbala, artinya prioritas kualitas didahulukan daripada keuntungan finansial. Perusahaan swasta atau BUMN dapat memanfaatkan investasinya untuk kemajuan pendidikan. Menginvestasikan sebagian kecil dananya sejatinya merupakan bentuk iklan dengan sendirinya.

Teknis di lapangan tidaklah sulit. Sebuah pelatihan webinar dengan mengganti kuota kepada peserta setelah peserta registrasi, membiayai nara sumber, serta memberikan alokasi dana penyelenggara pendidikan jarak jauh, jika dihitung secara kalkulasi lebih murah.
\nLebih murah manakala dibandingkan dengan membiayai pelatihan dengan sistem luring (tatap muka). Bisa dilihat dari sisi akomadasi penginapan, makan, dan transport bagi peserta. Skema seperti ini semestinya dilirik oleh perusahaan. 

Perusahaan dapat melibatkan MGMP serta pemda setempat. Pengelolaan pendidikan jarak jauh (baik untuk guru dan siswa) oleh MGMP lebih transparan dan akuntabel. 

AYO BACA : Mahasiswa UPGRIS Buat Video Pembelajaran untuk PJJ di MI NU 36 Sendangkulon

Mengapa PJJ perlu latihan ? Karena transformasi teknologi yang kian cepat dan masif yang tidak direncanakan akan menghasilkan pengalaman pengguna yang buruk yang tidak kondusif untuk pertumbuhan pendidikan yang berkelanjutan. 

Meski demikian tantangan dan hambatan akan tetap ada. Sejauh ini, masih banyak guru yang gagap digital. Pembelajaran online di kelas hanya sebatas dimaknai dengan penugasan via WA. Guru memanfaatkan grup WA sebatas memberikan informasi materi dan pengumpulan tugas. 

Sebagian guru yang lain hanya menshare materi orang lain dengan mengirimkan link youtube. Semestinya link tersebut hanya sebagai tambahan, namun pada kenyataan justru menjadi pokok. Pembelajaran PJJ akhirnya menjadi sempit.

Segudang alasan semisal tidak banyak siswa memiliki HP, jaringan koneksi internet buruk, serta tidak punya kuota, menjadikan pembelajaran PJJ bermakna sempit. Padahal tuntutan pembelajaran online setidaknya mengakomodasi ketiga platform digital, yaitu adanya ruang kelas, media presentasi, serta adanya interaksi secara virtual.
\nTantangan dan hambatan seperti di atas, semestinya dapat disorot oleh perusahaan besar untuk menginvestasikan dana pendidikannya dengan memberikan beragam pelatihan. Dengan demikian, PJJ dapat terserap oleh semua kalangan guru.  

-- Tundung Memolo, M.Sc., Guru SMPN 3 Kepil, Wonosobo, Pimpinan Litbang Pendidikan Indomatika Yogyakarta

AYO BACA : Tingkatkan Literasi Masyarakat, Mahasiswa KKNT UPGRIS Sebarkan Media Edukasi Covid-19

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar