Menggalang Kebersamaan di Era Pandemi

  Jumat, 20 November 2020   Adib Auliawan Herlambang
Drs Gunawan Witjaksana MSi / Dosen dan Ketua STIKOM Semarang.

AYOSEMARANG.COM -- Heboh pelanggaran protokol kesehatan (prokes) masih saja terus bergaung. Dari heboh pelanggaran prokes terkait proses pilkada yang bahkan sampai dengan sejumlah data yang disampaikan Bawaslu, hingga kerumunan massa yang besar terkait dengan penyambutan kedatangan serta perhelatan lain, yang hingga berujung pada pencopotan dua Kapolda oleh Kapolri.

Ujung heboh pun terus bergulir dan bernada saling tuding, hingga antisipasi yang perlu dilakukan menghadapi hal serupa ke depan.

Pertanyaannya, masih perlukan hal- hal yang membuang energi semacam itu terus dilakukan? Tidakkah akan lebih baik bila semua pihak saling berempati, sekaligus saling mengikuti prokes, demi cepat teratasinya Pandemi Covid-19, sekaligus memulihkan kembali sendi- sendi kehidupan , demi masa depan kita bersama?

Saling Menjaga

Bila kita mencermati prokes yang dianjurkan serta diinisiasi pemerintah, sesungguhnya bukanlah hanya pengekangan atau pengurangan hak kita dalam bersikap serta berperilaku.

Meski dalam prakteknya ada Undang- undang serta Peraturan prokes dengan sejumlah sanksi yang diterapkan bagi pelanggarnya, namun bila kita renungi sebenarnya mengandung pesan komunikasi yang bertujuan mulia.

Tujuan mulia itu akan bisa tercapai, apabila setiap orang menjalankan prokes dengan baik yaitu disiplin menggunakan masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Bila itu dilakukan setiap orang dengan sadar tanpa terkecuali, maka sesungguhnya yang terjadi adalah kita saling menjaga serta melindungi seluruh keluarga kita, utamanya mereka yang dalam usia rawan dari sisi kesehatan, terutama yang disertai penyakit penyerta lainnya.

Bila itu kita kaitkan dengan perintah agama, maka menjaga kesehatan adalah fardhu ain ( wajib hukumnya). Karenanya, sebaiknya kesan keterpaksaan, ketertekanan, serta keegoisan harus kita tinggalkan, dan kita kedepankan emphati kita masing- masing, sehingga hanya niat saling menjagalah yang mengemuka, serta selalu terngiang di benak kita.

Pembenaran ke Dialog

Kesan seringnya terjadi pelanggaran prokes sebenarnya lebih ke keegoisan kita masing- masing, diperkuat  klaim saling justifikasi ( pembenaran) pendapatnya masing- masing, yang tentu berargumen pada demokratisasi, yang mungkin diperkuat dengan referensi apa pun yang hanya dilihat sepotong- sepotong, alias tidak holistik ( menyeluruh).

Melihat kenyataan bahwa Pandemi Covid-19 itu nyata dan masih terus memakan korban, termasuk para dokter serta tenaga kesehatan lainnya, tampaknya sudah saatnya lah kita tidak saling membela diri dan menyalahkan pihak lain.

Sudah saatnya kita saling melakukan introspeksi, tidak mengulangi kesalahan masa lalu, saling berdisiplin pengikut prokes, karena sesungguhnya muara akhirnya adalah kesehatan kita bersama. 

Sambil menunggu diberikannya vaksin sebagai salah satu hal penting untuk memutus covid-19, maka disiplin menjalankan prokes merupakan tindakan riil saat ini.

Kemampuan kita untuk terus menyosialisasikan serta mengajak mengikuti prokes , tentulah merupakan sumbangan yang tidak kalah hebatnya. Dengan cara itu, diharapkan kita tidak akan lagi saling menyalahkan, karena disiplin mengikuti prokes, pelan namun pasti, akan memupuk rasa emphati kita, mengikis super ego kita masing- masing.

Penulis: Drs Gunawan Witjaksana MSi / Dosen dan Ketua STIKOM Semarang.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar