>

Mengharap Baiknya Komunikasi di 2021

  Jumat, 01 Januari 2021   Adib Auliawan Herlambang
Drs Gunawan Witjaksana M Si/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

AYOSEMARANG.COM -- Tahun 2020 baru saja kita tinggalkan, dan tahun 2021 baru saja kita masuki. Kalau kita sedikit menengok ke belakang, khususnya di sektor komunikasi, maka catatan hitam yang perlu kita cermati, untuk selanjutnya kita hindarkan di tahun 2021 yang akan datang.

Berbagai isi komunikasi yang bersifat hoax serta menyesatkan melalui berbagai media, khususnya media sosial ( medsos) muncul serta bertebaran bagai jamur di musim hujan.

Saking banyaknya, masyarakat awam makin sulit memahami, mana informasi yang informatif, benar dan jujur, serta mana yang menyesatkan.

Celakanya, dari sisi Ilmu Komunikasi, justru informasi yang hoax serta menyesatkanlah yang mudah dipercaya. Kita tentu ingat dengan Uncertainty Theory of Communication.

Informasi yang berisi ujaran kebencian serta SARA  serta pornografi pun banyak bertebaran, meski UU Pers, UU Penyiaran, UU Pornografi, UU Keterbukaan Informasi, bahkan UU ITE telah ada dan berlaku.

Tampaknya mereka yang menyalahgunakan informasi itu selain karena ketidaktahuannya, juga banyak yang sengaja untuk membuat masyarakat resah dan ujungnya kepercayaan pada pemerintah menurun. Mereka seolah tidak peduli bahwa pemerintah seluruh dunia, termasuk Indonesia sedang berjuang mengatasi dampak Pandemi Covid-19, yang mengganggu seluruh lini kehidupan masyarakat.

Pertanyaannya, tidakkah sebaiknya dan sudah waktunya semua fihak merubah gaya komunikasinya demi kepentingan bersama?, Atau akankah masih tetap marak informasi hoax, serta apa yang sebaiknya dilakukan untuk menanggulanginya?

Kebulatan Tekad

Satu catatan emas di akhir tahun 2020 antara lain adalah, tatkala pemerintah serta aparat hadir di tengah masyarakat, menindak tegas ujuaran kebencian dan pornografi di media, serta menertibkan semua hal yang dianggap tidak sesuai UU serta peraturan yang berlaku. Sebagian besar masyarakat mengapresiasinya, baik melalui berbagai pernyataan, karangan bunga, serta hasil poling yang terpublikasi lewat berbagai medsos.

Tampaknya, masyarakat sudah mulai jengah dengan berbagai tindakan serta pesan komunikasi yang tidak sesuai dengan amanat para pendiri bangsa, yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.
Berbagai pendapat provokatif yang menganggap pemerintah membatasi bahkan mengekang kebebasan pun, banyak terbantahkan oleh berbagai pernyataan yang menolaknya.

Penulis pun di berbagai wawancara dengan berbagai media selalu membantah hal tersebut. Sebagai bukti, ratusan tulisan penulis yang telah dimuat di berbagai media tidak pernah bermasalah. Meski kadang tulisan itu berupa kritik, namun kritik konstruktif, disertai data serta referensi ilmiah, serta tidak berbau SARA serta ujaran kebencian.

Puncaknya, tatkala pemerintah secara resmi melarang  semua aktivitas FPI, apresiasi pun marak kita saksikan melalui berbagai media, baik media arus utama, atau pun medsos.

Masyarakat yang makin cerdas tampaknya benar- benar ingin kembali ke kithahnya sebagai masyarakat timur yang lembah manah, saling menjaga kerukunan, serta sifat gotong- royongnya yang tinggi.
Mereka sudah sangat jengah dengan kekerasan, saling menjelekkan serta saling membenci, dan semacamnya.

Harmonisasi

Karena itu, ke depan harapannya semua proses komunikasi, utamanya komunikasi massa ( termasuk melalui medsos), diisi oleh informasi yang jujur, menarik, bermanfaat, serta menjaga etika.
Kekuatan komunikasi pararasional bila kita memanfaatkan media, diharapkan melahirkan hubungan harmonis antar komponen masyarakat yang seluas- luasnya, sehingga berdampak pada kerukunan serta kesejahteraan bersama.

Tentu, tidak mungkin semuanya bisa terselesaikan hanya melalui komunikasi. Faktor- faktor lainnya, tentu juga sangat besar perannya.

Namun, melalui komunikasi, khususnya dengan model dialog, saling mau mengalah dan tidak memaksakan kehendak ,jalan keluar serta solusi yang terbaik tentu akan ditemukan.
Hal yang ideal itu tentu sangat sulit terwujud, karena menyenangkan setiap orang itu merupakan hal yang mustahil.

Yang terpenting adalah bagaimana semua pihak mampu menyenangkan sebanyak mungkin orang, dan melalui cara itulah keharmonisan sekaligus kebersamaan dapat diwujudkan.

Penulis: Drs Gunawan Witjaksana M Si/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar