Cuaca Buruk, Lion Air Gagal Mendarat di Bandara Supadio Pontianak

  Rabu, 13 Januari 2021   Abdul Arif
Proses evakuasi pesawat Lion Air yang tergelincir di Bandara Radin Inten II Lampung, Senin (21/12/2020) (Dok Lion Air)

JAKARTA, AYOSEMARANG.COM -- Cuaca buruk membuat sejumlah pesawat gagal mendarat di bandara tujuan. Di antaranya pesawat Lion Air yang batal mendarat di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (13/1/2021) sore. Lion pun dialihkan mendarat ke Batam. Pesawat Garuda Indonesia mengalami nasib yang sama. 

Kedua pesawat Boeing 737-86N dan Boeing 738-8GP rute Jakarta-Pontianak ini akhirnya divert ke bandara lain setelah sempat holding di udara Bumi Khatulistiwa ini.

Executive General Manager (EGM) Angkasa Pura (AP) II Pontianak Eri Braliantoro menerangkan, tindakan divert dilakukan karena faktor cuaca buruk.

Karena faktor cuaca ada pesawat Lion divert ke Batam. Garuda divert ke Palembang, jelasnya saat ditemui di Posko Crisis Center Sriwijaya Air SJ-182 Pontianak, Rabu petang.

AYO BACA : Detik-detik Penemuan Black Box Sriwijaya Air SJ 182

Ia menerangkan, pesawat Lion Air dengan nomor oenerbangam JT 684 divert ke Batam pada pukul 14.20 WIB. Sedangkan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 504 divert ke Palembang pada pukul 15.02 WIB.

Dalam hal ini divert maupun RTB (return to base) adalah hal yang lumrah. Karena apa, karena mengutamakan faktor keselamatan penerbangan, jelas Eri.

Selain Lion dan Garuda, pesawat Sriwijaya Air pun sempat mengalami cuaca buruk. Namun, berhasil landing karena cuaca sempat cerah sedikit. Feasibility memenuhi standar jadi sempat landing, kata Eri.

Kemudian, pada pukul 17.40 WIB, terpantau pesawat Batik Air masih holding. Batik Air akan mengambil keputusan ketika sudah tidak memungkinkan dan cuaca di bandara tujuan masih buruk. Bisa dengan melakukan divert.

AYO BACA : Detik-detik Penemuan Black Box Sriwijaya Air SJ 182

Jadi, hari ini yang divert ada dua pesawat, Lion dan Garuda, akibat cuaca. Cuaca itu kan ada beberapa faktor. Ada faktor angin, faktor feasibility, jarak pandang yang memang di bawah standar penerbangan, jelasnya.

Dunia penerbangan, kata Eri, mengacu pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui kondisi cuaca. Jika dilihat secara visual, susah untuk dinilai.

Nah, hasil dari BMKG inilah yang akan diteruskan ke Air Traffic Controller (ATC) atau pilot. Untuk mereka mengambil keputusan landing atau divert, tutupnya.

Untuk diketahui, holding adalah suatu hal yang dilakukan untuk menunda sebuah pesawat yang sedang terbang.

Sedangkan divert merupakan pengalihan pendaratan ke bandara terdekat, yang terjadi akibat cuaca buruk, sehingga pesawat tidak memungkinkan untuk mendarat di tempat tujuan.

AYO BACA : Ini Daftar Penerima Vaksin-Covid-19 Bersama Jokowi, Ada Artis hingga Buruh


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar