>

Soto Kudus, Tetap Mantap Meski Pantang Menggunakan Daging Sapi

  Kamis, 18 Februari 2021   Abdul Arif
Soto Kudus Pak Ramidjan yang terlihat lebih pekat dari soto Kudus lainnya. (dok Instagram Soto kudus Pak Ramidjan)

AYOSEMARANG.COM -- Nusantara memiliki banyak kekhasan di tiap daerahnya, baik itu tari, lagu, hingga makanan. Salah satu jenis makanan yang memiliki ragam di Indonesia adalah soto. Siapa sih yang tidak tahu soto? Ya, makanan yang berkuah ini layak menjadi salah satu menu yang patut dicoba, terutama oleh para pencinta makanan khas Nusantara. Soto memiliki banyak jenis, misalnya soto Padang, soto Lamongan, soto Betawi, soto Banjar, soto Medan, soto Kudus, hingga soto Padang.

Sama seperti soto Betawi, soto Madura, soto Medan, dan soto lainnya, soto Kudus pun tidak kalah melegenda. Benar, Kudus yang terkenal dengan rokok dan jenangnya juga memiliki soto yang bahkan telah dijual di berbagai penjuru Nusantara. Di Kudus sendiri, soto yang paling terkenal adalah Soto Kudus Pak Denuh, Soto Kudus Pak Ramidjan dan juga Soto Kudus Bu Djatmi yang telah berdiri sejak 1982.

AYO BACA : Masih Uji Coba, Posyandu Tinjomoyo Kembali Aktif Layani Masyarakat

Isi dari semangkuk soto Kudus biasanya terdiri dari daging ayam atau kerbau, tauge, dan bawang goreng. Hal ini tentu berbeda dengan soto Betawi yang menggunakan jeroan, ataupun soto Madura yang mengandalkan daging sapinya. Di Kudus, penggunaan daging sapi masih dianggap tabu. Konon ketika Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di wilayah Kudus, beliau menganjurkan untuk menjauhi penyembelihan sapi karena hewan tersebut menjadi hewan suci menurut umat Hindu. Ini merupakan bentuk toleransi dan strategi dakwah Sunan Kudus yang saat itu masyarakat Kudus mayoritas memeluk Hindu.

Berdasarkan keterangan dari Ibu Purwanti (40), soto Kudus memiliki kekhasan tersendiri, yakni penggunaan santan dan kaldu yang cenderung lebih sedikit. Rasa kaldu yang ditawarkan pada semangkuk soto ayam dan soto kerbau pun berbeda. Apabila soto ayam cenderung berasa gurih dan asin, soto kerbau sedikit lebih manis karena menggunakan gula merah.

AYO BACA : Tanggap Covid, Mahasisw KKN MIT ke-11 Melakukan Penyemprotan Disinfektan

“Kalau saya kuahnya agak kental, ada kunyitnya dan bumbunya lebih banyak, terutama bawang,” jelas Ibu Purwanti, anak Ibu Djatmi yang menjadi generasi kedua pemilik Soto Kudus Bu Djatmi, saat ditemui, Selasa (16/2).

Komposisi tersebut, tambahnya, tentu berbeda dengan kota yang terletak di barat Kota Kudus, yakni Semarang. Soto Semarang mengandalkan bihun dengan kuah bening dan tidak menggunakan santan. Selain itu, soto Kudus juga memiliki perbedaan dengan soto Medan. Meskipun sama-sama menggunakan santan, soto Medan cenderung berwarna lebih pekat dengan tambahan kentang rebus.

Soto Kudus Bu Djatmi menjual seporsi soto Kudus dengan harga 15 ribu. Biasanya, warung tersebut ramai di hari Sabtu dan Minggu dengan pengunjung mayoritas di luar warga Kudus.

“Biasanya selain warga Kudus karena mungkin mereka penasaran,” pungkas Ibu Purwanti.

Penulis: Aslamatur Rizqiyah

AYO BACA : Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bantu Aktifkan Sendang dengan Budidaya Ikan


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar