>

Budidaya Maggot BSF, Penunjang Ekonomi di Masa Pandemi

  Senin, 22 Februari 2021   Adib Auliawan Herlambang

AYOSEMARANG.COM -- Pendemi virus corona tidak selalu disikapi dengan hal yang negatif, banyak juga hal positif yang bisa kita dilakukan. Salah satu hal positif yang dapat dilakukan yaitu dengan Budidaya Maggot seperti yang dilakukan oleh Ketua RW 21 Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Kelompok KKN UPGRIS yang terdiri dari Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi yaitu Karlina Yuliaji, Rizky Ayuningtyas Nawanda, M. Alan Wibowo, Fitri Rahmawati,  Sajaya, dan Maulina Ainur Rohmah melakukan sosialisasi terkait budidaya maggot sebagai penunjang ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di masa pandemi.

Maggot atau larva dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens) merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein. Murtidjo (2001) menyebutkan bahwa bahan makanan yang mengandung protein kasar lebih dari 19%, digolongkan sebagai bahan makanan sumber protein. Maggot H. illucens dapat dijadikan pilihan untuk penyediaan pakan karena mudah berkembangbiak, dan memiliki protein tinggi yaitu 61,42% (Rachmawati dkk., 2010).

“Maggot termasuk hewan yang sangat efektif dalam mengurai sampah organik. Dimana dia akan menghabiskan semuanya dengan cara menghisap cairan yang terdapat di dalam sampah organik. Setelah diteliti ternyata maggot memiliki kandungan protein yang sangat tinggi dan sangat baik untuk pakan lele, pakan ayam, dan pakan burung. Selain itu sisa sampah organik yang sudah kering hasil penguraian ini juga bisa dijadikan pupuk dan bagus sekali untuk tanaman,” ujar Bapak Ngatimin.

Dalam kegiatan ini, kami Mahasiswa KKN UPGRIS 2021 mengundang Bapak Ngatimin selaku Ketua RW 21 Desa Sendang Mulyo sekaligus yang sudah mencoba membudidayakan maggot sebagai narasumber kami.

Beliau mengatakan bahwa budidaya maggot ini membantunya untuk bertahan di tengah keadaan pandemi yang tidak menentu seperti sekarang ini. Sebab, adanya maggot ini mampu menjadi pengganti pakan hewan ternak yang ia budidaya pula.

Disini mahasiswa mampu membantu mencari solusi lain agar masyarakat tetap dapat melakukan kegiatan yang produktif di masa pendemi. Salah satunya dengan mensosialisasikan budidaya maggot (Sejenis Belatung) BSF kepada warga sekitar dengan harapan mampu menginspirasi serta menjadikan salah satu penghasilan dimasa pandemi ini.

Dalam budidaya maggot, hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu media pertumbuhan. Menurut Duponte dan Larish (2003), bahan yang cocok bagi pertumbuhan maggot adalah bahan yang banyak mengandung bahan organik. Limbah rumah makan terdiri dari campuran beberapa bahan sisa makanan seperti ikan, daging, sayur, buah, nasi dll.

“Dari beberapa literatur yang sudah saya baca, disini saya menggunakan limbah rumah tangga serta limbah pasar Desa Sendang Mulyo sebagai media pertumbuhan maggot. Sehingga dengan budidaya maggot BSF dapat membantu permasalahan sampah organik yang menggunung,” ujar Bapak Ngatimin.

Maggot BSF merupakan inovasi yang menggembirakan dan menguntungkan bagi para peternak, petani, dan masyarakat secara luas. Maggot BSF bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak unggas.

Penggunaan maggot sebagai pakan ikan bisa semakin menggairahkan budidaya ikan konsumsi karena harganya yang relatif murah. Untuk pakan ternak, maggot bisa mempercepat kenaikan bobot ternak.

Harapannya, kegiatan ini mampu memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat terkait bagaimana cara membudidayakan maggot yang mungkin masih asing oleh masyarakat khususnya bagi Warga RW 21 Desa Sendang Mulyo yang terdampak Covid-19 ini.

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar