>

Obral Buku dan Semangat Membaca

  Senin, 08 Maret 2021   Abdul Arif
Usman Roin, Alumnus Pascasarjana PAI UIN Walisongo Semarang dan pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.

AYOSEMARANG.COM --  Semangat membaca tidak semata lahir dari keberadaan buku baru, tetapi dari buku lama alias buku yang diobral harganya. Buku baru “yang baru terbit” dari sisi harga tentu masih mahal. Ditambah membaca yang belum membudaya, rasanya untuk sekadar membeli buku baru masih eman-eman uangnya. Alhasil, membaca buku menjadi perilaku yang belum membudaya di sekitar kita. Coba kita saling memeriksa diri, berapa buku baru yang rampung dibaca dalam setahun? Jika pertanyaan ini bisa dijawab dengan kesanggupan menyebut jumlah buku yang dibaca, artinya sudah ada kematangan diri untuk terbiasa, akrab, familier dengan membaca.

Atas pertanyaan di atas, bila kita tidak bisa menyebutkan jawaban atas jumlah buku baru yang dibaca, bagi penulis masih ada alternatif kedua, yaitu membeli buku yang diobral harganya untuk kemudian kita baca sampai tuntas.  Memang tidak terlihat keren membeli buku “obral” dari sisi rupiah, tetapi dari sisi menggiatkan budaya baca, hal itu sama kerennya dengan membaca buku baru. Terlebih, esensi membeli buku itu untuk dibaca, bukan hanya dibeli setelah itu tidak dibaca dan hanya membeli dan membeli saja yang tidak kunjung terwujud membacanya.

Perihal buku yang diobral (diskon), penulis juga sering sekali membelinya. Selain murah, sisi ekonomis memprioritaskan kebutuhan lain adalah alasan utamanya. Buku yang diobral tentu tidak selamanya tidak memiliki manfaat. Justru bagi kita yang ingin membiasakan membaca buku, di tengah ekonomi yang pas-pasan, membeli buku obral adalah keputusan yang tepat. Ini artinya, dari sisi ekonomis gairah untuk memiliki buku tidak surut. Semangat untuk membuka pustaka pribadi bisa segera terwujud. Alhasil, budaya baca terkecil di lingkup informal (keluarga) bisa terlaksana oleh sebab sumber bacaan yang tersedia walau sekadar buku obral.

Terkait budaya baca, sesekali kita perlu melihat hasil penelitian tentang semangat membaca di Indonesia yang masih di bawah. Salah satunya yang dikemukakan Lilik Tahmidetan dan Wawan Krismanto pada Jurnal Scholaria (2020:22) mengutip penelitian PISA tahun 2018, menempatkan Indonesia pada level bawah daya bacanya. Masih dari penelitian yang sama, mengutip PIRLS serta EGRA oleh Mullis dan Marti tahun 2017, ditambah USAID Indonesia pada tahun 2014, menunjukkan kabar yang belum menggemberikan, yakni daya baca masyarakat Indonesia belum meningkat. Belum lagi jika melihat hasil telaah Indonesia National Assesment Program di tahun 2016 yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan & Kebudayaan sendiri mengungkap data bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar di Indonesia adalah 46,83% berada pada kategori kurang, hanya 6,06% berada pada kategori baik, dan 47,11 berada pada kategori cukup.

Jika melihat potret membaca masyarakat Indonesia yang di dalamnya ada kita-kita sebagai individu, bagi penulis masih ada optimisme untuk meningkatkan angka ketertinggalan daya baca yang masih berada di level bawah. Apalagi dalam pandangan Harras (2014) kemajuan dalam segala bidang akan kita peroleh manakala membaca menjadi kemahiran kita. Untuk memperolehnya, syaratnya adalah membaca harus dibiasakan dan kebiasaan itu bisa terwujud jika kita memiliki sumber bacaan. Hal itu selaras dengan hasil penelitian di atas, bahwa belum optimalnya pelayanan sarana prasana perpustakaan ditengarai sebagai faktor pendorong rendahnya kemampuan budaya baca siswa Indonesia.

Merujuk pada hasil kajian di atas, hemat penulis, untuk mendongkrak daya baca hingga membudaya, keberadaan perpustaakan keluarga adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena secara istilah, perpustakaan keluarga adalah tempat atau ruang yang disediakan untuk memelihara dan mengoleksi buku, kitab, majalah, jurnal dan lain sebagainya, baik berupa karya orang lain atau hasil karya sendiri. Bagi akademisi, perpustakaan keluarga menjadi keharusan untuk meningkatkan keilmuan sesuai dengan gelar yang disandangnya. Sehingga mengoleksi buku “baru” menjadi kewajiban agar wawasan keilmuannya benar-benar expert (ahli) sebagai sumber keilmuan untuk kemudian ditransfer kepada mahasiswa.

 Pada keluarga biasa, atau bukan berprofesi sebagai akademisi, memiliki perpustakaan keluarga juga sangat ditekankan. Catatannya, pengadaan sumber bacaan berupa buku bisa dilakukan dengan membeli buku-buku yang berdiskon. Artinya, buku tersebut secara harga tidak sesuai dengan bandrol yang tertera, melainkan sudah diturunkan harganya. Selain ekonomis keberadaan buku yang diobral untuk meningkatkan daya beli dan cinta buku, pada aspek psikologis bisa meningkatkan daya baca dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer di lingkup pendidikan informal (keluarga). Apalagi bila secara mikro kebiasaan membaca sudah terbentuk, tentu kehadirannya bukan sekadar menginspirasi, melainkan menjadi teladan pada lingkungan keluarga-keluarga di sekitarnya.

Oleh karena itu, untuk membudayakan baca, kiranya perlu ditutup berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Pilihan untuk memiliki sumber bacaan sangat terbuka lebar, artinya mau membeli buku baru dengan harga yang masih mahal, atau buku diskon yang harganya murah meriah. Masih ditambah, era teknologi informasi ini kehadiran e-book mudah didapatkan dan di download, hasil penelitian jurnal kekinian juga mudah diakses tanpa batasan waktu. Meskipun begitu, membaca lewat gadget tentu harus diukur durasinya agar kesehatan mata tetap terjaga, karena bagaimanapun membaca buku (tercetak kertas) jauh lebih baik dari sisi kesehatan mata dan konsentrasi membaca.

Usman Roin, Alumnus Pascasarjana PAI UIN Walisongo Semarang dan pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar