>

Menyajikan Kunikan Daya Tarik Wisata Melalui Dongeng

  Selasa, 23 Maret 2021   Abdul Arif
Eko Sugiarto, Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta. (dok pribadi)

AYOSEMARANG.COM – Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Definisi berdasarkan UU 10/2009 ini dengan jelas menyebutkan bahwa selain keindahan, daya tarik wisata antara lain terkait erat dengan unsur keunikan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan unik sebagai tersendiri dalam bentuk atau jenisnya; lain daripada yang lain; tidak ada persamaan dengan yang lain. Pengertian keunikan di sini mengacu kepada sesuatu yang sulit ditemukan kesamaannya atau bahkan tidak ditemukan di tempat lain. Keunikan inilah salah satu yang dicari wisatawan. Dengan kata lain, ketika ingin menarik wisatawan datang ke sebuah destinasi pariwisata, selain keindahan, coba tawarkanlah kepada mereka keunikan.

Salah satu upaya untuk menghadirkan keunikan sebuah destinasi pariwisata adalah melalui dongeng, baik berupa mitos maupun legenda. Kehadiran dongeng berupa mitos dan legenda dalam pariwisata menjadikannya sebagai salah satu komponen yang penting. Tanpa dongeng, rasanya sulit bagi pemandu wisata (alih-alih mengatakan tidak mungkin) menyajikan materi pemanduan secara menarik selama mendampingi wisatawan.

Sayangnya, hal tersebut belum disadari sepenuhnya oleh berbagai pihak. Bahkan di lingkungan pelaku pariwisata, kesadaran akan pentingnya dongeng sekaligus menjadikannya sebagai perhatian utama dalam pariwisata baru muncul di kalangan yang terbatas, khususnya di kalangan pemandu wisata. Padahal, dalam beberapa kali seminar pariwisata yang penulis ikuti, kemampuan mendongeng (storytelling) berkali-kali disinggung. Hal ini menunjukkan bahwa peran dongeng sekaligus kemampuan mendongeng dalam pariwisata tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dongeng bisa menjadi “bumbu penyedap” bagi daya tarik wisata yang disajikan. Dongeng juga bisa menjadi pembeda sekaligus membuat keunikan sebuah destinasi pariwisata semakin menonjol. Tidak terbayangkan bagaimana bosannya wisatawan yang mengikuti paket wisata ke candi Hindu-Siwa yang ada di seputaran Sleman (DI Yogyakarta) dan Klaten (Jawa Tengah) tanpa kehadiran dongeng. Jika kemudian materi yang disampaikan oleh pemandu wisata “hanya” berdasarkan satu sumber, paket wisata ke candi Hindu-Siwa di kawasan ini bakal sangat membosankan karena cerita yang disampaikan akan relatif sama dari satu candi ke candi lain.

Kehadiran dongeng kemudian menjadikan cerita tentang arca Dewi Durga (Durgamahesasuramardini) di kompleks Candi Prambanan menjadi berbeda dengan arca serupa di candi Hindu-Siwa yang lain karena kehadiran sosok Roro Jonggrang dalam cerita. Tidak hanya di candi Hindu-Siwa yang ada di kompleks Candi Prambanan, sosok arca Dewi Durga ini pun bisa jadi diinterpretasi berbeda oleh masyarakat yang tinggal di sekitar candi lain sehingga antara satu candi dengan candi lain akan memunculkan dongeng yang berbeda, meskipun sama-sama candi Hindu-Siwa. Demikian juga dongeng tentang Kyai Recowicono (penyebutan “kyai” di sini dalam konteks tradisi Jawa, bukan dalam konteks tradisi pesantren) yang hanya ada di Candi Selogriyo (Kabupaten Magelang) yang tidak lain adalah arca Resi Agastya dalam mitologi Hindu.

Senyampang 20 Maret diperingati sebagai Hari Dongeng Sedunia, tak ada salahnya kita mencoba menyajikan (kembali) kunikan daya tarik wisata melalui dongeng. Tentu dengan sebuah harapan: bisa memperluas pengetahuan dan wawasan sekaligus memperkaya pengalaman berwisata bagi wisatawan.****

Penulis: Eko Sugiarto, Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar