>

Syaikhona Kholil, Ruh Model Lahirnya Nasionalisme Pesantren

  Rabu, 31 Maret 2021   Abdul Arif
Moh. Jefri As-shauri, warga Sumenep. (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Dalam catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesa, tidak banyak literatur yang membahas tentang kontribusi dan peran besar Syaikhona Kholil atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Kholil. Beliau bukan hanya sebagai mahaguru yang bisa mencetak ulama-ulama besar, lebih dari itu beliau merupakan inspirator bagi kita anak muda. Beliau juga yang memberikan izin kepada Syekh Hasyim ‘Asyari bersama dengan KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri dan Kyai As’ad Situbondo mendirikan salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Walaupun Syekh Kholil tidak termasuk dalam jajaran kepengurusan, bahkan tidak dimasukkan didalam tim penasehat, tetapi tokoh- tokoh NU mengakui besarnya sumbangsih yang diberikan oleh beliau.

Latar belakang awal mula berdirinya NU bisa dikatakan tidak mudah. Untuk mendirikan organisasi tersebut, para ulama meminta izin terlebih dahulu kepada Allah SWT. Permohonan petunjuk oleh Syekh Hasyim ‘Asyari rupanya tidak datang langsung kepada beliau, tetapi melalui perantara gurunya, Syekh Kholil. Selain berperan dalam berdirinya NU, Syekh Kholil bisa juga dikatakan sebagai “Ruh Model” bagi lahirnya pergerakan nasional dan nasionalisme di lingkungan pesantren. Beliau selalu mengajarkan apa yang warga nahdliyyin kenal dengan Hubbul Waton Minal Iman, untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan kalangan santri dan ulama-ulama pesantren dalam pergerakan kemerdekaan ataupun pasca kemerdekaan.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, Syekh Kholil memegang peranan sentral, yaitu menjadi muara bagi jejaring ulama jawa dan nusantara. Berkat beliau, lahir jejaring intelektual dalam pembangunan peradaban kultural kaum santri. Berkat beliau pula lahirlah ulama, cendekiawan dan pahlawan-pahlawan nasional yang memberikan yang luar biasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Rio Bahtiar dalam bukunya “Biografi Syaichona Kholil Bangkalan, Guru dan Kyai Sepuh Genggong”, ada beberapa murid beliau yang berhasil menjadi ulama besar antara lain: K.H. Muhammad Hasan Sepuh - pendiri Pesantren Zainul Hasan GenggongProbolinggo, K.H. Hasyim Asy’ari - pendiri Nahdlatul 'Ulama, pendiri Pondok Pesantren TebuirengJombang, K.H. Abdul Wahab Hasbullah - pengasuh Pondok Pesantren Tambak BerasJombang, K.H. Bisri Syansuri - pengasuh Pondok Pesantren DenanyarJombang, K.H. Manaf Abdul Karim - pendiri Pondok Pesantren LirboyoKediri, K.H. Ma'sum - Lasem, Rembang, K.H. Munawir - pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir KrapyakYogyakarta, K.H. Bisri Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Raudlatut ThalibinRembang, K.H. Nawawi - pengasuh Pondok Pesantren SidogiriPasuruan, K.H. Ahmad Shiddiq - pengasuh Pondok Pesantren Ash-ShiddiqiyahJember, K.H. As'ad Syamsul Arifin - pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Asembagus, Situbondo, K.H. Abdul Majjid - Batabata, Pamekasan, K.H. Toha - pendiri Pondok Pesantren Batabata, Pamekasan, K.H. Abi Sujak - pendiri Pondok Pesantren AstatinggiKebunagung, Sumenep, K.H. Usymuni - pendiri Pondok Pesantren Pandian, Sumenep, K.H. Zaini Mun'im - Paiton, Probolinggo, K.H. Khozin - Buduran, Sidoarjo, K.H. Abdullah Mubarok - pendiri Pondok Pesantren SuryalayaTasikmalaya,  K.H. Mustofa - pendiri Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan, K.H. Asy'ari - pendiri Pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari, Bondowoso, K.H. Sayyid Ali Bafaqih - pendiri Pondok Pesantren Loloan BaratBali, K.H. Ali Wafa - Tempurejo, Jember, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Syekh Kholil merupakan peletak “Batu Pertama” nilai-nilai islam nusantara yang moderat, universal, terbuka dan toleran. Karakteristik islam nusantara adalah menyebarkan islam dan membumikan nilai-nilai islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dengan santun dan damai. Salah satu bentuk pengimplementasian islam nusantara adalah dengan menyelaraskan budaya dengan nilai-nilai keislaman dan membentuk karakter yang berasaskan keindonesiaan.

Terlepas dari itu semua, Syekh Kholil adalah adalah sosok yang menginspirasi banyak orang, jasanya begitu besar kepada bangsa ini sehingga sangat pantas untuk menyandang gelar pahlawan nasional. Melalui beliau lahirlah ulama-ulama besar dan kharismatik di Nusantara. Selain itu. beliau dikenal dengan kezuhudan dan pola hidup sederhana, dimana pola hidup yang demikian sangat penting kita terapkan di zaman seperti ini.Zaman ketika konsep materialisme dan kapitalisme telah merasuk bukan hanya di kota-kota besar, melainkan juga di desa-desa.

Karakteristik kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Syekh Kholil, mampu mewarnai perkembanagan islam di Madura. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa dulunya organisasi NU adalah organisasinya para ulama, Kyai dan santri kalangan pinggiran. Organisasi ini membela kepentingan masyarakat bawah akan kehidupan sosial budaya dan memberikan andil besar melawan penjajah. Namun sekarang, NU sudah menyebar keberbagai lapis-lapis kehidupan masyarakat golongan atas dan golongan bawah, masyarakat lokal maupun internasional. Dengan kebesaran NU sekarang ini, diharapkan sosok Syaikhona Kholil dapat tergambar jelas untuk kita jadikan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Ke-NU-an dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Moh. Jefri As-shauri, warga Sumenep

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar