>

Menyoal Menjadikan Pemirsa Pelengkap Penderita

  Senin, 05 April 2021   Adib Auliawan Herlambang
Drs Gunawan Witjaksana, M.SI/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

AYOSEMARANG.COM -- Saat ini banyak orang bertanya-tanya, pemirsa televisi itu sebenarnya dimanjakan, atau justru dijadikan pelengkap penderita?

Pertanyaan yang kalau lihat kenyataan memang sangatlah logis. Banyak contoh yang makin nyata. Baru enak- enaknya pemirsa menyaksikan adegan sinetron yang menegangkan misalnya, tiba- tiba tanpa nyambung beberapa pemerannya menawarkan produk tertentu. Bahkan yang aneh sinetron laga yang berlatarbelakang sejarah pun ikutan demikian.

Selain kurang etis, karena mengganggu kenyamanan pemirsa, etika perikanan yang menyebut iklan harus disampaikan oleh adverting indocers pun dilanggar pula.

Penyelenggara siaran boleh berkilah, itu kan konsekwensi, karena siaran televisi itu butuh sokongan iklan, dan toh pemirsa disuguhi tontonan menarik. Namun, pedoman perilaku penyelenggaraan periklanan Indonesia jelas  mengaturnya.

Di sisi lain, bila mengacu prinsip komunikasi adalah kejujuran, tampaknya ketidakjujuran penyelenggara siaran yang hanya mengejar keuntungan semaksimal mungkinlah yang lebih dominan, dengan seolah menyuguhkan acara yang menarik bagi pemirsa.

Pertanyaannya benar- benar menarikkah sajian- sajiannya? Berimbang kah kemenarikannya tersebut dengan manfaat yang diperoleh pemirsa yang telah meminjamkan frequensi melalui negara kepada penyelenggara siaran?

Blocking Time

Belum lagi seringnya penyelenggara siaran melakukan blocking time yang sangat sering dilakukan bahkan tidak hanya dilakukan satu stasiun televisi saja, melainkan sering sekali secara berbarengan. Meski tidak sesuai dengan UU Penyiaran dan P3SPS KPI, bekerjasama dengan para pebisnis online yang makin menggurita, namun makin abai pada kepentingan pemirsa. 

Pertanyaannya, akankah pelanggaran ini akan terus dilakukan? Di manakah KPI sebagai representasi masyarakat penerima siaran?

Sajian tayangan televisi yang menarik sekaligus bermanfaat tentu sangatlah diharapkan. Meski saat ini kaum milenial terkesan lebih menyukai medsos, namun kenyataannya, televisi masih tetap menjadi salah satu pilihan utama pemirsa.

Indikator utama makin banyaknya pebisnis online beriklan di televisi, setidaknya menunjukkan masih tingginya rating dan share televisi. 

Penyeimbangan

Ke depan, harapannya para pebisnis serta penyelenggara siaran televisi menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kepentingan pemirsa. Meraih iklan sebanyak- banyaknya demi pengembangan bisnis adalah mutlak.

Namun, memperoleh keuntungan tanpa melanngar UU, Etika, serta mengorbankan pemirsa sangatlah penting.

Mengembalikan prinsip penyiaran dengan memperhatikan kepentingan pemirsa sehingga  akhirnya pemirsa memberikan akses dan berujung pada tingginya  rating serta share nya tentu sama- sama  mereka harapkan.

Ke depan simbiosis mutualistis dalam penyelenggaraan  penyiaran sangatlah  diperlukan. Dengan demikian keluhan menjadikan pemirsa pelengkap penderita tidak akan pernah terdengar lagi. Bahan jangan sampai justru makin santer.

Penulis: Drs Gunawan Witjaksana, M.SI/Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar