>

Meski Tanpa Dugderan, Mainan Tradisional Masih Diburu

  Rabu, 07 April 2021   Audrian Firhannusa
Mainan tradisional khas Dugderan masih diburu. (AYOSEMARANG.COM/ Audrian Firhannusa)

SEMARANG UTARA, AYOSEMARANG.COM -- Jika ada dugderan di Kota Semarang, tentu yang paling ikonik adalah dijualnya berbagai mainan tradisional.

Sebut saja seperti aneka macam gerabah, kapal otok-otok, gasing bambu, gangsing, topeng dan mainan kuda lumping.

Namun masalahnya sampai tahun ini dugderan juga belum bisa digelar sejak tahun 2020 lalu.

Kendati demikian, para pedagang yang kini tidak dapat melapak di dugderan seperti biasanya tetap berjualan mainan di beberapa tempat di Kota Semarang.

AYO BACA : Viral di Medsos, Mainan Truk Goyang Laris Manis Diburu Pembeli

Salah satunya ada di Jalan Soekarno-Hatta atau di depan gerbang Pasar Johar Baru.

Meski momentumnya tidak seperti tahun-tahun lalu, namun ternyata mainan tradisional ini masih diburu. Suhartini salah seorang warga Tlogosari ini adalah contoh kalau mainan tradisional itu belum sepenuhnya dilupakan.

“Ini cucu saya lewat kebetulan minta. Ini saya dulu juga mainan ini, nostalgia,” ujar perempuan berusia 50 tahun ini.

Cucu dari Suhartini tadi tertarik pada mainan kapal otok-otok. Dia senang ketika cucunya tertarik dengan mainan tradisional ini karena bisa mengimbangi penggunaan gawai.

AYO BACA : 2 Tahun Tanpa Dugderan, Pedagang Mainan Tradisional Minim Pendapatan

“Anak sekarang berbeda dengan zaman dulu,” tambahnya.

Harga mainan tradisional ini dari tahun ke tahun sebetulnya tidak jauh beda dan tetap terjangkau. Yakni mulai dari Rp10 ribu sampai Rp50 ribu. Tergantung pada jenis mainan dan ukurannya.

Selain Suhartini ada juga Dini. Ibu muda berusia 27 tahun itu mengantar anaknya membeli mainan tradisional khas Dugderan.

“Ada anak tetangga saya beli gangsing. Ini dia juga minta,” kata Dini.

Meskipun sebagai generasi 90-an, Dini bukanlah orang yang begitu akrab dengan mainan tradisonal ini. Sehingga ketika anaknya suka, dia jadi kagum karena belakangan hiburan anak-anak berasal dari gawai.

“Biasanya kan gini ini karena melihat temannya, setelah itu bosan. Tapi semoga saja tidak,” tutupnya.

AYO BACA : Selain Tawarih, Masjid Baiturrahman Semarang akan Gelar Kajian Subuh dan Berbuka


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar