>

Ramadan Sebagai Bulan Literasi

  Senin, 26 April 2021   Arie Widiarto
Ilustrasi sahur atau buka puasa (Ayobandung.com)

 

 


\nRasanya tidak berlebihan jika bulan Ramadan disebut sebagai bulan literasi.  Minimal ada dua alasan; Pertama, di bulan Ramadhan umat Islam memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an) di mana wahyu pertama kali yang diterima oleh Nabi Muhammad saat itu adalah surat al-‘Alaq 1-5. 

Dalam surat tersebut terdapat pesan untuk membaca (iqra’) dan menulis yang dilambangkan dengan pena (qalam). Disadari atau tidak,  pada setiap bulan Ramadan umat islam senantiasa meluangkan waktu lebih banyak untuk menbaca dan mengkaji Al-Qu’an secara lebih intens dibandingkan dengan bulan yang lain.  

Kedua, di bulan Ramadan, setelah umat Islam mengalami kemenangan dalam perang Badr, Nabi Muhammad SAW membuat kebijakan revolusioner dengan memerintahkan tawanan perang untuk mengajari umat Islam membaca dan menulis sebagai syarat kebebasan. 

Dari sini lah kemudian banyak umat Islam yang bisa membaca dan menulis. Salah satunya adalah Zaid bin Tsabit yang ditunjuk sebagai sekretaris wahyu. Setelah wahyu Alloh SWT itu ditulis dan terdokumentasi kemudian bisa dibaca oleh jutaan umat islam higga hari ini.   

AYO BACA : Puasa dan Pengendalian Diri

 Dengan berkaca dari dua hal tersebut, diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW memegang teguh ajaran iqra’. Dengan  ajaran iqra’ pula kemudian mampu membawa umat Islam dari jurang kebodohan (jahiliyah) menuju kehidupan yang beradab dan berpengetahuan tinggi. 

Puncak Literasi Tekstual dan Kontekstual 
\nSejarah Islam telah membuktikan bahwa pada masa Bani Abbasiyah, peradaban Islam begitu maju. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan mampu memunculkan sosok ilmuan muslim yang sangat luar biasa. Literasi menjadi kunci semua itu. Mereka tidak sekadar membaca teks dan konteks tetapi juga menuliskannya secara empiris. Alhasil, pemikirannya hingga kini masih dikenal luas dan menjadi pedoman bagi kehidupan dan perdaban oleh dunia. 

Semarak bulan Ramadan selalu membawa nuansa istimewa bagi semua umat Islam di berbagai belahan dunia. Tidak ketinggalan, pada bulan suci ini sebenarnya umat Islam di Indonesia dalam kondisi puncak dalam ber-literasi, baik secara tekstual maupun kontekstual. 

 Pertama, literasi tekstual. Di bulan ini, umat Islam mulai memiliki kesadaran lebih tinggi untuk banyak membaca. Mulai dari membaca Al-Qur’an hingga beragam majlis ta'lim dan berbagai kajian keagamaan diadakan di mana-mana. 

Pengajian kitab diadakan oleh para kyai dan ustadz di masjid-masjid dan di berbagai pondok pesantren. Kitab yang dikaji pun sangat beragam, mulai dari kitab Tafsir, Fiqh, dan Tasawuf dengan judul yang berbeda-beda. 

Kedua, literasi kontekstual. Pada bulan puasa, umat Islam tidak hanya membaca teks saja, tetapi juga membaca fenomena dan realita sosial (kontekstual) dengan beragam dinamika kehidupan yang tidak pernah selesai. 

AYO BACA : Good Looking Belum Tentu Good Attitude

Literasi kontekstual dapat dipahami sebagai kegiatan membaca ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis. Salah satu wujud literasi kontekstual yang paling mudah dilihat adalah adanya rasa kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama.  Misalnya, di bulan Ramadan banyak kita jumpai kegiatan bakti sosial, sedekah, infak, shodaqoh dan zakat dengan tujuan untuk meringankan beban sesamanya yang kurang mampu. Kegiatan berbagi menjadi aktivitas rutin dan selalu meningkat di masa bulan Ramadan. 

Kondisi demikian rasanya sangat dekat dan begitu mendalan di kala bulan Ramadan.   Fenomena literasi yang sulit ditemui selain di bulan Ramadan. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menyeimbangkan literasi tekstual dan kontekstual. Dengan adanya semangat literasi di bulan Ramadan ini nantinya tidak hanya mampu membentuk kesalehan pribadi tetapi juga kesalehan sosial. 


\nTentu saja kita semua  berharap semoga fenomena literasi yang begitu luar biasa ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan saja. Dibutuhkan peran dan kontribusi dari berbagai pihak untuk saling membahu dan menyemarakkan budaya literasi bagi masyarakat, mulai dari pemuka agama, pemerintah, maupun masyarakat secara umum. 
\nSemuanya harus bahu-menbahu untuk kembali menggerakkan  budaya literasi yang sangat diperlukan bagi kemajuan peradaban manusia Indonesia. Kita bisa membayangkan betapa indahnya jika kondisi literasi di Indonesia di esok hari sebagaimana aktivitas literasi yang ada di setiap bulan Ramadan. 

Momentum Ramadan jangan sampai berlalu tanpa jejak.  Untuk itu, kiranya sangat tepat jika di bulan Ramadhan ini menjadi momentum, selain untuk membersihkan diri (tazkiyah al-nafs), juga untuk kembali menyemarakkan budaya literasi di kalangan masyarakat, terlebih umat Islam di Indonesia untuk menggapai kebahagiaan hidup yang diinginkan. 

Ya, Ramadhan memang sarana kita menuju sebagai pribadi yang unggul ketika kita berhasil menjalaninya secara kaffah-seutuhnya. Tentunya kita tidak akan menyia-nyiakan kedatangannya begitu saja. Mari kita mengisinya dengan kegiatan literasi, baik yang tekstual maupun yang kontekstual  yang lebih berkualitas, baik kepada sesama manusia dan juga ibadah kepadaNya secara ikhlas, dengan hanya mengharap ridlo dan keridloanNya demi menggapai kebahagiaan  hidup  dunia dan akherat. Semoga. *

Penulis:    Suryanto, Ssos, M.Si;  Staf Pengajar  pada Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang

 

AYO BACA : Tarik Ulur Mudik Lebaran

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar